MAKALAH
HADITS-HADITS
TENTANG PENDIDIKAN
Pendidik Harus
Mempunyai Motivasi yang Mulia dan Pendidik Laksana Orang Tua terhadap Anaknya
Makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas:
Mata Kuliyah : Hadits
Tarbawi
Dosen Pengampu : Ahmad Rifa’i

Oleh:
1. Qonitatan
Yuhanidz 2021 111 342
2. Banaina
Zulfa 2021 111 344
Kelas I
TARBIYAH/PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISAM NEGERI
(STAIN)
PEKALONGAN
A. Pendidik Harus
Mempunyai Motivasi yang Mulia Hadist Rasulullah SAW
Artinya
: “Sesungguhnya orang-orang yang pertama diadili kelak di hari kiamat ialah
seorang lelaki yang mati syahid, lalu ia dihadapkan (kepada Allah) dan
dikenalkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, maka ia pun mengakuinya. Allah berfiman
kepadanya “Apakah yang telah engkau kerjakan melalui nikmat-nikmat itu? Ia
menjawab, “Aku telah gugur dijalan-Mu hingga mati syahid. “Allah menjawab,
“Engkau dusta, sebenarnya engkau berperang agar dikatakan sebagai pemberani,
dan ternyata hal itu telah dikatakan.” Kemudian Allah memerintahkan (kepada
para malaikat-Nya) untuk membawanya, kemudian ia diseret dengan muka dibawah
dan dilemparkan ke dalam neraka. Kedua, seorang lelaki yang belajar ilmu
kemudian menngajarkannya (kepada orang lain) dan ia gemar membaca Al-Qur’an.
Lalu ia dihadapkan (kepada Allah) dan dikenalkan (ditampakkan) kepadanya semua
nikmat-nikmat-Nya, maka ia pun
mengakuinya. Allah berfirman: “Apakah yang telah engkau lakukan terhadap
nikmat-nikmat itu? Ia menjawab, “Aku telah menuntut ilmu dan mengajarkannya (kepada
orang lain) dan aku telah membaca Al-qur’an demi Engkau.” Allah menjawab
“Engkau dusta, sebenarnya engkau belajar ilmu agar dikatakan sebagai orang
alim, dan engkau membaca Alqur’an agar dikatakan sebagai orang yang pandai
membaca Alqur’an, dan ternyata hal tersebut telah dikatakan.” Kemudian Allah
memerintahkan (kepada para malaikat-Nya) untuk membawanya, maka ia diseret
dengan muka di bawah lalu di lemparkan kedalam neraka.
1.
Maksud
hadist
Seseorang
yang mengamalkan ilmu dan beribadah tidak karena Allah (tidak ikhlas) dan
mengharapkan pujian dan imbalan dari manusia maka seseorang tadi akan
mendapatkan imbalan yaitu dilemparkan kedalam neraka.
2.
Nilai
Tarbawi
Pendidik
dalam islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan
anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi afektif, kognitif,
maupun psikomotorik. Tugas utama seorang pendidik adalah menyempurnakan,
membersihkan, mensucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan diri
kepada Allah.
Tugas
dan fungsi pendidik yaitu sebagai pengajar, sebagai pendidik, dan sebagai
pemimpin bagi anak didiknya.
Strategi
yang bisa digukan pendidik untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa adalah
sebagai berikut :
a. Menjelaskan
tujuan belajar kepada peserta didik
b. Hadiah
untuk siswa-siswa yang berprestasi
c. Saingan/kompetisi,
bahwa guru berusaha mengadakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan
prestasi belajar
d. Pujian
bagi siswa berprestasi
e. Hukuman
bagi siswa yang membuat kesalahan
f. Membanglkitkan
dorongan bagi anak dididik untuk belajar
g. Membentuk
kebiasaan belajar yang baik
h. Membantu
kesulitan anak didik secara individu atau kelompok
i.
Menggunakan
metode yang bervariasi
j.
Menggunakan
media yang baik dan sesuaai dengan tujuan pembelajaran.
Prinsip-prinsip motivasi belajar
a. Memuji
lebih baik dari pada mencela
b. Memenuhi
kebutuhan psikologi
c. Motivasi
intrinsik lebih efektif dari pada motivasi ekstrinsik
d. Keserasian
antara motivasi
e. Mampu
menjelaskan tujuan pembelajaran
f. Menumbuhkan
perilaku yang lebih baik
g. Mampu
mempengaruhi lingkungan
h. Bisa
diaplikasikan dalam wujud yang nyata.
B. Pendidik Laksana
Orang Tua terhadap Anaknya (Mempunyai Sifat Penyabar dan Kasih Sayang)
Artinya:”Dari
Abi Hurairah berkata,Rasululloh SAW berkata “sesungguhnya saya (Nabi) kepada
kamu semua itu kedudukannya seperti orang tua kamu dan mengajari kamu semua
ketika akan buang hajat jangan menghadap kiblat dan jangan membelakanginya,
jangan bersuci dengan tangan kanannya dan menyuruh (bersuci) dengan 3 batu dan
melarang menggunakan kotoran dan tulang-belulang”.
1.
Maksud
Hadits
Nabi Muhammad SAW adalah seorang
guru dan sekaligus orang tua bagi umat beliau, jadi yang dinamakan guru adalah
bagaikan orang tua ketika kita sedang mencari ilmu.
2.
Nilai
Tarbawi
Guru harus mengajarkan kepada anak
didiknya hal-hal yang baik, serta memberikan contoh yang baik terhadap anak
didiknya. Seorang guru juga harus menyayangi dan memperlakukan anak didiknya
seperti layaknya anak sendiri.
