-

Jumat, 01 Mei 2015

Pendidik Harus Mempunyai Motivasi yang Mulia dan Pendidik Laksana Orang Tua terhadap Anaknya

MAKALAH
HADITS-HADITS TENTANG PENDIDIKAN
Pendidik Harus Mempunyai Motivasi yang Mulia dan Pendidik Laksana Orang Tua terhadap Anaknya
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas:
Mata Kuliyah                                      : Hadits Tarbawi
Dosen Pengampu                                : Ahmad Rifa’i
        

Oleh:
1.      Qonitatan Yuhanidz   2021 111 342 
2.      Banaina Zulfa             2021 111 344
Kelas I
TARBIYAH/PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2012
A.    Pendidik Harus Mempunyai Motivasi yang Mulia Hadist Rasulullah SAW








Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang pertama diadili kelak di hari kiamat ialah seorang lelaki yang mati syahid, lalu ia dihadapkan (kepada Allah) dan dikenalkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, maka ia pun mengakuinya. Allah berfiman kepadanya “Apakah yang telah engkau kerjakan melalui nikmat-nikmat itu? Ia menjawab, “Aku telah gugur dijalan-Mu hingga mati syahid. “Allah menjawab, “Engkau dusta, sebenarnya engkau berperang agar dikatakan sebagai pemberani, dan ternyata hal itu telah dikatakan.” Kemudian Allah memerintahkan (kepada para malaikat-Nya) untuk membawanya, kemudian ia diseret dengan muka dibawah dan dilemparkan ke dalam neraka. Kedua, seorang lelaki yang belajar ilmu kemudian menngajarkannya (kepada orang lain) dan ia gemar membaca Al-Qur’an. Lalu ia dihadapkan (kepada Allah) dan dikenalkan (ditampakkan) kepadanya semua nikmat-nikmat-Nya, maka ia  pun mengakuinya. Allah berfirman: “Apakah yang telah engkau lakukan terhadap nikmat-nikmat itu? Ia menjawab, “Aku telah menuntut ilmu dan mengajarkannya (kepada orang lain) dan aku telah membaca Al-qur’an demi Engkau.” Allah menjawab “Engkau dusta, sebenarnya engkau belajar ilmu agar dikatakan sebagai orang alim, dan engkau membaca Alqur’an agar dikatakan sebagai orang yang pandai membaca Alqur’an, dan ternyata hal tersebut telah dikatakan.” Kemudian Allah memerintahkan (kepada para malaikat-Nya) untuk membawanya, maka ia diseret dengan muka di bawah lalu di lemparkan kedalam neraka.

1.      Maksud hadist
Seseorang yang mengamalkan ilmu dan beribadah tidak karena Allah (tidak ikhlas) dan mengharapkan pujian dan imbalan dari manusia maka seseorang tadi akan mendapatkan imbalan yaitu dilemparkan kedalam neraka.

2.      Nilai Tarbawi
Pendidik dalam islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik. Tugas utama seorang pendidik adalah menyempurnakan, membersihkan, mensucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Tugas dan fungsi pendidik yaitu sebagai pengajar, sebagai pendidik, dan sebagai pemimpin bagi anak didiknya.
Strategi yang bisa digukan pendidik untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut :
a.       Menjelaskan tujuan belajar kepada peserta didik
b.      Hadiah untuk siswa-siswa yang berprestasi
c.       Saingan/kompetisi, bahwa guru berusaha mengadakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajar
d.      Pujian bagi siswa berprestasi
e.       Hukuman bagi siswa yang membuat kesalahan
f.       Membanglkitkan dorongan bagi anak dididik untuk belajar
g.      Membentuk kebiasaan belajar yang baik
h.      Membantu kesulitan anak didik secara individu atau kelompok
i.        Menggunakan metode yang bervariasi
j.        Menggunakan media yang baik dan sesuaai dengan tujuan pembelajaran.
Prinsip-prinsip motivasi belajar
a.       Memuji lebih baik dari pada mencela
b.      Memenuhi kebutuhan psikologi
c.       Motivasi intrinsik lebih efektif dari pada motivasi ekstrinsik
d.      Keserasian antara motivasi
e.       Mampu menjelaskan tujuan pembelajaran
f.       Menumbuhkan perilaku yang lebih baik
g.      Mampu mempengaruhi lingkungan
h.      Bisa diaplikasikan dalam wujud yang nyata.

B.     Pendidik Laksana Orang Tua terhadap Anaknya (Mempunyai Sifat Penyabar dan Kasih Sayang)





Artinya:”Dari Abi Hurairah berkata,Rasululloh SAW berkata “sesungguhnya saya (Nabi) kepada kamu semua itu kedudukannya seperti orang tua kamu dan mengajari kamu semua ketika akan buang hajat jangan menghadap kiblat dan jangan membelakanginya, jangan bersuci dengan tangan kanannya dan menyuruh (bersuci) dengan 3 batu dan melarang menggunakan kotoran dan tulang-belulang”.
1.      Maksud Hadits
Nabi Muhammad SAW adalah seorang guru dan sekaligus orang tua bagi umat beliau, jadi yang dinamakan guru adalah bagaikan orang tua ketika kita sedang mencari ilmu.
2.      Nilai Tarbawi
Guru harus mengajarkan kepada anak didiknya hal-hal yang baik, serta memberikan contoh yang baik terhadap anak didiknya. Seorang guru juga harus menyayangi dan memperlakukan anak didiknya seperti layaknya anak sendiri.  Rasululloh SAW. mencontohkan hal ini dengan menyatakan posisinya di tengah-tengah para sahabat:

