MAKALAH
TIGA
KERAJAAN BESAR ISLAM
( UTSMANI, SAFAWI, MUGHOL )
Mata Kuliah : Sejarah Peradaban
Islam
Dosen Pengampu : Jumailah, M.SI
Kelas : H

Disusun
Oleh :
1.
Qonitatan Yuhanidz 2021 111 342
2.
Desi Atinasikhah 2021 111 343
3.
Banaina Zulfa 2021 111 344
4.
Nur Amiroh 2021 111 345
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN )
PEKALONGAN
2011
BAB I
PENDAHULUAN
Setelah khalifah Abbasiyah di Baghdad runtuh
akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran
secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan
kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya
dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa mongol itu.
Namun, kemalangan tidak berhenti sampai disitu. Timur Lenk, sebagaimana telah
disebut, menghancurkan pusat-pusat kekuasaan Islam yang lain.
Keadaan politik umat Islam secara
keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya
tiga kerajaan besar: Usmani di Turki, Mughal di India, dan Safawi di Persia.
Kerajaan Usmani, disamping lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.
Kerajaan Usmani ini adalah yang pertama berdiri juga yang
terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya. Untuk
mengetahui lebih jelasnya maka dalam makalah ini akan kami terangkan lebih
lanjut mengenai Turki Usmani.
BAB II
PERADABAN ISLAM MASA
TIGA KERAJAAN BESAR
A.
KERAJAAN USMANI DI
TURKI
Dinasti ini berasal
dari suku Qoyigh Oghus. Yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri
Cina kurang lebih tiga abad. Kemudian mereka pindah ke Turkistan, Persia dan
Iraq. Mereka masuk Islam pada abad ke-9/10 ketika menetap di Asia Tengah. Pada
abad ke-13 M, mereka mendapat serangan dan tekanan dari Mongol, akhirnya mereka
melarikan diri ke Barat dan mencari perlindungan di antara saudara-saudaranya
yaitu orang-orang Turki Seljuk, di dataran tinggi Asia kecil.[1]
Dibawah pimpinan Ertoghrul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alaudin II
yang sedang berperang melawan Bizantium. Karena bantuan mereka inilah,
Bizantium dapat dikalahkan. Kemudian Sultan Alauddin memberi imbalan tanah di
Asia kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu mereka terus membina
wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibukota. Ertoghrul meninggal
dunia tahun 1289. Kepemimpinan dilanjutkan oleh puteranya, Usman. Putera
Ertoghrul inilah yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Usmani (1290-1326 M).
Tahun 1300 M, bangsa Mongol kembali menyerang Kerajaan Seljuk, dan dalam
pertempuran tersebut Sultan Alaudin terbunuh. Setelah wafatnya Sultan Alaudin
tersebut, Usman (dikenal dengan Usman I) memproklamasikan kemerdekaannya dan
berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya.
Setelah Usman mengumumkan dirinya sebagai Padisyah
al Usman (raja besar keluarga Usman), wilayah kerajaan dapat diperluasnya.
