MAKALAH
BERFIKIR DAN
MEMORY
Makalah
ini dibuat untuk memenuhi tugas :
Mata
Kuliah :
Pengantar Psikologi
Dosen Pengampu : Siti Mumun Muniroh, S.Psi.M.A.

Disusun
oleh :
Prodi /Clas :Tarbiyah (PAI) /H
1.
Yulimah
Sukhibah 2021111340
2.
Ana
Mazidah 2021111341
3.
Desi
Atinasikhah 2021111343
4.
Banaina
Zulfa 2021111344
5.
M.
Teguh Santoso 2021111346
6.
M.
Rifqi Arifudin 2021111373
|
JURUSAN
TARBIYAH
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
PEKALONGAN
2011
DAFTAR
ISI
BERFIKIR DAN MEMORY
I.
Bab Pendahuluan 2
II.
Pembahasan
1.
Berfikir 4
2.
Memory
III. Penutup…...………………………………………………....................................9
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………..........................................10
BERFIKIR
DAN MEMORY
BAB I
PENDAHULUAN
Segala macam belajar melibatkan ingatan. Jika kita tidak mengingat
apapun mengenai suatu pengalaman, maka kita tidak dapat mengambil suatu
pelajaran yang terdapat dalam pengalaman yang telah dialami. Kehidupan ini
merupakan suatu pengalaman yang harus diingat dan pengalaman ini berkaitan
antara satu dengan yang lainnya. Dalam melakukan aktifitas mengingat (memory),
seseorang selalu berfikir atas apa yang diingatnya dalam otak manusia. Dengan seperti
itu antara mengingat dan berfikir sesuatu yang dialami akan bertahan lama.
Dalam makalah ini akan mengemukakan berbagai macam teori tentang berfikir dan memory (ingatan).
BAB II
PEMBAHASAN
1.
BERFIKIR
A.
Pengertian
Berfikir
Berfikir adalah
suatu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada
suatu kejadian.[1] Plato beranggapan
bahwa berfikir adalah berbicara dalam hati. Sehubungan dengan Plato adalah
pendapat yang mengatakan bahwa berfikir adalah aktivitas itu sifatnya ideasional, bukan sensoris dan bukan motoris walaupun
dapat disertai oleh kedua hal itu, berfikir menggunakan abstraksi – abstraksi
atau “Ideas”.[2]
Pendapat beberapa aliran Psikologi tentang
berfikir, diantaranya :
1)
Psikologi Asosiasi mengemukakan bahwa
berfikir itu tidak lain jalannya tanggapan – tanggapan yang dikuasai oleh hukum asosiasi. Aliran ini berpendapat bahwa dalam alam kejiwaan
yang penting adalah terjadinya, tersimpannya dan bekerjanya tanggapan. Pendapat
inilah yang menimbulkan pendidikan dan pengajaran bersifat intelektualitas dan
verbalitas. Tokoh yang terkenal dalam aliran ini adalah John Locke (1632 –
1704) dan Herbart (1770 – 1841).
2)
Aliran Behaviorisme, berpendapat bahwa
berfikir adalah gerakan – gerakan reaksi yang dilakukan oleh urat saraf dan
otot – otot bicara seperti halnya mengungkapkan buah pikiran. Pada aliran ini
unsur yang paling sederhana adalah reflex, yaitu gerakan atau reaksi tak sadar
yang disebabkan adanya perangsang dari luar.
3)
Psikologi Gestalt berpendapat bahwa
berfikir adalah seperti proses gejala psikis yang lain, yaitu merupakan suatu
kebulatan dan keaktifan psikis yang abstrak dan prosesnya tidak dapat diamati
dengan alat panca indra.
Berfikir erat
hubungannya dengan daya – daya jiwa yang lainnya. Dan juga lebih menekankan
pada tujuan berfikir, yaitu meletakan hubungan antara bagian – bagian
pengetahuan kita, berupa tanggapan, ingatan, pengertian dan perasaan.
