-

Kamis, 04 Desember 2014

FIELD NOTE KKN

FIELD NOTE

Judul              : Pengajian dan Pelepasan KKN
Informan        : Masyarakat desa Amongrogo
Lokasi             : dukuh Maliyan desa Amongrogo
Waktu                        : Ahad, 23 November 2014/ jam 19.30-22.30 WIB

Matahari sudah bangun dari tempat persinggahannya, tapi pagi ini masih merasakan sisa-sisa dinginnya tadi malam yang sempat diguyur hujan untuk daerah Limpung dan sekitarnya. Tibalah waktunya, inilah acara yang paling ditunggu oleh saya dan rekan-rekan KKN, yaitu acara pengajian dan pelepasan KKN yang diselenggarakan di depan mushola Miftahul Huda RT. 02 dukuh Maliyan. Sebelumnya kami sudah mempersiapkan segala hal yang berkenaan dengan acara tersebut dari hal yang terkecil sampai yang terbesar. Dari hal penataan tempat, tamu undangan, kyai, pembawa acara, dan yang tak ketinggalan yaitu konsumsi.
Pagi harinya, saya dan rekan-rekan bertugas membungkus snack untuk acara nanti malam ada tahu bacem, roti bolu kukus, air mineral, dan nagasari, meskipun snack-nya sederhana tapi insya Allah halal, thoyyiban dan menyenyangkan. Siang harinya, saya dan rekan-rekan membersihkan rumah sebagai tempat peristirahatan bagi para perangkat desa, kyai serta khusus tamu undangan untuk nanti malam setelah acara selesai. Sore harinya, saya, mbak Naeli, Slamet dan Pakdhe Momon mendapat tugas untuk menjemput kyai di Wonopringgo dengan menaiki mobilnya Slamet. Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui, selain menjemput kyai kami juga mengambil plakat untuk kenangan desa Amongrogo di Rumah Ekspres Pekajangan, yang kami pesan hari Sabtu kemarin.
Ketika dalam perjalanan keluar dari desa, tiba-tiba saya teringat sesuatu yaitu nota pengambilan plakat. Akhirnya kami berhenti sejenak di papan Amongrogo. Slamet pun langsung menghubungi salah satu teman yang ada di posko. Tak lama kemudian, Azim dan mbak Otim pun datang menemui kami. Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan. Perjalanan dari Limpung  jam 5 lebih, alhamdulillah arah jalan menuju Pekalongan tidak macet. Kami tiba di Kedungwuni tepat ketika waktu sholat Maghrib. Kami pun melaksanakan sholat Maghrib terlebih dahulu di masjid sekitar lapangan Mbebekan. Setelah itu kami menyantap makanan khas Pekalongan, yaitu pindang tetel. Pakdhe Momon mengira pindang tetel itu, ikan pindang yang ditetel atau diguling. Kami sempat tertawa ketika mendengar apa yang Pakdhe Momon katakan.
Setelah itu, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Wonopringgo. Sebelum kami ke rumah kyai, kami mampir dulu ke rumahnya mbak Naeli. Di rumahnya kami bertemu dengan keluarganya. Di sana dihidangkan nasi megono, karena kami masih kenyang, akhirnya nasi satu piring dibagi tiga orang. Lalu kakaknya mbak Naeli menelepon kyai, bahwa kami akan segera menjemputnya, kata kyainya minta dijemput setelah Isya karena waktunya sebentar lagi memasuki waktu sholat Isya. Kami pun juga sholat, pakdhe Momon dan Slamet sholat di musholla sedangkan saya sholat di rumahnya mbak Naeli.
