-

Sabtu, 15 Februari 2014

Makalah Psikologi Agama

PERKEMBANGAN JIWA KEAGAMAAN PADA ORANG DEWASA DAN USIA LANJUT
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas :
                        Mata Kuliah                          : Psokologi Agama
                        Dosen Pengampu                  : Nadhifatuz Zulfa,  M.Pd.


STAIN_2



Disusun oleh :
1.      Banaina Zulfa                       2021 111 344
2.      Nur Amiroh               2021 111 345
3.      Rusda Khairiyah        2021 111 371
4.      Anisa Nur Idatul F     2021 111 372

Kelas:  I
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012




BAB I
PENDAHULUAN

Psikologi Agama terdiri dari dua paduan kata, yakni psikologi dan agama. Kedua kata ini mempunyai makna yang berbeda. Psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab. Sedangkan agama memiliki sangkut paut dengan kehidupan batin manusia. Menurut Harun Nasution, agama berasal dari kata Al-din yang berarti undang-undang atau hukum, religi (latin) atau relegere berarti mengumpulkan dan membaca.
Dari definisi tersebut, psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku, serta keadaan hidup pada umumnya, selain itu juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.
Sikap keberagamaan pada orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Selain itu, sikap keberagamaan ini pada umumnya juga dilandasi oleh pendalaman pengertian dan perluasan pemahaman tentang ajaran agama yang dianutanya. Beragama bagi orang dewasa sudah merupakan sikap hidup dan bukan sekedar ikut-ikutan. Untuk lebih jelasnya dalam makalah ini, kami akan membahasnya secara detail mengenai perkembangan jiwa keberagamaan pada orang dewasa dan usia lanjut.










BAB II
PEMBAHASAN

A.                 Macam-Macam Kebutuhan

Menurut J.P. Guilford, terdiri dari:
1. Kebutuhan individual
Pada kebutuhan individual ini semuanya berhubungan dengan kebutuhan jasmani. Kebutuhan ini bergantung pada diri seseorang. Bagaimana dia merawat dan menjaga keseimbangan tubuhnya dalam kehidupannya. Kebutuhan invidual ini terdiri dari:
a.                   Homeotatis, kebutuhan yang dituntut tubuh dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan tubuh akan zat; protein, air, garam, mineral, vitamin, oksigen dan lainnya.
b.                   Regulasi temperature, penyesuaian tubuh dalam usaha mengatasi kebutuhan akan perubahan temperature badan. Pusat pengaturannya berada di bagian otak yang disebut Hypothalsum.
c.                   Tidur, kebutuhan manusia yang perlu dipenuhi agar terhindar dari gejala halusinasi.
d.                  Lapar, kebutuhan biologis yang harus dipenuhi untuk membangkitkan energi tubuh seperti organis.
e.                   Seks, kebutuhan seks sebagai salah satu kebutuhan yang timbul dari dorongan mempertahankan jenis. Tidak terpenuhi kebutuhan seks ini akan mendatangkan gangguan kejiwaan dalam bentuk prilaku seksual yang menyimpang (abnormal)[1] seperti:
1.                  Sadisme
2.                  Masochisme
3.                  Exhibitionisme
4.                  Scoptophilia
5.                  Voyeurisme
6.                  Triolisme
7.                  Transvestisme
8.                  Transsexualiisme
9.                  Sexualoralisme
10.              Sodomy

2. Kebutuhan Sosial
Kebutuhan sosial manusia tidak disebabkan pengaruh yang datang dari luar (stimulus) seperti layaknya pada binatang. Kebutuhan sosial pada manusia berbentuk nilai. Jadi, kebutuhan itu bukan semata-mata kebutuhan biologis melainkan juga kebutuhan rohaniah. Bentuk kebutuhan ini menurut Guilford terdiri dari:
a.                   Pujian dan hinaan
b.                  Kekuasaan dan mengalah
c.                   Pergaulan
d.                  Imitasi dan simpati
e.                   Perhatian
Selanjutnya Dr. Zakiah membagi kebutuhan manusia atas kebutuhan pokok yaitu:
1. Kebutuhan Primer
Yaitu kebutuhan jasmaniah: makan, minum, seks dan sebagainya (kebutuhan ini didapat manusia secara fitrah tanpa dipelajari).
2. Kebutuhan Sekunder
Yaitu kebutuhan rohaniah: Jiwa dan sosial. Kebutuhan ini hanya terdapat pada manusia dan sudah dirasakan sejak manusia masih kecil.
Selanjutnya beliau membagi kebutuhan sekunder yang pokok menjadi enam macam yaitu:
a.                   Kebutuhan akan rasa kasih sayang
b.                  Kebutuhan akan rasa aman
c.                   Kebutuhan akan rasa harga diri
d.                  Kebutuhan akan rasa bebas
e.                    Kebutuhan akan rasa sukses
f.                   Kebutuhan rasa ingin tahu