Faktor yang dapat
mempengaruhi jalannya berfikir adalah bagaimana seseorang melihat atau memahami
masalah, situasi yang sedang dialami seseorang dan situasi luar yang dihadapi,
pengalaman dan bagaimana kecerdasannya. Dan terkadang masalah yang sama bisa
menimbulkan adanya pemecahan yang berbeda pada setiap orang, sehingga hasilnya
pun berbeda.
B.
Jenis, Tipe
dan Pola Berfikir[3]
Menurut Morgan,
jenis berfikir dibagi menjadi dua, yaitu :
1)
Berfikir
Autistik, yaitu proses berfikir yang sangat pribadi menggunakan simbol – simbol dengan makna
yang sangat pribadi, seperti bermimpi.
2)
Berfikir
Langsung, yaitu berfikir untuk memecahkan masalah.
Menurut Floyd L. Ruch ada tiga
macam tipe berfikir, yaitu :
1)
Berfikir
Deduktif, yaitu proses berfikir dari yang umum menuju khusus.
2)
Berfikir
Induktif, yaitu proses berfikir menarik kesimpulan dari berbagai kejadian
dengan observasi.
3)
Berfikir
Evaluatif atau Kritis
Menurut Kartono
ada enam pola berfikir, yaitu :
1)
Berfikir Konkrit,
yaitu berfikir dalam dimensi ruang, waktu dan tempat tertentu.
2)
Berfikir Abstrak,
yaitu berfikir dalam ketidak berhinggaan, sebab bisa dibesarkan atau
disempurnakan keluasannya.
3)
Berfikir
Klasifikator, yaitu berfikir mengenai klasifikasi atau pengaturan menurut kelas
– kelas tingkat tertentu.
4)
Berfikir
Analogis, yaitu berfikir untuk mencari hubungan antar peristiwa atas dasar
kemiripannya.
5)
Berfikir Ilmiah,
yaitu berfikir dalam hubungan yang luas dengan pengertian yang lebih komplek
disertai pembuktian.
6)
Berfikir Pendek,
yaitu lawan dari berfikir ilmiah, yang terjadi secara lebih cepat, dangkal dan
seringkali tidak logis.
Ada tiga langkah
proses berfikir, yaitu :
1)
Pembentukan
Pengertian , atau lebih tepatnya disebut pengertian logis.
2)
Pembentukan
Pendapat, yaitu meletakan hubungan antara dua buah pengertian atau lebih.
3)
Penarikan
Kesimpulan, yaitu suatu pendapat baru yang dibentuk dari pendapat – pendapat
lain yang telah ada.
1)
Berfikir dengan
Pengalaman, menghimpun berbagai pengalaman untuk pemecahan masalah yang
dihadapi.
2)
Berfikir Representatif
, sangat tergantung pada ingatan dan tanggapan untuk memecahkan masalah yang
dihadapi.
3)
Berfikir Kreatif
, dapat menghasilkan suatu penemuan yang baru.
4)
Berfikir
Reproduktif , tidak menghasilkan sesuatu yang baru, tetapi hanya sekedar memikirkan
kembali dan mencocokan dengan sesuatu yang telah difikirkan sebelumnya.
5)
Berfikir Rasional
, untuk menghadapi suatu situasi dan memecahkan masalah degunakan dengan cara
berfikir logis serta dengan keaktifan akal.
1)
Berfikir Konkret
Berfikir
membutuhkan pengertian yang konkret, pada umumnya pada tingkat berfikir ini
dimiliki oleh anak kecil dan hendaknya pelajaran disajikan dengan peragaan
langsung.
2)
Berfikir Skematis
Dalam memecahkan
masalah dibantu dengan penyajian bahan – bahan skema, coretan, diagram, simbol dan
sebagainya. Agar dapat memperlihatkan hubungan persoalan yang satu dengan yang
lainnya.