Ia menyerang daerah perbatasan Byzantium dan menaklukkan Broessa tahun 1317 M,
kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu kota kerajaan. Pada
masa pemerintahan Orkhan, kerajaan Turki Usmani ini dapat menaklukkan Azmir,
Thawasyanli, Uskandar, Ankara dan Gallipoli. Selain memantapkan keamanan dalam
negeri, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa. Merasa cemas terhadap
ekspansi kerajaan ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar
pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Usmani, namun Sultan
Bayazid I (1389-1403 M), dapat menghancurkan pasukan sekutu Eropa
tersebut.Ekspansi Bayazid I sempat berhenti karena adanya tekanan dan serangan
dari pasukan Timur Lenk ke Asia kecil. Pertempuran hebat terjadi antara tahun
1402 M dan pasukan Turki mengalami kekalahan. Kekalahan tersebut membawa dampak
yang buruk bagi Kerajaan Usmani yaitu banyaknya penguasa-penguasa Seljuk di
Asia kecil yang melepaskan diri. Begitu pula dengan Bulgaria dan Serbia, tetapi
hal itu dapat diatasi oleh Sultan Muhammad I (1403-1421 M). Usaha beliau yang
pertama yaitu meletakkan dasar-dasar keamanan dan perbaikan-perbaikan dalam
negeri. Usaha beliau kemudian diteruskan oleh Sultan Murad II (1421-1451).Turki
Usmani mengalami kemajuannya pada masa Sultan Muhammad II (1451-1484 M) atau
Muhammad Al-Fatah. Beliau mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel
pada tahun 1453 M yang merupakan kekuatan terakhir Imperium Romawi Timur. putra
Sultan Salim I, yaitu Sulaiman I (1520-1526 M) dan berhasil menaklukkam Irak,
Belgaro,kepulauan Rhodes, Tunis dan Yaman. Masa beliau merupakan puncak
keemasan dari kerajaan Turki Usmani. [2]
1. Kemajuan Peradaban Islam Pada Masa Kerajaan Usmani:
Akibat kegigihan dan ketangguhan yang
dimiliki oleh para pemimpin dalam mempertahankan Turki Usmani membawa dampak
yang baik sehingga kemajuan-kemajuan dalam perkembangan wilayah Turki Usmani
dapat di raihnya dengan cepat. Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan
usmani yang demikian luas dan berlangsung dengan cepat, itu diikuti pula oleh
kemajuan dalam bidang kemajuan lain. Diantaranya:
a. Bidang Kemiliteran
dan Pemerintahan.
Para pemimpin kerajaan Usmani pada masa-masa
pertama adalah orang orang yang kuat sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi
dengan cepat dan luas. Meskipun begitu kemajuan kerajaan usmani mencapai masa
keemasannya bukan semata-mata karena keunggulan politik para pemimpinnya, namun
banyak faktor lain yang mendukung keberhasilan ekspansi itu diantaranya:
keberanian, keterampilan, ketangguhan, dan kekuatan militernya yang sanggup
bertempur kapan dan dimana saja.
Perang dengan Bizantium merupakan awal
didirikannya pusat pendidikan dan militer ,terbentuklah kesatuan militer yang
disebut dengan Jenissari atau Inkisyariah. Selain itu kerajaan
Usmani membuat struktur pemerintahan dengan kekuasaan tertinggi di tangan
Sultan yang dibantu oleh Perdana Menteri yang membawahi Gubernur.
b. Bidang Ilmu
Pengetahuan dan Budaya
Kebudayaan turki usmani merupakan perpaduan bermacam-macam
kebudayaan diantaranya yaitu: kebudayaan Persia, Byzantium dan arab. Dari
kebudayaan Persia mereka banyak mengambil ajaran tentang etika dan tata krama
dalam istana raja-raja. Dari kebudayaan Byzantium mereka mengambil ajaran
tentang organisasi pemerintahan dan kemiliteran. Sedangkan ajaran tentang
prinsip ekonomi, sosial, kemasyarakatan, keilmuan mereka terima dari bangsa
Arab. Sebagai bangsa yang berdarah militer, turki usmani lebih banyak
memfokuskan kegiatan dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu
pengetahuan mereka tidak begitu menonjol sehingga dalam khasanah intelektual
islam kita tidak menemukan ilmuan terkemuka dari turki usmani.
c. Bidang Keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat turki
mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik masyarakat
digolongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan
syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku.
Pada masa turki usmani tarekat juga
mengalami kemajuan. Tarekat yang paling berkembang adalah bektasyi dan maulawi
yang banyak dianut oleh kalangan sipil dan militer. Namun disisi lain, Kajian
ilmu keagamaan pun seperti Fiqh, Ilmu kalam, Tafsir, dan hadis boleh dikatakan
tidak mengalami perkembangan karena para penguasa lebih cenderung untuk menegakkan
satu faham (madzhab) keagamaan dan menekakan madzhab lainnya. [3]
2. Faktor Pendukung Kemajuan Peradaban Pada Masa Kerajaan Usmani
Faktor pendukung kemajuan peradaban kerajaan
Usmani antara lain karena keunggulan politik para pemimpinnya, keberanian, keterampilan
dan ketangguhan serta kekuatan militer yang sanggup bertempur kapan dan dimana
saja. Akibat kegigihan para pemimpin dalam mempertahankan Turki itulah yang
akhirnya membawa dampak yang baik sehingga kemajuan-kemajuan dalam perkembangan
Turki dapat diraih dengan cepat.
