FIELD
NOTE
Judul : Pengajian
dan Pelepasan KKN
Informan : Masyarakat
desa Amongrogo
Lokasi : dukuh Maliyan
desa Amongrogo
Waktu :
Ahad, 23 November 2014/ jam 19.30-22.30 WIB
Matahari
sudah bangun dari tempat persinggahannya, tapi pagi ini masih merasakan
sisa-sisa dinginnya tadi malam yang sempat diguyur hujan untuk daerah Limpung
dan sekitarnya. Tibalah waktunya, inilah acara yang paling ditunggu oleh saya
dan rekan-rekan KKN, yaitu acara pengajian dan pelepasan KKN yang
diselenggarakan di depan mushola Miftahul Huda RT. 02 dukuh Maliyan. Sebelumnya
kami sudah mempersiapkan segala hal yang berkenaan dengan acara tersebut dari
hal yang terkecil sampai yang terbesar. Dari hal penataan tempat, tamu
undangan, kyai, pembawa acara, dan yang tak ketinggalan yaitu konsumsi.
Pagi
harinya, saya dan rekan-rekan bertugas membungkus snack untuk acara nanti malam
ada tahu bacem, roti bolu kukus, air mineral, dan nagasari, meskipun snack-nya
sederhana tapi insya Allah halal, thoyyiban dan menyenyangkan. Siang harinya,
saya dan rekan-rekan membersihkan rumah sebagai tempat peristirahatan bagi para
perangkat desa, kyai serta khusus tamu undangan untuk nanti malam setelah acara
selesai. Sore harinya, saya, mbak Naeli, Slamet dan Pakdhe Momon mendapat tugas
untuk menjemput kyai di Wonopringgo dengan menaiki mobilnya Slamet. Sekali
dayung dua-tiga pulau terlampaui, selain menjemput kyai kami juga mengambil
plakat untuk kenangan desa Amongrogo di Rumah Ekspres Pekajangan, yang kami
pesan hari Sabtu kemarin.
Ketika
dalam perjalanan keluar dari desa, tiba-tiba saya teringat sesuatu yaitu nota
pengambilan plakat. Akhirnya kami berhenti sejenak di papan Amongrogo. Slamet
pun langsung menghubungi salah satu teman yang ada di posko. Tak lama kemudian,
Azim dan mbak Otim pun datang menemui kami. Setelah itu kami langsung
melanjutkan perjalanan. Perjalanan dari Limpung jam 5 lebih, alhamdulillah arah jalan menuju
Pekalongan tidak macet. Kami tiba di Kedungwuni tepat ketika waktu sholat
Maghrib. Kami pun melaksanakan sholat Maghrib terlebih dahulu di masjid sekitar
lapangan Mbebekan. Setelah itu kami menyantap makanan khas Pekalongan,
yaitu pindang tetel. Pakdhe Momon mengira pindang tetel itu, ikan pindang yang
ditetel atau diguling. Kami sempat tertawa ketika mendengar apa yang Pakdhe
Momon katakan.
Setelah
itu, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Wonopringgo. Sebelum kami ke
rumah kyai, kami mampir dulu ke rumahnya mbak Naeli. Di rumahnya kami bertemu
dengan keluarganya. Di sana dihidangkan nasi megono, karena kami masih kenyang,
akhirnya nasi satu piring dibagi tiga orang. Lalu kakaknya mbak Naeli menelepon
kyai, bahwa kami akan segera menjemputnya, kata kyainya minta dijemput setelah Isya
karena waktunya sebentar lagi memasuki waktu sholat Isya. Kami pun juga sholat,
pakdhe Momon dan Slamet sholat di musholla sedangkan saya sholat di rumahnya
mbak Naeli.