Rasululloh SAW. mencontohkan hal ini dengan menyatakan posisinya di
tengah-tengah para sahabat:
Sesungguhnya aku bagimu seperti
orang tua terhadap anaknya. (H.R. Abu Dawud, al-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu
Hibban)
Hadits
selanjutnya:
Artinya:”Dari Mua’awiyah bin Hakam
Assulami berkata: “suatu hari saya shalat bersama Rasulullah SAW.ada seorang
dari kaum yang bersin, maka saya berkata “Yarhamukallah” kemudian orang-orang
melemparkan pandangannya padaku, maka saya berkata “aduh mati ibuku, apa yang
sudah saya lakukan sehingga kalian memandangiku” maka mereka memukulkan tangan
pada paha mereka, aku melihat dia mendiamkanku.
Akan tetapi aku diam saja ketika Rasulullah shalat. Maka demi ayahku dan ibuku saya tidak pernah
melihat pengajar sebelum dan sesudahnya yang lebih baik cara mengajarnya, maka
demi Allah dia tidak membentakku, memukulku dan tidak menghinaku, kemudian
berkata: “Sesungguhnya di dalam shalat itu tidak layak ada sesuatu perkataan
manusia, bahwa sesungguhnya itu tasbih, takbir dan bacaan Al-Qur’an” seperti
sabda Rasulullah saya berkata “ Wahai Rasulullah sesungguhnya aku orang yang
baru lepas dari masa jahiliyah ketika Allah menurunkan Agama Islam”.”
1.
Maksud
Hadits
Ketika
Rasulullah shalat ada seorang dari kaumnya yang bersin, kemudian ada seorang
kaum lain yang mengucap “Yarhamukallah” tetapi kemudian orang itu langsung
ditengok oleh kaum lainnya sambil memukulkan tangan mereka ke paha. Kemudian
Rasulullah bersabda bahwa sebaik-baik pengajar adalah ayah dan ibu beliau, yang
tidak pernah membentak, memukul dan tidak menghina beliau. Selanjutnya
Rasulullah menerangkan, bahwa bacaan “Yarhamukallah” yang tadi diucapkan oleh
seseorang di atas merupakan bacaan tasbih, bukan perkataan manusia yang bisa
membatalkan shalat. Setelah kejadian tersebut orang itu berkata kepada
Rasulullah bahwa dia hanya seorang yang baru keluar dari masa jahiliyah.
2.
Nilai
Tarbawi
Seorang
guru tidak boleh mengajar peserta didik dengan cara kekerasan atau dengan cara
yang tidak lembut. Karena cara itu akan membuat anak didik menjadi takut dalam
menuntut ilmu dan juga susah untuk menerima apa yang diajarkan oleh guru. Oleh
karena itu hendaknya seorang guru mencoba menjadi peran sebagai orang tua bagi
peserta didik, sehingga dalam pengajarannya dengan cara lemah lembut dan penuh
dengan kasih sayang.
Hadits selanjutnya:
Artinya:”barang
siapa yang tidak mengasihi orang lain maka Allah ‘aza wajalla tidak akan mengasihinya”
1. Maksud
Hadits
Siapa
saja yang ingin mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT. maka harus mengasihi
sesamanya terlebih dahulu.
2. Nilai
Tarbawi
Jika
seorang guru ingin mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT maka seorang guru
harus memberi kasih sayang terhadap anak didiknya.
C.
Sifat-sifat
yang Harus Dimiliki Guru
Al-Ghazali
menyusun sifat-sifat yang harus dimiliki oleh guru sebagai berikut :
1. Guru
hendaknya memandang murid seperti anaknya sendiri : menyayangi dan memperlakukan
mereka seperti layaknya anak sendiri.
2. Dalam
menjalankan tugasnya, guru hendaknya tidak mengharapkan upah atau pujian,
tetapi hendaknya mengharapkan keridhoan Allah dan berorientasi mendekatkan diri
kepada-Nya. Guru hendajknya berpedoman pada prinsip nabi terungkap dalam
pernyataan berikut ini :
Hai
kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kamu sebagai upah bagi seruanku.
Upahku hanyalah dari Allah... (Q.S Hud ayat 29)
3. Guru
hendaknya memanfaatkan setiap peluang untuk memberui nasehat dan bimbingan
kepada murid bahwa tujuan menuntut ilmu ialah mendekatkan diri kepada Allah,
bukan memperoleh kedudukan atau kebanggaan duniawi.
4. Terhadap
murid yang bertingkah laku buruk, hendaknya guru menegurnya sebisa mungkin
dengan cara menyindir dan penuh kasih sayang, bukan dengan terus terang dan
mencela.
5. Hendaknya
guru tidak fanatik terhadap bidang studi
yang diasuhnya, lalu mencela bidang studi yang diasuh guru lain.
6. Hendaknya
guru memperhatikan fase perkembangan berpikir murid agar dapatv menyampaikan
ilmu sesuai dengan kemampuan berpikir murid.
Dan
janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang
belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu)...
(Q.S. An-Nisa ayat 5)
7. Hendaknya
guru memperhatikan murid yang lemah dengan memberinya pelajaran yang mudah dan
jelas, serta tidak menghantuinya dengan hal-hal yang serba sulit dan dapat
membuatnya kehilangan kecintaan terhadap pelajarann.
8. Hendaknuya
guru mengamalkan ilmu, dan tidak sebaliknya perbuatannya bertentangan dengan
ilmu yang diajarkannya kepada murid. Hendaknya guru tidak mendustakan firman
Allah :
Mengapa
kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan sedangkan kamu melupakan dirimu
sendiri... (Q.S. Al-Baqarah ayat 44)


0 comments:
Posting Komentar
Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.