FAWATIH AS-SUWAR
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas :
Mata
Kuliah : Ulumul Qur’an
Dosen Pengampu : H. Ubaedillah, M.S.I

Disusun
oleh :
Prodi /Clas :Tarbiyah (PAI) /I
|
1.
Ana
Mazidah 2021 111 341
2.
Qonitatan Yuhanidz 2021 111 342
3.
Desi
Atinasikhah 2021 111 343
4.
Banaina
Zulfa 2021 111 344
|
|
|
JURUSAN
TARBIYAH
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
PEKALONGAN
2011
BAB
I
PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan
nikmat kepada kita semua dan shalawat beserta salam senantiasa kita curahkan
kehadirat nabi Muhammad saw beserta keluarganya dan sahabat-sahabatnya serta
para pengikutnya yang setia pada sunahnya sampai ahkir jaman Amin yaa rabbal ‘alamiin.Allah swt
menurunkan al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia yang didalamnya menjelaskan
segala sesuatu dan tidak akan pernah sesat orang nyang menjadikan nya sebagai
pedoman bagi kehidupan sehari-hari.maka seyogianyalah setiap orang islam harus
senantiasa mempelajari dan mengkaji apa-apa nyang ada didalamnya karena semakin
banyak kita mengkaji al-qur’an maka akan semakin banyak kita menemukan khazanah
keilmuan yang ada didalamnya serta hikmah-hikmah nyang belum kita dapat
sebelumnya.maka dalam makalah yang singkat ini kami selaku pemakalah akan
mencoba menjelaskan sebagian kecil dari ulumul qur’an nyang berkisar tentang
fawatih al-suwar ada poin-poin nyang akan kami ketengahkan sebagai berikut:
1. Pengertian
fawatih al-suwar
2. Macam-macam
fawatih al-suwar
3. Pendapat Ulama
tentang fawatih al-suwar
4. Pendapat Para Ulama Tentang Huruf Hijaiyah Pembuka
Surat
Dalam makalah yang singkat ini masih banyak terdapat
kekurangan itu disebabkan karena keterbatasan kami selaku pemakalah maka kami
mohon ma’af serta keritik dan saran sangat kami harapkan dari teman-teman demi
untuk perbaikan makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Fawatih Al-Suwar
Dari segi bahasa, fawatihus suwar berarti
pembukaan-pembukaan surat, karena posisinya yang mengawali perjalanan teks-teks
suatu surat. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hija’iyah, huruf tersebut
sering disebut dengan huruf Muqatta’ah (huruf yang terpisah), karena
posisi dari huruf-huruf tersebut yang cenderung ‘menyendiri’ dan tidak
bergabung membentuk kalimat secara kebahasaan. Dari segi pembacaannya pun
tidaklah berbeda dari lafazh yang diucapkan pada huruf hijaiyah.[1] Sedangkan as-suwar adalah jamak dari surah
yang secara etimologi mempunyai banyak arti, yaitu: tingkatan atau martabat,
tanda atau alamat, gedung yang tinggi nan indah, susunan sesuatu atas lainnya
yang bertingkat tingkat.
Secara
terminologi surah dimaknai secara berbeda, menurut Manna’ al-Qaththan
bahwa surah adalah sekumpulan ayat ayat al-Quran yang mempunyai tempat
bermula dan sekaligus tempat berhenti. Sebaliknya al-Ja’bari mengatakan
bahwa surah adalah sebagian al-Qur’an yang mencakup beberapa ayat yang memiliki
permulaan dan penghabisan (penutup), paling sedikit tiga ayat.
Menurut Ibn Abi al-Isba’ dalam kitab al
Khawathir as-Shawanih fi asrar al-fawatih yang ditulisnya, dia menggunakan
istilah al-Fawatih dengan arti jenis-jenis perkataan yang membuka
surah-surah dalam al-Qur’an. Jenis-jenis perkataan itu dibagi menjadi sepuluh
kelompok; salah satunya adalah huruf-huruf tahajji (dibaca dengan cara dieja),
atau yang biasa kita sebut dengan al-fawatih. Sementara Sembilan jenis
lainnya adalah pujian: pujian kepada Allah, baik tahmid maupun tasbih;
nida’ (seruan); jumlah khabariyah (kalimat berita); qasam (sumpah);
syarat, perintah, doa, dan ta’lil (alasan).[2]
B. Macam-macam
Fawatih Al-Suwar
Pembuka-pembuka surat (fawatih al-suwar)
disebut di dalam berbagai macam bentuk:[3]
a.