3. Faktor-faktor Yang Menyebabkan Kemunduran
Dan Kehancuran Kerajaan Usmani, Diantaranya Adalah:
- Wilayah
kekuasaan yang sangat luas
Administrasi
pemerintahan bagi suatu Negara yang amat luas wilayahnya sangat rumit dan
kompleks, sementara administrasi pemerintahan kerajaan Usmani tidak beres. Di
pihak lain, para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas,
sehingga mereka terlibat perang terus menerus dengan berbagai bangsa.
- Heterogenitas
Penduduk
Sebagai kerajaan
besar, Turki Usmani menguasai wilayah yang sangat luas, wilayah yang luas itu
didiami oleh oleh penduduk yang beragam dan untuk mengatur penduduk yang
beragam dan tersebar di wilayah yang luas itu, diperlukan suatu organisasi
pemerintahan yang teratur. Tanpa didukung oleh administrasi yang baik, Kerajaan
Usmani hanya akan menanggung beban berat akibat Heterogenitas tersebut.
- Kelemahan Para
Penguasa
Pemeritahan menjadi
kacau sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni, serta ketika diperintah oleh
sultan-sultan yang lemah yang pada akhirnya kekacauan tersebut tidak pernah
dapat diatasi secara sempurna, bahkan semakin lama menjadi semakin parah.
- Budaya Pungli
Budaya pungli
merupakan perbuatan yang sudah umum dalam Kerajaan Usmani, yaitu setiap jabatan
yang hendak diraih oleh seseorang harus “dibayar” dengan sogokan kepada orang
yang berhak memberikan jabatan tersebut.
- Pemberontakan
tentara Jenissari
Pemberontakan
tentara Jenissari terjadi sebanayk empat kali, yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M,
1727 M, dan 1826 M.
- Merosotnya
Ekonomi
Akibat perang yang
tak pernah berhenti, perekonomian Negara merosot, sementara belanja Negara
sangat besar termasuk untuk biaya perang.
- Terjadinya
stagnasi dalam lapangan Ilmu dan teknologi
Kerajaan Usmani
kurang berhasil dalam pengembangan ilmu dan teknologi, karena hanya
mengutamakan pengembangan kekuatan militer. Kemajuan militer yang tidak
diimbangi oleh kemajuan ilmu dan teknologi mengakibatkan kerajaan ini tidak
sanggup menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang lebih maju.
B.
KERAJAAN SAFAWI DI
PERSIA
Pada waktu kerajaan Turki Usmani sudah
mencapai puncak kejayaannya, kerajaan Safawi di Persia baru berdiri. Namun pada
kenyataannya, kerajaan ini berkembang dengan cepat. Nama Safawi berasal dari
sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, yaitu tarekat Safawiah sesuai
dengan nama
pendirinya Safi Al-Din, salah satu keturunan Imam Syi'ah yang keenam "Musa al-Kazim" . Nama ini terus di pertahankan sampai tarekat ini memjadi suatu gerakan politik dan menjadi sebuah kerajaan yang disebut kerajaan Safawi. Dalam perkembangannya, kerajaan Safawi sering berselisih dengan kerajaan Turki Usmani. Kerajaan ini menyatakan sebagai penganut Syi'ah dan dijadikan sebagai madzhab negara. Pada awalnya tarekat ini bertujuan memerangi orang-orang yang ingkar dan pada akhirnya memerangi orang-orang ahli bid'ah. Tarekat ini menjadi semakin penting setelah ia mengubah bentuk tarekat itu dari pengajian tasawuf murni yang bersifat lokal menjadi gerakan keagamaan yang besar pengaruhnya di Persia, Syiria dan Anatolia. Dalam perkembangannya Bangsa Safawi (tarekat Safawiyah) sangat fanatik terhadap ajaran-ajarannya. Suatu ajaran agama yang dipegang secara fanatik biasanya menimbulkan keinginan dikalangan penganut ajaran itu untuk berkuasa. Karena itu, lama kelamaan murid tarekat safawiah berubah menjadi tentara yang teratur, fanatik dalam kepercayaan dan menentang orang yang bermadzhab selain syi’ah.