3. Kebutuhan Akan Agama
   Selain berbagai macam kebutuhan yang disebutkan di atas, masih ada lagi kebutuhan manusia yang sangat perlu diperhatikan, yaitu kebutuhan terhadap agama. Manusia disebut sebagai makhluk yang beragama (homo relegius). Ahmad Yamani mengemukakan, bahwa tatkala Allah membekali insan itu dengan nikmat berpikir dan daya penelitian, diberinya pula rasa bingung dan bimbang untuk memahami dan belajar mengenali alam sekitarnya sebagai imbangan atas rasa takut terhadap kegarangan dan kebengisan alam itu. Hal inilah yang mendorong insan tadi untuk mencari suatu kekuatan yang dapat melindungi dan dapat membimbingnya di saat-saat yang gawat.
Dalam ajaran agama Islam, bahwa adanya kebutuhan  terhadap agama disebabkan manusia selaku makhluk Tuhan dibekali dengan berbagai potensi (fitrah) yang dibawa sejak lahir. Salah satu fitrah tersebut adalah kecenderungan terhadap agama.

B.                 Sikap Keberagamaan pada Orang Dewasa

Sikap keberagamaan orang dewasa memiliki perpektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai dengan dipilihnya. Selain itu sikap keberagamaan ini umumnya juga dilandasi oleh pendalaman pengertian dan perluasan pemahaman tentang ajaran agama yang dianutnya. Beragama, bagi orang dewasa sudah merupakan sikap hidup dan bukan sekedar ikut-ikutan.[2]
Sejalan dengan tingkat perkembangan usianya, maka sikap keberagamaan pada orang dewasa antara lain memiliki ciri sebagai berikut:
1.      Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan
2.      Cenderung bersifat realitas, sehinggga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
3.      Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama, dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.
4.      Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
5.      Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.
6.      Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.
7.      Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
8.      Terlihat adanya hubungan antar sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang.

C.                      Manusia Usia Lanjut dan Agama

Hasil penelitian Neugarten terhadap manusia usia lanjut antara 70-79 tahun menunjukkan 75 persen dari mereka yang dijadikan responden menyatakan puas dengan status mereka sesudah menginjak masa bebas tugas. Sebagian besar mereka menunjukkan aktivitas yang positif dan tidak merasa berada dalam keterasingan dan hanya sedikit yang sudah berada dalam kondisi uzur serta mengalami gangguan kesehatan mental. Namun, umumnya mereka dihadapkan pada konflik batin antara keutuhan dan keputus-asaan. Karena itu mereka cenderung mengingat sukses masa lalu, sehingga umumnya mereka yang berada pada tingkat usia lanjut ini senang membantu para remaja yang aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, termasuk sosial keagamaan. Kehidupan keagamaan pada usia lanjut ini menurut hasil penelitian psikologi agama ternyata meningkat. M. Argyle mengutip sejumlah penelitian yang dilakukan oleh Cavan yang mempelajari 1200 orang sampel berusia antara 60-100 tahun. Temuan menunjukkan secara jelas kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan yang semakin meningkat pada umur-umur ini. Sedangkan, pengakuan terhadap realitas kehidupan akhirat baru muncul sampai 100 persen setelah usia 90 tahun.
Seringkali kecenderungan meningkatnya kegairahan dalam bidang keagamaan ini dihubungkan dengan penurunan kegairahan seksual. Menurut pendapat ini manusia usia lanjut mengalami frustasi dalam bidang seksual sejalan dengan penurunan kemampuan fisik. Frustasi semacam ini dinilai sebagai satu-satunya faktor yang membentuk sikap keagamaan. Pendapat ini disanggah oleh Thouless, yang beranggapan bahwa pendapat tersebut terlalu berlebihan. Sebab hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kegiatan seksual secara biologis boleh jadi sudah tidak ada, akan tetapi kebutuhan unuk dicintai dan mencintai tetap ada pada usia tua tersebut.
Mengenai kehidupan keagamaan pada usia lanjut ini William James menyatakan, bahwa umur keagamaan yang sangat luar biasa tampaknya justru terdapat pada usia tua, ketika gejolak kehidupan seksual sudah berakhir. Agaknya pendapat William James masih banyak dijadikan rujukan dalam melihat kehidupan para tokoh-tokoh agamawan seperti biarawan dan biarawati ataupun para biksu, agaknya korelasi tersebut menampakkan hubungan yang positif. Tetapi, menurut Robert Thouless, dari hasil temuan Gofer, memang menunjukkan bahwa kegiatan orang yang belum berumah tangga sedikit lebih banyak dari mereka yang telah berumah tangga, sedangkan kegiatan keagamaan orang yang sudah bercerai, jauh lebih banyak dari keduanya. Temuan ini menurut Thouless menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan berkorelasi terbalik dengan pemenuhan seksual sebagai sesuatu yang diharapkan bila penyimpangan seksual itu benar-benar merupakan salah satu faktor yang mendorong di balik perilaku keagamaan itu. Salah satu bagian yang paling mencolok mengenai hal itu adalah kecenderungan emosi keagamaan yang diekspresikan dalam bahasa cinta manusia. Hal ini sering terdapat di kalangan para penulis mistik.
Ciri-ciri Keagamaan Pada Usia Lanjut
Berbagai latar belakang yang menjadi penyebab kecenderungan sikap keagamaan pada manusia usia lanjut, seperti dikemukakan di atas bagaimanapun turut memberi gambaran tentang ciri-ciri keberagamaan mereka. Secara garis besar ciri-ciri keberagamaan di usia lanjut adalah:
1.  Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan.
2.  Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan .
3. Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara seungguh-sungguh.
4.  Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antara sesama manusia, serta sifat-sifat luhur.
5.  Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjutnya
6.  Perasaan takut kepada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan yang abadi (akhirat)