Ada yang
hanya terdiri dari satu huruf
Terdapat pada tiga surat yaitu surat Shad, Qaf
dan Al-Qolam (surat 38, 50, dan 68).
Pertama, dimulai dengan shad,
kedua , dimulai dengan qof dan ketiga
dimulai dengan nun.
b.
Ada yang
terdiri dari dua huruf
Terdapat pada sepuluh surat. Tujuh
surat diantaranya, dinamakan hawamim
(surat-surat Hamim), karena surat-surat ini dimulai dengan huruf ha dan mim. Yaitu surat 40 hingga
surat 46 yaitu surat Ghafir, Fushilat, Asy-Syura, Az-Zukhruf, Ad-Dukhan,
Al-Jatsiyah, dan Al-Ahqof. Sedangkan
surat yang ke-42 digabungkan kepada ha
mim, yang padanya terdapat ‘ain, sin, qaf. Surat yang kedelapan dari yang kesepuluh ini ialah tha ha
(surat yang ke-20).
c.
Ada yang
terdiri dari tiga huruf
Terdapat pada tiga belas surat. Enam surat dimulai dengan alif lam mim; yaitu surat-surat
Al-Baqarah, Al-Imran, Al-Ankabut, Ar-Rum, Luqman, dan As-Sajdah. Lima surat dimulai dengan alif lam ra yaitu Yunus, Hud, Yusuf,
Ibrahim, dan Al-Hijr. Dua surat dimulai
dengan tha sin mim yaitu surat
As-Syu’ara dan Al-Qashash.
d.
Ada yang
dimulai dengan empat huruf
Yaitu surat Al-A’raf dan
Ar-Ra’d. surat Al-A’raf dimulai dengan alif lam mim shad, sedangkan surat
Ar-Ra’d dimulai dengan alif lam mim ra.
e.
Ada yang
terdiri dari lima huruf
Terdapat pada satu surat saja yaitu
surat Maryam. Surat ini dimulai dengan kaf ha ya ‘ain shad.
C. Pendapat
para Ulama tentang Fawatih Al-Suwar
Berikut ini dikemukakan beberapa riwayat dan pendapat
ulama:
1.
“Dari Ibn Abbas tentang firman Allah: (الم),
berkata Ibn Abbas:” Aku Allah
lebih mengetahui”, tentang (المص)
berkata Ibn Abbas:” Aku Allah akan memperinci”, dan tentang (الر)
berkata Ibn Abbas: “Aku Allah melihat”. (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dari
jalan Abu Al-Duha).
2.
“Dari Ibn Abbas, berkata ia: “alif lam ra, ha’mim, dan nun adalah
huruf-huruf al-Rahman yang dipisahkan (diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dari
jalan Ikrimah)”.
3.
“Dari Ibn Abbas tentang Kaf, Ha’, Ya’ Ain, Shad, berkata ia:
“Kaf dari Karim (pemurah). Ha dari Hadin (pemberi petunjuk), Ya, dari Hakim
(bijaksana), ‘Ain dari ‘Alim (Maha Mengetahui), dan Sad dari Sadiq (yang
benar). (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan lainnya dari jalan Sa’id Ibn Jubair)
4.
“Dari Salim Abd Ibn Abdillah berkata ia: (حم، الم) dan
(ن) dan seumpamanya adalah nama Allah yang
dipotong-potong”, (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim).
5.
Dari
Al-Saddiy, ia berkata: “Pembukaan-pembukaan surat adalah nama dari nama-nama
Tuhan Jalla Jalaluh yang dipisah-pisah dalam Al-Quran”. (Diriwayatkan oleh Ibn
Abi Hatim).
6.