pendirinya Safi Al-Din, salah satu keturunan Imam Syi'ah yang keenam "Musa al-Kazim" . Nama ini terus di pertahankan sampai tarekat ini memjadi suatu gerakan politik dan menjadi sebuah kerajaan yang disebut kerajaan Safawi. Dalam perkembangannya, kerajaan Safawi sering berselisih dengan kerajaan Turki Usmani. Kerajaan ini menyatakan sebagai penganut Syi'ah dan dijadikan sebagai madzhab negara. Pada awalnya tarekat ini bertujuan memerangi orang-orang yang ingkar dan pada akhirnya memerangi orang-orang ahli bid'ah. Tarekat ini menjadi semakin penting setelah ia mengubah bentuk tarekat itu dari pengajian tasawuf murni yang bersifat lokal menjadi gerakan keagamaan yang besar pengaruhnya di Persia, Syiria dan Anatolia. Dalam perkembangannya Bangsa Safawi (tarekat Safawiyah) sangat fanatik terhadap ajaran-ajarannya. Suatu ajaran agama yang dipegang secara fanatik biasanya menimbulkan keinginan dikalangan penganut ajaran itu untuk berkuasa. Karena itu, lama kelamaan murid tarekat safawiah berubah menjadi tentara yang teratur, fanatik dalam kepercayaan dan menentang orang yang bermadzhab selain syi’ah.
Berikut urutan
penguasa kerajaan Safawi :
1. Isma'il I
(1501-1524 M)
2. Tahmasp I
(1524-1576 M)
3. Isma'il II
(1576-1577 M)
4. Muhammad
Khudabanda (1577-1587 M)
5. Abbas I
(1587-1628 M)
6. Safi Mirza
(1628-1642 M)
7. Abbas II
(1642-1667 M)
8. Sulaiman
(1667-1694 M)
9. Husein I
(1694-1722 M)
11. Abbas III
(1732-1736 M)
Puncak kejayaan kerajaan safawi : kondisi kerajaan
Safawi yang memprihatinkan dapat diatasi setelah raja Safawi kelima, Abbas I
naik tahta (1588-1628 M). Langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I dalam
rangka memulihkan kerajaan Safawi adalah:
1. Berusaha
menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash dengan cara membentuk pasukan baru
yang berasal dari budak-budak dan tawanan perang bangsa Georgia, Armenia dan
Sircassia.
2. Mengadakan
perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan jalan menyerahkan wilayah
Azerbaijan, Georgia, dan disamping itu Abbas berjanji tidak akan menghina tiga
Khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar, dan Usman)dalam khutbah-khutbah
Jum'at. Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi. Ia
berhasil mengatasi gejolak politik dalam negeri yang mengganggu stabilitas
negara dan sekaligus berhasil merebut kembali beberapa wilayah kekuasaan.
1.
Kemajuan Peradaban
Islam Masa Kerajaan Safawi:
a.
Bidang Ekonomi
Stabilitas politik kerajaan Safawi masa
Abbas memacu perkembangan ekonomi safawi,terutama setelah kepulangan Hurmuz dan
pelabuhan Gumrun yang diubah menjadi Bandar Abbas. Dengan demikian Safawiyah
menguasai jalur perdagangan antara Barat dan Timur. Di samping sektor
perdagangan, Safawiyah juga mengalami kemajuan bidang pertanian, terutama hasil pertanian dari daerah Bulan Sabit yang sangat subur (Fertille Crescent).
perdagangan, Safawiyah juga mengalami kemajuan bidang pertanian, terutama hasil pertanian dari daerah Bulan Sabit yang sangat subur (Fertille Crescent).
b.
Bidang Ilmu Pengatahuan
Persia di kenal sebagai bangsa yang telah
berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan, sehingga
tradisi keilmuan terus berlanjut.
c.
Bidang Pembangunan Fisik dan Seni
Kemajuan ini ditandai dengan berdirinya
sejumlah bangunan megah yang memperindah Isfahan sebagai ibu kota kerajaan ini.