D.                Perlakuan Terhadap Orang Usia Lanjut Menurut Islam

 

Lain halnya dengan konsep yang dianjurkan oleh Islam. Perlakuan terhadap manusia usia lanjut dianjurkan seteliti dan setelaten mungkin. Perlakuan terhadap orang tua yang berusia lanjut dibebankan kepada anak-anak mereka, bukan kepada badan atau panti asuhan, termasuk panti jompo. Perlakuan terhadap orang tua menurut tuntunan Islam berawal dari rumah tangga. Allah menyebutkan pemeliharaan secara khusus orang tua yang sudah lanjut usia dengan memerintahkan kepada anak-anak mereka untuk memperlakukan kedua orang tua mereka dengan kasih sayang.
Sebagai pedoman dalam memberi perlakuan yang baik kepada kedua orang tua, Allah menyatakan:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS. Al-Israa’ (17): 23)
Abi Raja’ Al-Athady menyatakan bahwa yang dimaksud dengan uff (ah) adalah perkataan yang keji dan buruk. Uff  adalah perkataan yang biasanya diucapkan bagi sesuatu yang ditolak. Menurut Thoha Abdullah Al-Afifi, jika ada perkataan yang lebih buruk dari uff tentulah Allah menyebutkannya. Dan para ulama berpendapat bahwa perkataan uff kepada ibu bapak adalah sesuatu yang paling buruk. Ini menandakan bahwa anak menolak mereka.
Selanjutnya, Al-Quran melukiskan perlakuan terhadap kedua orang tua:
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil".” (QS. Al-Israa’ (17): 24).
Menurut Ibn Jarir dan Ibn Al-Munzir yang dimaksud dengan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan adalah tunduk kepada kedua orang tua sebagaiman tunduknya kepada tuannya. Pengertian itu memberi kiasan bagaimana seharusnya seorang anak bersikap di hadapan orang tuanya.
Sebagai gambaran tentang hal itu adalah pernyataan Aisyah ra. Tentang bagaimana perilaku anak kepada orang tua, adalah dialog Rasulullah SAW kepada seorang laki-laki. Rasul bertanya: “Siapakah yang bersamamu?” Orang itu menjawab: “Ayahku”. Beliau berkata: “Jangan berjalan di depannya dan jangan duduk sebelum dia, jangan memanggilnya dengan namanya dan jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain memakinya”.
Adalah agar anak memberi perlakuan khusus dengan menghayati bagaimana kedua orang tua mengasihi anak mereka sewaktu masih kecil. Melalui penghayatan yang demikian manusia diingatkan kepada kasih sayang dan susah payah kedua orang tuanya ketika mereka memeliharanya di waktu kecil. Dengan demikian, diharapkan kasih sayang kepada kedua orang tua akan bertambah.
Perlakuan kepada kedua orang tua dengan baik dikaitkan sebagai kewajiban agama. Menurut Ibn Abbas, Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Barangsiapa membuat ridha kedua orang tuanya di waktu pagi dan sore, maka ia pun mendapat dua pintu surga yang terbuka, dan jika membuat ridha salah satu di antaranya maka akan terbuka satu pintu surga. Barangsiapa di waktu sore dan pagi membuat marah kedua orang tuanya, maka ia mendapat dua pintu neraka yang terbuka. Jika membuat marah salah satu di antaranya, maka terbuka untuknya satu pintu neraka.”
Bahkan ketika mendengar seorang tua mengadukan kekikiran anaknya hingga sampai hati mengadukan bahwa ayahnya mengambil harta miliknya, maka rasul pun bersabda: “Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.”
Islam mengajarkan bahwa dalam perkembangannya, manusia mengalami penurunan kemampuan sejalan dengan pertambahan usia mereka
“Dan barangsiapa yang kami panjangkan umurnya niscaya kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (QS. Yaasin (36): 68)
Bahwa maksud kami kembalikan kepada kejadiannya, yaitu dikembalikan kepada keadaan manusia ketika ia baru dilahirkan, yaitu lemah fisik dan kurang akal. Menurut As-Shobuny, yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah, bila manusia dipanjangkan umurnya ke usia lanjut, maka ia akan kembali menjadi seperti bayi, yaitu tidak mengetahui sesuatupun. Watadah juga berpendapat senada, yaitu manusia usia lanjut itu layaknya seorang bayi yang kekuatannya menjadi melemah, hanya secara fisik saja terlihat lebih besar dari bayi.
Dari penjelasan di atas tergambar bagaimana perlakuan terhadap manusia usia lanjut menurut Islam. Manusia usia lanjut dipandang tak ubahnya seorang bayi yang memerlukan pemeliharaan dan perawatan serta perhatian khusus dengan penuh kasih sayang. Perlakuan yang demikian itu tidak dapat diwakilkan kepada siapapun, melainkan menjadi tanggung jawab anak-anak mereka. Perlakuan yang baik dan penuh kesabaran serta kasih sayang dinilai sebagai kebaktian. Sebaliknya, perlakuan yang tercela dinilai sebagai kedurhakaan.
Penjelasan ini menunjukkan bahwa perlakuan terhadap manusia usia lanjut menurut Islam merupakan kewajiban agama, maka sangat tercela dan dipandang durhaka bila seorang anak tega menempatkan orang tuanya di tempat penampungan atau panti jompo. Alasan apapun tak dapat diterima bagi perlakuan itu. [3]



