“Dari Ibn
Abbas, berkata ia: (ص، طسم، الم) dan yang seumpamanya adalah sumpah yang Allah bersumpah
dengannya, dan merupakan nama-nama Allah juga”. (Diriwayatkan
oleh Ibn Jarir dan lainya dari jalan Ali Ibn Abi Talhah).[4]
Ada pendapat mengatakan bahwa huruf-huruf itu adalah nama-nama bagi
Al-Quran, seperti Al-Furqan dan Al-Zikir. Pendapat lain mengatakan bahwa
huruf-huruf tersebut adalah pembuka bagi surat-surat Al-Quran sebagaimana hanya
qasidah sering diawali dengan kata (بل) dan (لا).
Dikatakan juga huruf-huruf ini merupakan peringatan-peringatan (tanbihat)
sebagaimana halnya dalam panggilan (nida). Akan tetapi, di sini tidak
digunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bahasa Arab, seperti (ألا) dan (أما) karena kata-kata ini termasuk
lafal yang sudah biasa dipakai dalam percakapan. Sedangkan al-Quran adalah
kalam yang tidak sama dengan kalam yang biasa sehingga digunakan alif (ا).
Sebagai peringatan (tanbih) lebih terkesan kepada pendengar. Yang
belum pernah digunakan sama sekali sehingga lebih terkesan kepada pendengar.
Dalam hubungan ini sebagian ulam memandangnya peringatan (tanbih)
kepada rasul agar dalam waktu-waktu kesibukannya dengan urusan manusia
berpaling kepada Jibril untuk mendengarkan ayat-ayat yang akan disampaikan
kepadanya. Sebagian yang lain memandangnya sebagai peringatan (tanbih)
kepada orang-orang Arab agar mereka tertarik mendengarkannya dan hati mereka
menjadi lunak kepadanya. Tampaknya, pandangan yang pertama kurang tepat karena
Rasul sebagai utusan Allah dan yang terus-menerus merindukan wahyu tidak perlu
diberi peringatan. Sedangkan pandangan yang kedua adalah lebih kuat karena
orang-orang Arab yang selalu bertingkah, keras hati dan enggan mendengarkan
ketenaran perlu diberi peringatan (tanbih) agar perhatian mereka tertuju
kepada ayat-ayat yang disampaikan.
Di katakana juga bahwa Thaha (طه) dan Yasin (يس) berarti hai laki-laki atau hai
Muhammad atau hai manusia. Pendapat lain memandang kedua Thaha (طه) dan Yasin (يس) sebagai nama bagi Nabi Saw.
D. Pendapat Para Ulama Tentang Huruf Hijaiyah Pembuka
Surat
Para ulama yang membicarakan masalah ini ada yang berani menafsirkannya,
di mana huruf-huruf itu merupaka rahasia yang hanya Allah sendiri yang
mengetahui-Nya.
1.
Az-Zamarksyari
berkata dalam tafsirnya “Al-Qasysyaf” huruf-huruf ini ada beberapa pendapat
yaitu:
a.
Merupakan nama surat
b.
Sumpah Allah
c.
Supaya menarik perhatian orang yang mendengarkannya.
2.
As-Sayuti
menukilkan pendapat Ibnu Abbas tentang huruf tersebut sebagai berikut:
(الم) berarti (انا الله اعلم), (المص) berarti (انا الله اعلم و افصل), (الر) berarti (انا الله اري), (كهيعص) diambil dari (كريم – هاد –
حكيم – عليم - صادق) juga berarti (كان – هاد –
تمين – عالم - صادق) Adh Dhahak berpendapat bahwa (الر) ialah: اناالله اعلم
وارفع
Dikatakan pendapat hanyalah dugaan belaka. Kemudian
As-Suyuti menerangkan bahwa hal itu merupakan rahasia yang hanya Allah sendiri
yang mengetahuinya.
3.
al-Quwaibi
mengatakan bahwasanya kalimat itu merupakan tanbih bagi Nabi, mungkin pada
suatu saat Nabi dalam keadaan sibuk, maka Allah menyuruh Jibril untuk
memberikan perhatian terhadap apa yang disampaikan kepadanya.
4.