Sejumlah masjid, sekolah,
rumah sakit, jembatan raksasa di atas Zende Rud dan Istana Chihil Sutun.Kota
Isfahan juga diperindah dengan kebun wisata yang tertata apik.[4]
rumah sakit, jembatan raksasa di atas Zende Rud dan Istana Chihil Sutun.Kota
Isfahan juga diperindah dengan kebun wisata yang tertata apik.[4]
2.Faktor Pendukung
Kemajuan Kerajaan Safawi:
Faktor pendukung kemajuan peradaban kerajaan
Safawi antara lain karena beberapa langkah yang ditempuh oleh Abbas I yang
merupakan pelopor puncak kejayaan pada masa itu setelah safawi mengalami
saat-saat yang memprihatinkan. Langkah-langkah itu antara lain usaha Abbas I
untuk menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash dan mengadakan perjanjian damai
dengan Turki sehingga ia berhasil mengatasi berbagai gejolak dalam negeri yang
mengganggu stabilitas Negara sampai akhirnya kajayaan dapat diraih pada masa
itu.
3.Faktor-faktor Yang
Menyebabkan Kemunduran Dan Kehancuran Kerajaan Safawi Adalah:
- Konflik
berkepanjangan dengan kerajaan Usmani.
Bagi Kerajaan
Usmani, berdirinya Kerajaan Usmani, berdirinya Kerajaan Safawi yang beraliran
Syi’ah merupakan ancaman langsung terhadap wilayah kekuasaannya.
- Dekadensi Moral
yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan Safawi.
Pemimpin kerajaan
Safawi yang bernama Sulaiman dan Husein pecandu berat narkotik, juga menyenangi
kehidupan malam sehingga selama tujuh tahun tanpa sekalipun menyempatkan diri
menangani pemerintahan.
- Adanya pasukan
Ghulam
Pasukan Ghulam
(budak-budak) yang dibentuk oleh Abbas 1 tidak memiliki semangat perang yang
tinggi seperti Qizilbash.[5]
- Terjadinya
konflik Intern
C.
KERAJAAN MUGHOL DI
INDIA
Kerajaan Mughol berdiri seperempat abad
sesudah berdirinya kerajaan safawi. Kerajaan ini termasuk dari tiga kerajaan
besar Islam dan kerajaan inilah termuda. Awal kekuasaan Islam di India terjadi
pada masa khalifah Al-walid dari Dinasti Bani Umayah, di bawah pimpinan
Muhammad Ibnu Qosim.[6]
Kerajaan Mughol di India dengan Delhi
sebagai ibu kota kerajaan, di dirikan oleh Zahirrudin Babur ( 1482-1530 M )
salah satu dari cucu Timur lenk. Ayahnya bennama Umar Mirza, penguasa Ferghana.
Babaur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya pada Usia 11 tahun. Karena
dari kecil di didik sebagai seorang panglima, ia bertekad dan berambisi akan
menaklukan kota terpenting di Asia Tengah yaitu Samarkand. Pada mulanya Babur
mengalami kekalahan, tetapi karena mendapat bantuan dari Raja Safawi, Ismail I,
akhirnya berhasil menaklukan Samarkand (1494 M). Tahun 1504 M, ia menduduki
Kabul (Afganistan). Babur menguasai Punjab (1525 M), kemudian menguasai Delhi
setelah bertempur di Panipat sebagai pemenang. Dengan demikian, Babur dapat
menegakkan pemerintahannya di sana, maka berdirilah kerajaan Mughol di India.
Pada tahun 1530 M, Babur meninggal Dunia
dalam Usia 48 tahun setelah memerintah Mughol selama 30 tahun dengan mewarisi
kejayaan-kejayaan yang cemerlang. Pemerintahan selanjutnya di pegang oleh
anaknya Humayyun.
Sepanjang masa pemerintahan Humayyun selama
9 tahun ( 1530-1539 M ) Negara tidak pernah Aman. Pada tahun 1540 M terjadi
pertempuran dengan Sher Khan di Kanauj. Dalam pertempuran ini Humayyun mengalami
kekalahan. Ia pun kembali menduduki kerajaan Mughol pada tahun 1555 M. setelah
tahun itu ( 1556 M), ia meninggal Dunia karena jatuh dari tangga
perpustakaannya, Din panah.
Pada tahun 1556 M terjadilah peperangan yang
dahsyat, di sebut Panipat II yang di menangkan Akbar (putra sekaligus pengganti
Humayun). Akbar mulai menyusun strategi dalam pemerintahannya itu, ia berusaha
membangkitkan perekonomian Negara dan pertahanan Negara, sebagai wujud untuk
menghalangi pemberontakan-pemberontakan yang akan terjadi kembali. Akbar juga
menerapkan sistem politik Sulakkhul (toleransi universal). Dengan
politik ini, semua rakyat India di pandang sama.