Setelah
sholat, kami langsung siap-siap pamit dan pergi menuju rumah kyai. Rumah beliau
tak jauh dari rumahnya mbak Naeli, jaraknya kurang lebih 3 km. Sesampai di
sana, ternyata kyainya baru akan sholat. Kami pun sedikit merasa kecewa, di
satu sisi kami sudah tergesa-gesa khawatir kyainya menunggu lama, di sisi lain
acara kami mengulur waktu banyak. Setelah kyainya selesai sholat, tepat pukul
menunjukkan angka 8, kami segera mungkin langsung melanjutkan perjalanan ke
Limpung, namun kami berhenti terlebih dahulu di Rumah Ekpress Pekajangan untuk
mengambil plakat yang telah kami pesan.
Setelah
itu kami langsung melanjutkan perjalanan ke Limpung. Selama perjalanan kami
sering kali di telefon rekan-rekan yang ada di posko. Kami pun juga mendapat
kabar kalau acaranya sudah dimulai. Hujan pun turun ketika kami sampai di
Batang. Begitu rasa capeknya dan dinginnya malam itu, sejenak saya tertidur
dalam perjalanan. Dan akhirnya tibalah di desa Amongrogo-Limpung pukul 9 malam.
Di posko ada dosen pembimbing lapangan, pak Ta’rifin. Kyainya pun langsung
diajak masuk ke posko, sambil menunggu acara hiburan selesai.
Setelah
acara hiburan selesai, acara dilanjutkan dengan penyerahan plakat sebagai
bentuk simbolis kenangan dari kami kepada Pak Kasmuri sebagai Lurah desa
Amongrogo. Dan inilah acara yang ditunggu yaitu acara inti tausyiah. Tausyiah
disampaikan oleh kyai. H. Sabilal Rosyad, Lc. dari Wonopringgo, beliau adalah
adik dari kyai Syam’ani. Sebenarnya tausyiah diisi oleh kyai Sam’ani, namun
karena tiba-tiba beliau ada acara mendadak, pengisi tausyiah pun diganti oleh
adiknya.
Dalam
isi tausyiahnya, beliau menyampaikan betapa pentingnya membaca seperti dalam
QS. Al-‘Alaq ayat 1-5. Dengan banyak membaca, maka wawasan dan ilmu kita akan
bertambah luas. Kita akan mengetahui apa yang belum kita ketahui. Orang yang
berilmu derajatnya akan ditinggikan oleh Allah SWT. Setelah itu beliau juga
menyampaikan adab sebelum tidur ala Rasulullah SAW. Dipertengahan dalam
penyampaian tausyiah, kami juga mengadakan gerakan amal untuk mushola RT. 01
dan 02 dukuh Maliyan.
Sekitar
pukul 22.30, acara selesai lalu dibacakan doa penutup. Setelah itu kami saling
bersalaman bersama masyarakat, suasana menjadi terharu ada yang meneteskan air
mata. Setelah itu kami mengumumkan hasil amal yang telah diberikan warga
sekitar, sebanyak Rp. 435.000,-. Lalu masyarakat kembali ke rumah
masing-masing. Acara telah selesai, kami pun membersihkan tempat bersama-sama.
Setelah itu kami bersama DPL, teman KKN dari kelompok lain, IRMAS, kyai dan
para perangkat desa menuju posko untuk makan malam bersama. Malam semakin
larut, satu persatu para tamu undangan meninggalkan posko kami.
Setelah
para tamu pulang, kami pun langsung membersihkan semua tempat posko. Tak terasa
jarum jam berada di angka 2. Begitu lelah dan bahagianya yang kami rasakan. Karena
pengajian ini adalah salah satu program unggulan kami. Sebelumnya Saya dan
rekan-rekan sempat khawatir dan cemas. Karena bulan ini musim hujan telah tiba,
kami takut pada malam ini hujan turun. Tapi ternyata hanya gerimis itu pun
hanya sebentar. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.
Catatan Reflektif :
Begitu antusiasnya masyarakat Amongrogo untuk mengikuti acara
pengajian dan pelepasan KKN.
Pertanyaan Lanjutan :
Apakah masyarakat Amongrogo semakin
termotivasi untuk gemar membaca seperti yang disampaikan oleh kyai Sabilal?
Oleh : BANAINA
ZULFA
NIM. 202 111
344


0 comments:
Posting Komentar
Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.