As-Sayid Rasyid Ridha tidak
membenarkan Al-Quwaibi di atas, karena Nabi senantiasa dalam keadaan sadar dan
senantiasa menanti kedatangan wahyu.
Rasyid Ridha berpendapat sesuai dengan Ar-Razi, bahwa
tanbih ini sebenarnya dihadapkan kepada orang-orang Musyrik Mekkah dan Ahli
Kitab Madinah. Karena orang-orang kafir apabila Nabi membacakan Al-Quran mereka
satu sama lain menganjurkan untuk tidak mendengarkannya. Disebut dalam surat
Fusilat ayat 26:
5.
Ulama salaf
berpendapat bahwa “Fawatih Suwar” telah disusun semenjak zaman azali
sedemikian rupa supaya melengkapi segala yang melemahkan manusia dari
mendatangkannya seperti Al-Quran.
Oleh karena i'tiqad bahwa huruf-huruf ini telah sedemikian dari
azalinya, maka banyaklah orang yang tidak berani mentafsirkannya dan tidak
berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap huruf-huruf itu. Huruf-huruf
itu dipandang masuk golongan mutasyabihat yang hanya Allah sendiri yang
mengetahui tafsirnya.
Huruf-huruf itu, sebagai yang pernah ditegaskan oleh
Asy-Syabi, ialah rahasia dari pada Al-Quran ini.
Ali bin Abi Thalib pernah berkata:
“Sesungguhnya bagi tiap-tiap Kitab ada saripatinya.
Saripati Al-Quran ini ialah, huruf-huruf Hijaiyah”.
Abu baker As-Shiddieqi pernah berkata:
“Di tiap-tiap kitab ada rahasianya. Rahasianya
dalam Al-Quran ialah permulaan-permulaan surat”.
Dalam hal ini Prof. Hasbi As-Shiddieqi menegaskan
bahwa dibolehkannya mentakwilkan huruf-huruf tersebut asal tidak menyalahi
penetapan Al-Quran dan As-Sunnah. Dalam pada itu yang lebih baik kita serahkan
saja kepada Allah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari segi bahasa, fawatihus suwar berarti
pembukaan-pembukaan surat, karena posisinya yang mengawali perjalanan teks-teks
pada suatu surat. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah, huruf cenderung
‘menyendiri’ dan tidak bergabung membentuk suatu kalimat secara kebahasaan.
Dari segi pembacaannya pun, tidaklah berbeda dari lafazh yang diucapkan pada
huruf hijaiyah.
Ibnu Abi Al Asba’ menulis sebuah kitab yang secara
mendalam membahas tentang bab ini, yaitu kitab Al-Khaqathir Al-Sawanih fi
Asrar Al-Fawatih. Ia mencoba menggambarkan tentang beberapa kategori dari
pembukaan-pembukaan surat yang ada di dalam Al-Quran. Pembagian karakter
pembukaannya adalah sebagai berikut. Pertama, pujian terhadap Allah swt
yang dinisbahkan kepada sifat-sifat kesempurnaan Tuhan. Kedua, yang
menggunakan huruf-huruf hijaiyah; terdapat pada 29 surat. ketiga, dengan
mempergunakan kata seru (ahrufun nida), terdapat dalam sepuluh surat.
lima seruan ditujukan kepada Rasul secara khusus. Dan lima yang lain ditujukan
kepada umat. Keempat, kalimat berita (jumlah khabariyah); terdapat dalam
23 surat. kelima, dalam bentuk sumpah (Al-Aqsam); terdapat dalam
15 surat.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Wahid, Ramli.Ulumul Quran. Jakarta: Rineka Cipta. 2002.
Ash-Shiddieqy ,Teungku Muhammad Hasbi. Ilmu-ilmu
Al-Qur’an. Semarang: Pustaka Rizki Putra.
2009.
J. Boullata, Issa. Al-Qur’an
yang Menakjubkan. Tangerang: Lentera Hati. 2008.
Muhammad,chirzin. Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an.
Yogyakarta:
PT Dana Bhakti Prima Yasa.1999.


0 comments:
Posting Komentar
Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.