Sesungguhnya aku bagimu seperti orang tua terhadap anaknya. (H.R. Abu Dawud, al-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)




Hadits selanjutnya:
















Artinya:”Dari Mua’awiyah bin Hakam Assulami berkata: “suatu hari saya shalat bersama Rasulullah SAW.ada seorang dari kaum yang bersin, maka saya berkata “Yarhamukallah” kemudian orang-orang melemparkan pandangannya padaku, maka saya berkata “aduh mati ibuku, apa yang sudah saya lakukan sehingga kalian memandangiku” maka mereka memukulkan tangan pada paha mereka, aku melihat dia mendiamkanku.  Akan tetapi aku diam saja ketika Rasulullah shalat.  Maka demi ayahku dan ibuku saya tidak pernah melihat pengajar sebelum dan sesudahnya yang lebih baik cara mengajarnya, maka demi Allah dia tidak membentakku, memukulku dan tidak menghinaku, kemudian berkata: “Sesungguhnya di dalam shalat itu tidak layak ada sesuatu perkataan manusia, bahwa sesungguhnya itu tasbih, takbir dan bacaan Al-Qur’an” seperti sabda Rasulullah saya berkata “ Wahai Rasulullah sesungguhnya aku orang yang baru lepas dari masa jahiliyah ketika Allah menurunkan Agama Islam”.”
1.      Maksud Hadits
Ketika Rasulullah shalat ada seorang dari kaumnya yang bersin, kemudian ada seorang kaum lain yang mengucap “Yarhamukallah” tetapi kemudian orang itu langsung ditengok oleh kaum lainnya sambil memukulkan tangan mereka ke paha. Kemudian Rasulullah bersabda bahwa sebaik-baik pengajar adalah ayah dan ibu beliau, yang tidak pernah membentak, memukul dan tidak menghina beliau. Selanjutnya Rasulullah menerangkan, bahwa bacaan “Yarhamukallah” yang tadi diucapkan oleh seseorang di atas merupakan bacaan tasbih, bukan perkataan manusia yang bisa membatalkan shalat. Setelah kejadian tersebut orang itu berkata kepada Rasulullah bahwa dia hanya seorang yang baru keluar dari masa jahiliyah.
2.      Nilai Tarbawi
Seorang guru tidak boleh mengajar peserta didik dengan cara kekerasan atau dengan cara yang tidak lembut. Karena cara itu akan membuat anak didik menjadi takut dalam menuntut ilmu dan juga susah untuk menerima apa yang diajarkan oleh guru. Oleh karena itu hendaknya seorang guru mencoba menjadi peran sebagai orang tua bagi peserta didik, sehingga dalam pengajarannya dengan cara lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang.

Hadits selanjutnya:


Artinya:”barang siapa yang tidak mengasihi orang lain maka Allah ‘aza wajalla tidak akan mengasihinya”
1.      Maksud Hadits
Siapa saja yang ingin mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT. maka harus mengasihi sesamanya terlebih dahulu.
2.      Nilai Tarbawi
Jika seorang guru ingin mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT maka seorang guru harus memberi kasih sayang terhadap anak didiknya.

C.    Sifat-sifat yang Harus Dimiliki Guru
Al-Ghazali menyusun sifat-sifat yang harus dimiliki oleh guru sebagai berikut :
1.      Guru hendaknya memandang murid seperti anaknya sendiri : menyayangi dan memperlakukan mereka seperti layaknya anak sendiri.
2.      Dalam menjalankan tugasnya, guru hendaknya tidak mengharapkan upah atau pujian, tetapi hendaknya mengharapkan keridhoan Allah dan berorientasi mendekatkan diri kepada-Nya. Guru hendajknya berpedoman pada prinsip nabi terungkap dalam pernyataan berikut ini :

Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kamu sebagai upah bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah... (Q.S Hud ayat 29)
3.      Guru hendaknya memanfaatkan setiap peluang untuk memberui nasehat dan bimbingan kepada murid bahwa tujuan menuntut ilmu ialah mendekatkan diri kepada Allah, bukan memperoleh kedudukan atau kebanggaan duniawi.
4.      Terhadap murid yang bertingkah laku buruk, hendaknya guru menegurnya sebisa mungkin dengan cara menyindir dan penuh kasih sayang, bukan dengan terus terang dan mencela.
5.      Hendaknya guru tidak fanatik terhadap  bidang studi yang diasuhnya, lalu mencela bidang studi yang diasuh guru lain.
6.      Hendaknya guru memperhatikan fase perkembangan berpikir murid agar dapatv menyampaikan ilmu sesuai dengan kemampuan berpikir murid.

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang  belum sempurna akalnya harta (mereka yang  ada dalam kekuasaanmu)... (Q.S. An-Nisa ayat 5)
7.      Hendaknya guru memperhatikan murid yang lemah dengan memberinya pelajaran yang mudah dan jelas, serta tidak menghantuinya dengan hal-hal yang serba sulit dan dapat membuatnya kehilangan kecintaan terhadap pelajarann.
8.      Hendaknuya guru mengamalkan ilmu, dan tidak sebaliknya perbuatannya bertentangan dengan ilmu yang diajarkannya kepada murid. Hendaknya guru tidak mendustakan firman Allah :

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri... (Q.S. Al-Baqarah ayat 44)



0 comments:

Posting Komentar

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.

By :
Free Blog Templates