BAB III
PENUTUP


A.                Kesimpulan

Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir, akan tetapi kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya. Karena manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama, karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya Yang Maha Kuasa tempat mereka berlindung, dan memohon pertolongan. Sehingga keseimbagan manusia dilandasi kepercayan beragama. Sikap orang dewasa dalam beragama sangat menonjol jika kebutuhan akan beragama tertanam dalam dirinya.
Kestabilan hidup seseorang dalam beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kestabilan yang statis. Adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Beragama bagi orang dewasa sudah merupakan bagian dari komitmen hidupnya dan bukan sekedar ikut-ikutan. Namun, masih banyak lagi yang menjadi kendala kesempurnaan orang dewasa dalam beragama. Kedewasaan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya.
Masalah-masalah keberagamaan pada masa masa ini, minat dan kegiatan beragama. Hidup menjadi kurang rumit dan lebih berpusat pada hal-hal yang sungguh-sungguh berarti. Kesederhanaan lebih sangat menonjol pada usia tua. Kajian psikologi berhasil mengungkapkan bahwa di usia melewati setengah baya, arah perhatian mereka mengalami perubahan yang mendasar. Bila sebelumnya perhatian diarahkan pada kenikmatan materi dan duniawi, maka pada peralihan ke usia tua ini, perhatian mereka lebih tertuju kepada upaya menemukan ketenangan batin. Sejalan dengan perubahan itu, maka masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan akhirat mulai menarik perhatian mereka.



B. Saran

Dalam penulisan makalah ini kami menyadari masih terdapat kekurangan, kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi kesempurnaan makalah di masa yang akan datang.





















DAFTAR PUSTAKA


Arifin, Bambang Syamsul.2008. Psikologi Agama. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Jalaludin. 2010. Psikologi Agama. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Sururin. 2004. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada.











[1]  Prof. Dr. H. Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010, hal: 87-88.
[2] Drs. Bambang Syamsul Arifin,  Psikologi Agama, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008,  Hal. 118.

[3] Sururin, M.Ag. Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004, hal. 83

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.

By :
Free Blog Templates