3)
Berfikir Abstrak
Berhadapan dengan
situasi dan masalah yang tidak wujud atau ada secara konkret. Akal pikiran kita
bergerak bebas dalam alam abstrak.
F.
Factor –
Faktor Yang Menyebabkan Manusia Tidak Mau Berfikir
Dalam Al – Qur’an
Allah memberitakan keadaan orang – orang yang terbiasa berfikir dangkal.[7]
يَعلَمُونَ ظَاهِراً مِنَ
الحَيَوةِ الدُّنيَا وَهُم عَنِ الآخِرَةِ هُم غاَفِلُونَ. أَوَلَم يَتَفَكَّرُوا
فيِ
أَنفُسِهِم مَا خَلَقَ اللهُ السَّمواتِ وَ الأَرضَ وَمَا يَينَهُمَآ إلاَّ بِالحَقِّ
وَ أَجَلٍ مُسَمّي وَ
إِنَّ كَثِيراً مِنَ النَّاسِ بِلِقَآئِ رَبِّهِم لَكَافِرُونَ.
Artinya :
7. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia;
sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.
8. Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri
mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara
keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan
sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan
dengan Tuhannya. (Ar Ruum : 7 – 8)
Diantara faktor
yang menyebabkan manusia tidak mau berfikir, diantaranya :
1)
Kelumpuhan Mental
2)
Kemalasan Mental
3)
Anggapan bahwa
berfikir secara mendalam tidak baik
4)
Berlepas diri
dari tanggung jawab
5)
Tidak berfikir
akibat terlenakan oleh kehidupan sehari – hari
2.
Memory
(Ingatan)
A. Pengertian Memory (Ingatan)
Memory adalah kekuatan jiwa untuk menerima,
menyimpan dan memproduksikan kesan – kesan atau retensi informasi.[8]
Tanpa memory manusia tidak dapat menghubungkan kejadian sekarang dan masa lalu.
B.
Proses Dan Sifat Ingatan
|
![]() |
|
|
|
|
|
Pada skema di atas terdapat kalimat beberapa sifat
ingatan,[9]
yaitu :
1)
Ingatan cepat, artinya mudah dalam menerima
kesan – kesan.
2)
Ingatan luar artinya, dapat menyimpan
banyak kesan.
3)
Ingatan teguh, artinya dapat menyimpan
kesan dalam waktu yang lama (tidak mudah lupa).
4)
Ingatan setia, artinya kesan yang pernah
diterima dapat dengan mudah diproduksikan secara lancar.
5)
Ingatan Mengabdi, artinya kesan yang pernah
dicamkan dapat dengan mudah direproduksikan secara lancar.
1)
Merekonstruksi
Masa Lalu
Tidak seperti alat perekam lainnya, memori
manusia sanagat selektif dan bersifat rekonstruktif. Seseorang sering kali
mengalami kesalahan mengatribusi sumber, yakni ketidakmampuan membedakan
informasi yang tersimpan saat suatu peristiwa terjadi dengan yang ditambahkan
kemudian. Sifat memory yang rekonstruktif menyebabkan memory dapat mengalami kontabulasi,
yakni ketidakmampuan membedakan peristiwa imajiner dengan peristiwa yang benar
– benar terjadi. Memory yang terkontabulasi dapat dirasakan secara emosional,
terlihat nyata, meskipun peristiwa tersebut sesungguhnya tidak pernah terjadi.
2.)
Memahami
Memory
Daya ingat kita tergantung pada jenis kinerja
yang membutuhkan kemampuan tersebut, pada pengujian memory eksplisit
(pemanggilan memori secar sadar), identifikasi (recognition) seringkali lebih baik dibandingkan memanggil kembali (recall) dalam pengujian memory implisit,
yang diukur melalui metode pengukuran tidak langsung seperti priming dan metode
pembelajaran ulang (relearning method).