Setelah sholat, kami langsung siap-siap pamit dan pergi menuju rumah kyai. Rumah beliau tak jauh dari rumahnya mbak Naeli, jaraknya kurang lebih 3 km. Sesampai di sana, ternyata kyainya baru akan sholat. Kami pun sedikit merasa kecewa, di satu sisi kami sudah tergesa-gesa khawatir kyainya menunggu lama, di sisi lain acara kami mengulur waktu banyak. Setelah kyainya selesai sholat, tepat pukul menunjukkan angka 8, kami segera mungkin langsung melanjutkan perjalanan ke Limpung, namun kami berhenti terlebih dahulu di Rumah Ekpress Pekajangan untuk mengambil plakat yang telah kami pesan.
Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan ke Limpung. Selama perjalanan kami sering kali di telefon rekan-rekan yang ada di posko. Kami pun juga mendapat kabar kalau acaranya sudah dimulai. Hujan pun turun ketika kami sampai di Batang. Begitu rasa capeknya dan dinginnya malam itu, sejenak saya tertidur dalam perjalanan. Dan akhirnya tibalah di desa Amongrogo-Limpung pukul 9 malam. Di posko ada dosen pembimbing lapangan, pak Ta’rifin. Kyainya pun langsung diajak masuk ke posko, sambil menunggu acara hiburan selesai.
Setelah acara hiburan selesai, acara dilanjutkan dengan penyerahan plakat sebagai bentuk simbolis kenangan dari kami kepada Pak Kasmuri sebagai Lurah desa Amongrogo. Dan inilah acara yang ditunggu yaitu acara inti tausyiah. Tausyiah disampaikan oleh kyai. H. Sabilal Rosyad, Lc. dari Wonopringgo, beliau adalah adik dari kyai Syam’ani. Sebenarnya tausyiah diisi oleh kyai Sam’ani, namun karena tiba-tiba beliau ada acara mendadak, pengisi tausyiah pun diganti oleh adiknya.
Dalam isi tausyiahnya, beliau menyampaikan betapa pentingnya membaca seperti dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1-5. Dengan banyak membaca, maka wawasan dan ilmu kita akan bertambah luas. Kita akan mengetahui apa yang belum kita ketahui. Orang yang berilmu derajatnya akan ditinggikan oleh Allah SWT. Setelah itu beliau juga menyampaikan adab sebelum tidur ala Rasulullah SAW. Dipertengahan dalam penyampaian tausyiah, kami juga mengadakan gerakan amal untuk mushola RT. 01 dan 02 dukuh Maliyan.
Sekitar pukul 22.30, acara selesai lalu dibacakan doa penutup. Setelah itu kami saling bersalaman bersama masyarakat, suasana menjadi terharu ada yang meneteskan air mata. Setelah itu kami mengumumkan hasil amal yang telah diberikan warga sekitar, sebanyak Rp. 435.000,-. Lalu masyarakat kembali ke rumah masing-masing. Acara telah selesai, kami pun membersihkan tempat bersama-sama. Setelah itu kami bersama DPL, teman KKN dari kelompok lain, IRMAS, kyai dan para perangkat desa menuju posko untuk makan malam bersama. Malam semakin larut, satu persatu para tamu undangan meninggalkan posko kami.
Setelah para tamu pulang, kami pun langsung membersihkan semua tempat posko. Tak terasa jarum jam berada di angka 2. Begitu lelah dan bahagianya yang kami rasakan. Karena pengajian ini adalah salah satu program unggulan kami. Sebelumnya Saya dan rekan-rekan sempat khawatir dan cemas. Karena bulan ini musim hujan telah tiba, kami takut pada malam ini hujan turun. Tapi ternyata hanya gerimis itu pun hanya sebentar. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.

Catatan Reflektif      :
Begitu antusiasnya masyarakat Amongrogo untuk mengikuti acara pengajian dan pelepasan KKN.
Pertanyaan Lanjutan           :
Apakah masyarakat Amongrogo semakin termotivasi untuk gemar membaca seperti yang disampaikan oleh kyai Sabilal?


Oleh : BANAINA ZULFA
NIM. 202 111 344

















0 comments:

Posting Komentar

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.

By :
Free Blog Templates