-

Kamis, 13 Februari 2014

Makalah Ulumul Qur'an

FAWATIH AS-SUWAR
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas :
                        Mata Kuliah                          : Ulumul Qur’an
                        Dosen Pengampu                  : H. Ubaedillah, M.S.I
STAIN_2






Disusun oleh :
Prodi /Clas     :Tarbiyah (PAI) /I
1.      Ana Mazidah             2021 111 341
2.      Qonitatan Yuhanidz  2021 111 342
3.      Desi Atinasikhah       2021 111 343
4.      Banaina Zulfa            2021 111 344


JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2011

BAB I
PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan nikmat kepada kita semua dan shalawat beserta salam senantiasa kita curahkan kehadirat nabi Muhammad saw beserta keluarganya dan sahabat-sahabatnya serta para pengikutnya yang setia pada sunahnya sampai ahkir jaman Amin yaa rabbal ‘alamiin.Allah swt menurunkan al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia yang didalamnya menjelaskan segala sesuatu dan tidak akan pernah sesat orang nyang menjadikan nya sebagai pedoman bagi kehidupan sehari-hari.maka seyogianyalah setiap orang islam harus senantiasa mempelajari dan mengkaji apa-apa nyang ada didalamnya karena semakin banyak kita mengkaji al-qur’an maka akan semakin banyak kita menemukan khazanah keilmuan yang ada didalamnya serta hikmah-hikmah nyang belum kita dapat sebelumnya.maka dalam makalah yang singkat ini kami selaku pemakalah akan mencoba menjelaskan sebagian kecil dari ulumul qur’an nyang berkisar tentang fawatih al-suwar ada poin-poin nyang akan kami ketengahkan sebagai berikut:
1.      Pengertian fawatih al-suwar
2.      Macam-macam fawatih al-suwar
3.      Pendapat Ulama tentang fawatih al-suwar
4.      Pendapat Para Ulama Tentang Huruf Hijaiyah Pembuka Surat
Dalam makalah yang singkat ini masih banyak terdapat kekurangan itu disebabkan karena keterbatasan kami selaku pemakalah maka kami mohon ma’af serta keritik dan saran sangat kami harapkan dari teman-teman demi untuk perbaikan makalah ini.