Pengalaman masa lalu dapat mempengaruhi pemikiran atau tindakan saat ini,
meskipun pengalaman – pengalaman tersebut tidak diingat secara sadar.
3.)
Model Memori
Tiga Kotak
a.
Register Sensorik
Pada model kotak, informasi baru yang
diterima harus menjalani pemberhentian singkat di register sensorik, gerbang masuk ke dalam memory, yang selama
sesaat menahan informasi tersebut dalam bentuk kesan visual.
Register sensorik berperan sebagai ember penampung, menahan
informasi dengan singkat akurasi yang tinggi dan memberi kesempatan untuk
memutuskan apakah suatu informasi perlu diperhatikan atau tidak.
b.
Memori Jangka Pendek (Short Term Memory /STM)
Menahan informasi baru kira – kira 30
detik. STM memiliki kapasitas yang terbatas, namun kapasitas tersebut dapat diperbesar
jika kita menyimpan informasai dalam unit yang lebih besar, yakni bongkahan (chunk).
c.
Memory Jangka Panjang (Long Term Memory / LTM),
Menyimpan sejumlah besar informasi yang
harus diorganisasikan sehingga informasi – informasi tersebut tersimpan dengan
teratur. Banyak model LTM yang mempresentasikan jejaring informasi terkait
konsep yang saling berhubungan , cara orang menggunakan jaringan tersebut
tergantung dari pengalaman dan tingkat pendidikan yang dimiliki. Isi memory
jangka panjang, yaitu:
a)
Episodik
Memory, yaitu bagian memory jangka panjang
yang menyimpan gambaran atau kesan pengalaman pribadi kita.
b)
Semantic
Memory, yaitu bagian memory jangka panjang
yang menyimpan kenyataan dan pengetahuan umum.
c)
Deklaratif
Memory, yaitu bagian memory jangka panjang
yang melibatkan pengetahuan bahwa sesuatu adalah benar.[11]
d)
Prosedural Memory (mengetahui bagaimana –
“know how”), merupakan memory yang berisi cara melakukan suatu tindakan
tertentu.
4.)
Bagaimana
Kita Mengingat
Untuk dapat mengingat suatu informasi, kita
harus melakukan proses encoding
(penyandian) terhadap informasi itu terlebih dahulu (memasukan informasi ke
dalam memory). Memory dapat meningkatkan ingatan dengan
mengelaborasikan proses encoding dan
membuat suatu materi menjadi lebih bermakna.
5.)
Mengapa Kita
Lupa
Informasi yang terdapat pada register
sensorik dan memory jangka pendek akan hilang apabila kita
tidak memproses informasi tersebut lebih lanjut.
Cue – Dependent forgetting (kelupaan karena kurangnya petunjuk),
dapat terjadi apabila petunjuk untuk mengingat kembali tidak tersedia. Amnesia (hilangnya informasi pribadi) disebabkan oleh kerusakan pada
bagian otak. Amnesia psikogenik merupakan jenis amnesia yang melibatkan
hilangnya identitas pribadi dan diakibatkan oleh penyebab psikologis. Amnesia
traumatic adalah melupakan suatu peristiwa traumatic dalam kurun waktu yang
lama.
D.
Diversity
and Education (Cultur, Gender dan Memory)
Sebuah cultur akan membuat anggotanya sensitive
terhadap objek, kejadian dan strategi tertentu yang pada gilirannya dapat
mempengaruhi sifat memory. Studi lintas cultural menemukan perbedaan
cultural dalam penggunaan strategi organisasional. Kegagalan menggunakan strategi
organisasional yang tepat untuk mengingat informasi seringkali disebabkan oleh pendidikan
sekolah yang tepat
Gender adalah aspek lain dari diversitas sosiokultural yang kurang
diperhatikan dalam riset memory hingga saat ini. Para riset telah menemukan adanya perbedaan gender dalam memory.[12]
Wanita lebih baik memory episodiknya, dari pada pria. Yaitu memory untuk kejadian personal yang mencakup waktu dan tempat kejadian. Dan dalam hal tugas yang memerlukan transformasi visual – spatial
working memory, pria lebih baik.