1.
Kemajuan Peradaban Islam Masa Kerajaan
Mughol:
Dengan sistem yang di terapkan Akbar,
akhirnya membawa kemajuan. Dalam bidang ekonomi, Akbar memfokuskan pada masalah
pertanian sehingga terjadilah kemajuan yang luar biasa pada bidang ekonomi
khususnya pertanian, pertambangan dan perdagangan. Di samping untuk kebutuhan
dalam Negri, hasil pertanian itu di Ekspor ke Eropa, Afrika, Arabia, dan Asia
tenggara. Berkembangnya bidang Ekonomi, memancing Akbar untuk mengembangkan
bidang lain seperti halnya bidang seni dan budaya yang pada akhirnya juga
berkembang pesat. Bidang seni lebih di fokuskan pada karya seni Arsitektur, sehingga
dapat di nikmatin hingga masa kini seperti Istana Fatpursikri, villa, Masjid
berlapiskan Mutiara, Taj mahal, Majid raya Delhi dan Istana Indah di Lahore.[7]
2. Faktor Pendukung Kemajuan Kerajaan Mughol:
Faktor pendukung kemajuan peradaban kerajaan
Mughal antara lain karena penerapan politik sulakhul (toleransi universal) yang
diterapkan oleh Akbar,dimana tidak ada perbedaan antara rakyat India dan semua
dipandang sama. Faktor lain yang terpenting adalah karena kemantapan stabilitas
poltik akibat sistem pemerintahan yang diterpkan oleh Akbar.
.
3. Faktor-faktor Yang Menyebabkan Kemunduran
Dan Kehancuran Kerajaan Mughal Diantaranya Adalah:
- Terjadinya
stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris
di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan
maritim Mughal.
- Kemerosotan moral dan hidup mewah
dikalangan elit politik yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan
uang Negara.
- Pendekatan
Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan
asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh
sultan-sultan sesudahnya.
- Semua pewaris
tahta kerajaaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang
kepemimpinan.
BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian singkat tentang tiga kerajaan besar islam (Usmani, Mughal
dan Syafawi) di atas,
dapat ditarik kesimpulan bahwa, tiga kerajaan tersebut merupakan kerajaan islam terbesar, karena dalam waktu
kurun yang panjang setelah Bani Abbas mengalami keruntuhan dengan ditandainya jatuhnya kota Baghdad ke tangan bangsa
Nongol pada tahun 1258 M, setelah itu umat islam mengalami kemunduran.
Umat islam bangkit kembali dengan adanya kerajaan Usmani yang mendiami daerah
Nongol dan daerah utara Cina, kemudaian kerajaan Safawi di Persia dan kerajaan
Mughal di India.
Akan tetapi, dalam perjalanannya
ketiga kerajaan tersebut mengalami kemunduran. Hal yang paling urgen penyebab
kemunduran ketiga kerajaan tersebut antara lain adalah :
a. Adanya dekadensi moral yang melanda para pemimpin
b. Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir
adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.
c. adanya tradisi korupsi
d. perebutan kekuasaan
DAFTAR PUSTAKA
Hasan, Husain Ibrahim. 1989. Sejarah
dan Kebudayaan Islam. Yogyakarta:
Kota Kembang,.
Mahmudunnasir ,Syed.1981. Islam Its Consepts and History. New Delhi: Kitab Bhavan.
Yatim, Badri. 2004. Sejarah
Peradaban islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
[1] Husain Ibrahim
Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam,
Yogyakarta: Kota Kembang,1989, hlm.324-325
[2] Ahmad Syalabi, Sejarah dan kebudayaan Islam,
Jakarta: Kalam Mulia, 1988, hal. 2
[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban islam, Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2004, hal.133-138
[4] Ibid, hal. 138-145
[5]
http://warungbaca.blogspot.com/2008/09/masa-kemunduran-tiga-kerajaan-besar.html
[6] Syed Mahmudunnasir, Islam Its Consepts and History, New Delhi:Kitab Bhavan, 1981, hlm:
282
[7] Ibid, hal: 145-150


0 comments:
Posting Komentar
Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.