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Fawatih Al-Suwar
    Dari segi bahasa, fawatihus suwar berarti pembukaan-pembukaan surat, karena posisinya yang mengawali perjalanan teks-teks suatu surat. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hija’iyah, huruf tersebut sering disebut dengan huruf Muqatta’ah (huruf yang terpisah), karena posisi dari huruf-huruf tersebut yang cenderung ‘menyendiri’ dan tidak bergabung membentuk kalimat secara kebahasaan. Dari segi pembacaannya pun tidaklah berbeda dari lafazh yang diucapkan pada huruf hijaiyah.[1] Sedangkan as-suwar adalah jamak dari surah yang secara etimologi mempunyai banyak arti, yaitu: tingkatan atau martabat, tanda atau alamat, gedung yang tinggi nan indah, susunan sesuatu atas lainnya yang bertingkat tingkat.
  Secara terminologi surah dimaknai secara berbeda, menurut Manna’ al-Qaththan bahwa surah adalah sekumpulan ayat ayat al-Quran yang mempunyai tempat bermula dan sekaligus tempat berhenti. Sebaliknya al-Ja’bari mengatakan bahwa surah adalah sebagian al-Qur’an yang mencakup beberapa ayat yang memiliki permulaan dan penghabisan (penutup), paling sedikit tiga ayat.
    Menurut Ibn Abi al-Isba’  dalam kitab al Khawathir as-Shawanih fi asrar al-fawatih yang ditulisnya, dia menggunakan istilah al-Fawatih dengan arti jenis-jenis perkataan yang membuka surah-surah dalam al-Qur’an. Jenis-jenis perkataan itu dibagi menjadi sepuluh kelompok; salah satunya adalah huruf-huruf tahajji (dibaca dengan cara dieja), atau yang biasa kita sebut dengan al-fawatih. Sementara Sembilan jenis lainnya adalah pujian: pujian kepada Allah, baik tahmid maupun tasbih; nida’  (seruan); jumlah khabariyah (kalimat berita); qasam (sumpah); syarat, perintah, doa, dan ta’lil (alasan).[2]
B.     Macam-macam Fawatih Al-Suwar
   Pembuka-pembuka surat (fawatih al-suwar) disebut di dalam berbagai macam bentuk:[3]
a.       Ada yang hanya terdiri dari satu huruf
 Terdapat pada tiga surat yaitu surat Shad, Qaf dan Al-Qolam (surat 38, 50, dan 68).  Pertama, dimulai dengan shad, kedua , dimulai dengan qof dan ketiga dimulai dengan nun.
b.      Ada yang terdiri dari dua huruf
Terdapat pada sepuluh surat. Tujuh surat diantaranya, dinamakan hawamim (surat-surat Hamim), karena surat-surat ini dimulai dengan huruf ha dan mim.  Yaitu surat 40 hingga surat 46 yaitu surat Ghafir, Fushilat, Asy-Syura, Az-Zukhruf, Ad-Dukhan, Al-Jatsiyah, dan Al-Ahqof.  Sedangkan surat yang ke-42 digabungkan kepada ha mim, yang padanya terdapat ‘ain, sin, qaf.  Surat yang kedelapan  dari yang kesepuluh ini ialah tha ha (surat yang ke-20).
c.       Ada yang terdiri dari tiga huruf
Terdapat pada tiga belas surat.  Enam surat dimulai dengan alif lam mim; yaitu surat-surat Al-Baqarah, Al-Imran, Al-Ankabut, Ar-Rum, Luqman, dan As-Sajdah.  Lima surat dimulai dengan alif lam ra yaitu Yunus, Hud, Yusuf, Ibrahim, dan Al-Hijr.  Dua surat dimulai dengan tha sin mim yaitu surat As-Syu’ara dan Al-Qashash.
d.      Ada yang dimulai dengan empat huruf
Yaitu surat Al-A’raf dan Ar-Ra’d.  surat Al-A’raf dimulai dengan alif lam mim shad, sedangkan surat Ar-Ra’d dimulai dengan alif lam mim ra.
e.       Ada yang terdiri dari lima huruf
Terdapat pada satu surat saja yaitu surat Maryam.  Surat ini dimulai dengan kaf ha ya ‘ain shad.
C.    Pendapat para Ulama tentang Fawatih Al-Suwar
Berikut ini dikemukakan beberapa riwayat dan pendapat ulama:
1.      “Dari Ibn Abbas tentang firman Allah: (الم), berkata Ibn Abbas:” Aku Allah lebih mengetahui”, tentang (المص) berkata Ibn Abbas:” Aku Allah akan memperinci”, dan tentang (الر) berkata Ibn Abbas: “Aku Allah melihat”. (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dari jalan Abu Al-Duha).
2.        “Dari Ibn Abbas, berkata ia: “alif lam ra, ha’mim, dan nun adalah huruf-huruf al-Rahman yang dipisahkan (diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dari jalan Ikrimah)”.
3.      “Dari Ibn Abbas tentang Kaf, Ha’, Ya’ Ain, Shad, berkata ia: “Kaf dari Karim (pemurah). Ha dari Hadin (pemberi petunjuk), Ya, dari Hakim (bijaksana), ‘Ain dari ‘Alim (Maha Mengetahui), dan Sad dari Sadiq (yang benar). (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan lainnya dari jalan Sa’id Ibn Jubair)
4.      “Dari Salim Abd Ibn Abdillah berkata ia: (حم، الم) dan (ن) dan seumpamanya adalah nama Allah yang dipotong-potong”, (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim).
5.      Dari Al-Saddiy, ia berkata: “Pembukaan-pembukaan surat adalah nama dari nama-nama Tuhan Jalla Jalaluh yang dipisah-pisah dalam Al-Quran”. (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim).