E. Gangguan Dalam Ingatan
Secara
fisiologis, memory tersimpan di dalam otak dalam “wujud” berupa perubahan
sensitivitas dari transmisi sinyal, sebagai akibat dari aktivitas yang telah
dialami sebelumnya. Percobaan juga menunjukkan bahwa memory dapat terbentuk
bukan hanya di otak, melainkan di sistem bawah otak, misalnya di medulla
spinalis.
Dengan singkat, dapat dikatakan bahwa memory jangka pendek terbentuk dari
mekanisme habituasi dan sensitisasi reseptor neurotransmiter di otak. Sementara
itu, memori jangka panjang disebabkan oleh pembentukan sirkuit neuronal yang
baru, peningkatan tempat pelepasan vesikel
neurotransmiter di membran prasinaps, atau perubahan struktur dendrit. Di
dunia kedokteran dikenal beberapa macam gangguan pada fungsi ingatan.
Kebanyakan gangguan fungsi ingatan ini disebabkan oleh :
1)
Penyakit degeneratif, terutama
Alzheimer dan Huntington
2)
Penyalahgunaan alkohol, menimbulkan
sindrom Korsakof. Sindrom
korsakoff pada umumnya diakibatkan kekurangan nutrisi, misalnya tiamin.
Gangguan ini disebabkan kekurangan beberapa neurotransmiter, seperti
asetilkolin, GABA, dan glutamat.
3)
Trauma kepala
4)
Gangguan lobus temporal cerebrum dan
sistem limbik
5)
Ensefalitis, atau inflamasi otak,
misalnya akibat infeksi virus herpes dan beberapa jenis bakteri.
6)
Gangguan vaskularisasi cerebrum,
termasuk diantaranya pendarahan subarachnoid.
7)
Kekurangan oksigen, misalnya akibat
infark miokard, keracunan CO, dan henti nafas.
8)
Tumor kepala
E.
Jenis
Gangguan Memory :
1) Amnesia
Gangguan ingatan yang paling umum terjadi. Gangguan ini diduga terutama
disebabkan oleh kerusakan dari sistem limbik bilateral. Meskipun demikian,
perlu diingat bahwa sistem limbik bukanlah tempat penyimpanan memory. Sistem
limbik berperan dalam mengintegrasikan memory yang tersimpan luas di korteks
serebri agar runut dan mudah dipanggil. Gangguan terjadi pada memory deklarasi,
bukan pada memoriy prosedural. Amnesia dapat
dibagi menjadi dua jenis, yakni :
a. Amnesia Retrograde
Ketidakmampuan
seseorang mengingat pengalaman dan kejadian yang terjadi sebelum keadaan
amnesia terjadi. Keadaan amnesia ini terlihat dari seseorang lupa akan kejadian
yang baru saja terjadi, serta memory-memory jangka menengah. Memory jangka
panjang tidak terpengaruh.
Gangguan ini
disebabkan oleh lesi pada hipokampus (yang juga menyebabkan amnesia
anterograde), namun secara spesifik disebabkan oleh gangguan di daerah talamus. Seseorang
pasien yang datang ke instalasi gawat darurat setelah mengalami kecelakaan dan
mengaku lupa akan identitas dirinya sendiri hampir dipastikan bukan merupakan
suatu gangguan ingatan akibat faktor-faktor neurologi. Kejadian ini
disebut dengan fugue state, dan cenderung
akibat trauma psikologis.
b. Amnesia Anterograde
Jenis
amnesia yang fatal karena tidak mampu mengingat, mempertahankan, dan memanggil
pengetahuan baru setelah keadaan amnesia terjadi.
Contoh kasus Amnesia Anterograde adalah ketidakingatan penderita
bahwa ia baru saja makan beberapa menit lalu, atau melupakan kejadian
penting beberapa jam yang baru saja terjadi. Kasus yang cukup mengenaskan
adalah ketika Anda bertemu dengan seorang penderita amnesia ini, lalu Anda
pergi selama 5 menit dan kembali lagi, namun orang ini tidak mengenali Anda.
Amnesia Anterograde
sebagian besar disebabkan oleh lesi pada bagian hipokampus sistem limbik.
Hipokampus diduga merupakan pusat “reward-and-punishment”
yang merupakan mekanisme penting dalam proses pembentukan memoy.
2)
Dementia
Gangguan
yang selain mempengaruhi ingatan juga mempengaruhi kemampuan berbahasa, tingkat
konsentrasi, dan kemampuan memecahkan masalah. Dementia dapat diakibatkan oleh
efek penyalahgunaan
obat-obatan dan alkohol terhadap kinerja otak. Dementia
umumnya ditandai dengan kehilangan memory jangka pendek. Dementia ada yang
bersifat reversibel dan ireversibel. Meskipun Dementia banyak diderita oleh
orang berusia lanjut, semua orang dapat mengalami Dementia.
3.) Alzheimer’s Disease
Pembahasan
mengenai Alzheimer’s tidak dapat dilepaskan dari Dementia, karena Dementia
cenderung diakibatkan oleh Alzheimer’s Disease. Alzheimer’s Disease diakibatkan
adanya gangguan di daerah temporal medial. Namun demikian, secara umum
Alzheimer’s Disease menyebabkan atrofi jaringan saraf terutama di korteks
serebri dan daerah subkorteks.
4.) Sindrom Wernicke-Korsakoff
Sindrom ini
ditemukan oleh seorang fisiolog Rusia, bernama Sergei Korsakoff pada tahun
1889. Sindrom ini adalah manifestasi dari kekurangan vitamin B1 (tiamin), atau penyakit
beri-beri. Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan juga menyebabkan sindrom ini.
Sindrom ini menyebabkan penderitanya mengalami hilang ingatan, kesulitan
menceritakan runutan kejadian, menghasilkan cerita yang sesungguhnya tidak terjadi
akibat disorganisasi memory (konfabulasi), dan tidak mampu membentuk memory
baru. Selain itu sindrom ini juga menyebabkan gangguan koordinasi otot (ataksia), tremor di ekstremitas bawah,
dan perubahan kemampuan visual (seperti pergerakan mata yang tidak normal dan
penglihatan ganda). Sindrom ini terkait erat dengan Amnesia Anterograde dalam hal informasi deklaratif.
5.) Memory-Slip
Bukan
merupakan gangguan ingatan secara sepenuhnya, melainkan gangguan konsentrasi
dalam menyikapi hal yang sedang dikaji. Misalnya ketika Anda melupakan dimana
Anda meletakkan kunci rumah atau kunci kendaraan. Bagian
frontal otak pada seseorang yang telah berusia lanjut akan mengalami degenerasi sehingga penyimpanan memory
temporer akan lebih mudah terlupakan.[13]
F.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ingatan diantaranya yaitu :
1) Ingatan Jangka Pendek (STM)
Ingatan yang disimpan di dalam STM berlangsung kurang dari 30 detik. Jika disajikan secara serial maka jumlah aitem yang dapat disimpan dalam STM adalah antara 2 sampai 5 aitem. Secara umum STM memiliki kapasitas mengingat objek berkisar 7 aitem, atau antara 5 sampai dengan 9 aitem. Informasi yang disimpan dalam STM biasanya berupa kode auditori (bunyi), tetapi dapat pula menggunakan kode semantik dan visual.