6.      “Dari Ibn Abbas, berkata ia: (ص، طسم، الم) dan yang seumpamanya adalah sumpah yang Allah bersumpah dengannya, dan merupakan nama-nama Allah juga”(Diriwayatkan oleh Ibn Jarir dan lainya dari jalan Ali Ibn Abi Talhah).[4]
     Ada pendapat mengatakan bahwa huruf-huruf itu adalah nama-nama bagi Al-Quran, seperti Al-Furqan dan Al-Zikir. Pendapat lain mengatakan bahwa huruf-huruf tersebut adalah pembuka bagi surat-surat Al-Quran sebagaimana hanya qasidah sering diawali dengan kata (بل) dan (لا).
     Dikatakan juga huruf-huruf ini merupakan peringatan-peringatan (tanbihat) sebagaimana halnya dalam panggilan (nida). Akan tetapi, di sini tidak digunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bahasa Arab, seperti (ألا) dan (أما) karena kata-kata ini termasuk lafal yang sudah biasa dipakai dalam percakapan. Sedangkan al-Quran adalah kalam yang tidak sama dengan kalam yang biasa sehingga digunakan alif (ا).
     Sebagai peringatan (tanbih) lebih terkesan kepada pendengar. Yang belum pernah digunakan sama sekali sehingga lebih terkesan kepada pendengar.
    Dalam hubungan ini sebagian ulam memandangnya peringatan (tanbih) kepada rasul agar dalam waktu-waktu kesibukannya dengan urusan manusia berpaling kepada Jibril untuk mendengarkan ayat-ayat yang akan disampaikan kepadanya. Sebagian yang lain memandangnya sebagai peringatan (tanbih) kepada orang-orang Arab agar mereka tertarik mendengarkannya dan hati mereka menjadi lunak kepadanya. Tampaknya, pandangan yang pertama kurang tepat karena Rasul sebagai utusan Allah dan yang terus-menerus merindukan wahyu tidak perlu diberi peringatan. Sedangkan pandangan yang kedua adalah lebih kuat karena orang-orang Arab yang selalu bertingkah, keras hati dan enggan mendengarkan ketenaran perlu diberi peringatan (tanbih) agar perhatian mereka tertuju kepada ayat-ayat yang disampaikan.
    Di katakana juga bahwa Thaha (طه) dan Yasin (يس) berarti hai laki-laki atau hai Muhammad atau hai manusia. Pendapat lain memandang kedua Thaha (طه) dan Yasin (يس) sebagai nama bagi Nabi Saw.
D.    Pendapat Para Ulama Tentang Huruf Hijaiyah Pembuka Surat
   Para ulama yang membicarakan masalah ini ada yang berani menafsirkannya, di mana huruf-huruf itu merupaka rahasia yang hanya Allah sendiri yang mengetahui-Nya.
1.    Az-Zamarksyari berkata dalam tafsirnya “Al-Qasysyaf” huruf-huruf ini ada beberapa pendapat yaitu:
a.    Merupakan nama surat
b.    Sumpah Allah
c.    Supaya menarik perhatian orang yang mendengarkannya.
2.    As-Sayuti menukilkan pendapat Ibnu Abbas tentang huruf tersebut sebagai berikut:
(الم) berarti (انا الله اعلم), (المص) berarti (انا الله اعلم و افصل), (الر) berarti (انا الله اري), (كهيعص) diambil dari (كريم – هاد – حكيم – عليم - صادق) juga berarti (كان – هاد – تمين – عالم - صادق) Adh Dhahak berpendapat bahwa (الر) ialah: اناالله اعلم وارفع
Dikatakan pendapat hanyalah dugaan belaka. Kemudian As-Suyuti menerangkan bahwa hal itu merupakan rahasia yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.
3.    al-Quwaibi mengatakan bahwasanya kalimat itu merupakan tanbih bagi Nabi, mungkin pada suatu saat Nabi dalam keadaan sibuk, maka Allah menyuruh Jibril untuk memberikan perhatian terhadap apa yang disampaikan kepadanya.
4.     As-Sayid Rasyid Ridha tidak membenarkan Al-Quwaibi di atas, karena Nabi senantiasa dalam keadaan sadar dan senantiasa menanti kedatangan wahyu.
Rasyid Ridha berpendapat sesuai dengan Ar-Razi, bahwa tanbih ini sebenarnya dihadapkan kepada orang-orang Musyrik Mekkah dan Ahli Kitab Madinah. Karena orang-orang kafir apabila Nabi membacakan Al-Quran mereka satu sama lain menganjurkan untuk tidak mendengarkannya. Disebut dalam surat Fusilat ayat 26:
5.    Ulama salaf berpendapat bahwa “Fawatih Suwar” telah disusun semenjak zaman azali sedemikian rupa supaya melengkapi segala yang melemahkan manusia dari mendatangkannya seperti Al-Quran.
  Oleh karena i'tiqad bahwa huruf-huruf ini telah sedemikian dari azalinya, maka banyaklah orang yang tidak berani mentafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap huruf-huruf itu. Huruf-huruf itu dipandang masuk golongan mutasyabihat yang hanya Allah sendiri yang mengetahui tafsirnya.
Huruf-huruf itu, sebagai yang pernah ditegaskan oleh Asy-Syabi, ialah rahasia dari pada Al-Quran ini.
Ali bin Abi Thalib pernah berkata:
Sesungguhnya bagi tiap-tiap Kitab ada saripatinya. Saripati Al-Quran ini ialah, huruf-huruf Hijaiyah”.
Abu baker As-Shiddieqi pernah berkata:
Di tiap-tiap kitab ada rahasianya. Rahasianya dalam Al-Quran ialah permulaan-permulaan surat”.
Dalam hal ini Prof. Hasbi As-Shiddieqi menegaskan bahwa dibolehkannya mentakwilkan huruf-huruf tersebut asal tidak menyalahi penetapan Al-Quran dan As-Sunnah. Dalam pada itu yang lebih baik kita serahkan saja kepada Allah.














BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari segi bahasa, fawatihus suwar berarti pembukaan-pembukaan surat, karena posisinya yang mengawali perjalanan teks-teks pada suatu surat. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah, huruf cenderung ‘menyendiri’ dan tidak bergabung membentuk suatu kalimat secara kebahasaan. Dari segi pembacaannya pun, tidaklah berbeda dari lafazh yang diucapkan pada huruf hijaiyah.
Ibnu Abi Al Asba’ menulis sebuah kitab yang secara mendalam membahas tentang bab ini, yaitu kitab Al-Khaqathir Al-Sawanih fi Asrar Al-Fawatih. Ia mencoba menggambarkan tentang beberapa kategori dari pembukaan-pembukaan surat yang ada di dalam Al-Quran. Pembagian karakter pembukaannya adalah sebagai berikut. Pertama, pujian terhadap Allah swt yang dinisbahkan kepada sifat-sifat kesempurnaan Tuhan. Kedua, yang menggunakan huruf-huruf hijaiyah; terdapat pada 29 surat. ketiga, dengan mempergunakan kata seru (ahrufun nida), terdapat dalam sepuluh surat. lima seruan ditujukan kepada Rasul secara khusus. Dan lima yang lain ditujukan kepada umat. Keempat, kalimat berita (jumlah khabariyah); terdapat dalam 23 surat. kelima, dalam bentuk sumpah (Al-Aqsam); terdapat dalam 15 surat.










DAFTAR PUSTAKA
Abdul Wahid, Ramli.Ulumul Quran. Jakarta: Rineka Cipta. 2002.
Ash-Shiddieqy ,Teungku Muhammad Hasbi. Ilmu-ilmu Al-Qur’anSemarang: Pustaka Rizki Putra. 2009.
J. Boullata, Issa.  Al-Qur’an yang MenakjubkanTangerang: Lentera Hati. 2008.
Muhammad,chirzin.  Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an. Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa.1999.



[1] Muhammad chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, (yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1999) h. 62
[2] Issa J. Boullata, Al-Qur’an yang Menakjubkan ,(Tangerang: Lentera Hati, 2008) h. 290-291.
[3] Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Ilmu-ilmu Al-Qur’an, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009) h.115-116
[4] Ramli Abdul Wahid,Ulumul Quran,(Jakarta: Rineka Cipta,2002),hlm.126-127

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.

By :
Free Blog Templates