2) Efek posisi serial (the serial position effect)
Sejumlah informasi (aitem atau objek) yang disajikan secara berurutan akan mempengaruhi ingatan seseorang. Aitem-aitem atau objek-objek yang berada pada posisi atau urutan bagian awal (depan) dan juga akhir (belakang) akan cenderung diingat lebih baik daripada aitem-aitem atau objek-objek yang berada pada urutan di tengah. Karena informasi atau aitem-atem yang terletak di bagian awal akan lebih dulu memasuki ingatan jangka pendek, sehingga memungkinkan dilakukan pengulangan di dalam pikiran secara memadai untuk kemudian dipindahkan ke dalam ingatan jangka panjang. Bagi informasi yang terletak diurutan tengah, ketika memasuki ingatan jangka pendek bersamaan waktunya dengan proses pengulangan informasi di bagian depan, sehingga hanya sedikit kapasitas bagi pengulangan kembali informasi yang terletak di tengah. Dengan demikian informasi yang terletak di tengah urutan belum sampai dipindahkan ke ingatan jangka panjang. Sementara itu, informasi yang terletak di bagian akhir cenderung diingat lebih baik, sebab informasinya masih berada pada ingatan jangka pendek pada waktu di-recall.
3) Ingatan jangka panjang (STM)
Ingatan jangka panjang ini meliputi proses penyimpanan informasi yang bersifat lebih permanen (berlangsung lebih lama dari beberapa menit sampai waktu yang tidak terbatas). Selain itu, informasi akan disimpan dalam bentuk maknanya atau semantik.
4) Keahlian (expertise)
Keahlian dalam suatu bidang memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap ingatan seseorang. Orang akan dapat mengingat bahan dan informasi baru dengan baik apabila ia memiliki latarbelakang pengetahuan yang cukup baik di bidang tersebut. Hal ini terjadi karena latar belakang pengetahuan keahlian seseorang dapat menjadi isyarat mental (mental cues). Isyarat mental ini merupakan bagian dari susunan pengetahuan yang sudah dipelajari secara teliti dan diorganisasikan dengan baik. Isyarat mental dapat menimbulkan gambaran yang jelas mengenai suatu objek di dalam mental atau pikiran seseorang. Selain itu, isyarat mental juga memiliki sifat yang lebih menonjol, sehingga tidak mudah dikacaukan oleh informasi yang lain.
5) Pemberian kode khusus (encoding specificity)
Prinsip pemberian kode khusus ialah seseorang akan mudah mengingat kembali suatu peristiwa yang terjadi hanya jika sesuai dengan bekas yang ditemukan di dalam ingatannya. Dengan kata lain, orang akan mengingat kembali informasi dengan lebih baik jika situasinya sama dengan situasi pada waktu ia melakukan proses pemberian kode sebelumnya. Suatu informasi yang disimpan dalam bentuk makna atau semantik akan diingat kembali lebih efektif apabila tugas yang diminta juga berbentuk makna, dan bukan intonasinya.
6) Emosi atau afek
Aktivitas mengingat juga dipengaruhi oleh keadaan emosi seseorang. Pertama, dalam mengingat kata-kata maka orang cenderung mengingat lebih baik pada kata-kata yang menyenangkan daripada kata-kata yang menyedihkan. Fenomena ini disebut Pollyanna principles, yaitu satuan informasi yang secara emosi menyenangkan biasanya diproses lebih efisien dan tepat daripada informasi yang mengandung kesedihan. Kedua, kesamaan suasana hati (mood congruence), yaitu ingatan menjadi lebih baik jika bahan yang dipelajari sama dengan suasana hati yang berlangsung pada saat ini. Ketiga, ketergantungan dengan suasana hati (state dependence). Ketergantungan ini terjadi apabila seseorang mengingat informasi lebih baik dalam suasana hati sekarang yang sesuai dengan suasana hati pada saat bahan itu pertama kali dipelajari atau diterima.
7) Very-long-term memory (VLTM)
VLTM adalah ingatan yang berlangsung lebih dari tiga bulan lamanya. Jenis ingatan ini sebenarnya merupakan perluasan dari jenis ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang. Khusus ingatan jangka panjang dapat berlangsung dari satu menit sampai dengan seumur hidup. Pemikiran ini terlalu luas, sehingga sebagian ahli psikologi mencoba memahami informasi yang disimpan di dalam ingatan untuk jangka waktu yang sangat panjang. Sebab, perbedaan interval waktu (satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, dan puluhan tahun) akan mempengaruhi ketepatan mengingat kembali.
8) Stres
Elizabeth Loftus berpendapat bahwa perasaan cemas dapat mempersempit fokus perhatian seseorang sehingga berbagai petunjuk penting yang menuntun memori menjadi hilang. Ketika perasaan cemas sudah membuat kita kehilangan petunjuk-petunjuk yang berguna, kita akan semakin sulit untuk menyimpan memori ataupun mengingat kembali apa yang telah tersimpan dalam memori.[14]
9) Kondisi fisik yang lelah
Kondisi fisik yang lelah juga sangat mempengaruhi daya serap informasi yang masuk, dengan demikian secara langsung mempengaruhi kemampuan mengingat. Para ahli mengetahui bahwa pikiran dan tubuh saling mempengaruhi satu sama lain. Kondisi fisik yang lelah bisa disebabkan oleh waktu istirahat yang kurang atau jam belajar yang terlalu panjang.
BAB III
PENUTUP
Dari uraian
makalah tersebut mengungkapkan bahwa memory dan berfikir,
mempunyai pengaruh terhadap pemecahan masalah yang dihadapi oleh seseorang.
Dalam proses berfikir, setiap manusia dapat memiliki pandangan dan pemecahan
permasalahan yang berbeda – beda. Dengan memory dan daya ingat yang kuat,
manusia dapat menghubungkan suatu kejadian dengan kejadian yang lain dalam
kurun waktu yang berbeda
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmadi, Abu, 1992.
“Psikologi Umum”, Jakarta : Rineka Cipta.
Carole, Wade dan Carris
Tavris, 2007. “Psychology”, Jakarta :
Erlangga.
http://www.scribd.com/doc/32210793/Gangguan-Pada-Memori
Purwanto, Ngalim,
1992. “Psikologi Pendidikan”, Cet. Ke-
5, Bandung : Remaja Rosdakarya.
Santrock, John W. 2008.
“Psikologi Pendidikan II”, Jakarta : Kencana.
Suryabrata, Sumardi, 1993.
“Psikologi Pendidikan”, Cet. Ke- 6, Edisi I, Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Yahya, Harun, 2003. “Deep
Thinking : Bagaimana Seorang Muslim Berfikir”, Jakarta : Robbani Press.
[1] Ngalim
Purwanto, “Psikologi Pendidikan”, Cet. Ke- 5, (Bandung : Remaja Rosdakarya,
1992), hal. 43.
[2] Sumardi Suryabrata, “Psikologi Pendidikan”, Cet. Ke- 6, Edisi I,
(Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993), hal. 54
[4] Sumardi
Suryabrata, “Psikologi Pendidikan”, Cet. Ke- 6, Edisi I, (Jakarta : Raja
Grafindo Persada, 1993), hal. 55 – 56.
[5] Abu Ahmadi,
“Psikologi Umum”, (Jakarta : Rineka Cipta, 1992), hal. 179
[6] Ibid,. hal.
180
[7] Harun Yahya,
“Deep Thinking : Bagaimana Seorang Muslim Berfikir”, (Jakarta : Robbani Press,
2003), hal. 31.
[8] Sumardi
Sryabrata, “Psikologi Pendidikan”, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993),
hal. 44.
[9] [9] Abu Ahmadi, “Psikologi Umum”,
(Jakarta : Rineka Cipta, 1992), hal. 70.
[10] Wade Carole
dan Carole Carris, “Psychology”, (Jakarta : Erlangga, 2007), hal. 52
[12] John W.
Santrock, “Psikologi Pendidikan II, (Jakarta : Kencana, 2008), hal. 330.



0 comments:
Posting Komentar
Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.