TUGAS
UTS
Biografi
dan Pemikiran Pendidikan
Tokoh
Ibnu Sina
Mata Kuliah : Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Dwi Istiyani, M.Ag

Oleh
:
Banaina
Zulfa 2021 111 344
Kelas: I
PRODI PAI
JURUSAN
TARBIYAH
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012
BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan Islam sebagai suatu proses pengembangan
potensi kreatifitas peserta didik, bertujuan untuk mewujudkan manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, cerdas, terampil, memiliki etos kerja
yang tinggi, berbudi pekerti luhur, mandiri dan bertanggung jawab terhadap
dirinya, bangsa dan negara serta agama. Proses tersebut telah berlangsung
sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Ilmu pendidikan Islam merupakan prinsip, struktur,
metodologi, dan objek yang memiliki karakteristik epistemologi ilmu Islam. Oleh
karena itu, pendidikan Islam sangat bertolak belakang dengan ilmu-ilmu
pendidikan umum lainnya. Pengembangan pendidikan Islam adalah memperjuangkan
sebuah sistem alternatif yang lebih baik dan relatif dapat memenuhi kebutuhan
umat Islam dalam menyelesaikan semua problematika kehidupan yang mereka hadapi
sehari-hari.
Sebelum mengetahui bagaimana pandangan pemikiran
pendidikan Ibnu Sina, sebaiknya kita mengetahui sejarah perjalanan hidupnya.
Hal ini diharuskan mengingat sejarah perjalanan kehidupan seseorang sangat
begitu potensi memberikan pengaruh kepada aspek-aspek kehidupannya, karen untuk
mengawali makalah ini akan dikemukakan beberapa informasi tentang perjalanan
sejarah kehidupan Ibnu Sina.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Riwayat
Hidup Ibnu Sina
Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu `Ali al-Husain
ibnu `Abdillah. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa nama tersebut diambil
dari bahasa Latin, Avin Sina, dan sebagian lain mengatakan bahwa nama tersebut
diambil dari kata al-Shin yang dalam bahasa Arab berarti Cina.
Dalam sejarah pemikiran
Islam, Ibnu Sina dikenal sebagai intelektual muslim yang banyak mendapat gelar.
Ia lahir pada 370 H, bertepatan dengan tahun 980 M di Afshana, suatu daerah
yang terletak di dekat Bukhara kawasan Asia Tengah.[1]
Ayah Ibnu Sina bernama
Abdullah dari Balkh merupakan seorang sarjana terhormat Ismaili, berasal dari
Balkh Khurasan, pada saat kelahiran putranya yaitu Ibnu Sina, ayah Ibnu Sina
menjabat sebagai gubernur suatu daerah disalah satu pemukiman Nuh Ibnu Mansur,
sekarang wilayah Afghanistan (Persia). Ibu Ibnu Sina, bernama Satarah berasal
dari daerah Afshana.[2]
Ibnu Sina dididik di
bawah tanggung jawab seorang guru, dan kepandaiannya segera membuatnya menjadi
kekaguman di antara para tetangganya; dia menampilkan suatu pengecualian sikap
intelektual dan seorang anak yang luar biasa kepandaiannya yang telah menghafal
Al Qur’an pada usia 5 tahun dan juga seorang ahli puisi Persia. Pemikiran Ibnu
Sina independen dengan memiliki kepintaran dan ingatan luar biasa, yang
mengizinkannya menyusul para gurunya pada usia 14 tahun.
Di Eropa (dunia Barat)
Ibnu Sina lebih dikenal dengan sebutan akibat terjadinya metamorphose
Yahudi- Spanyol-Latin. Dari bahasa Spanyol kata Ibnu untuk Ibnu Sina diucapkan
Aben atau Even. Terjadinya perubahan ini berawal dari usaha penerjemahan
naskah-naskah arab ke dalam bahasa Latin pada pertengahan abad ke-12 di
Spanyol.[3]
Ibnu Sina dilahirkan pada tahun 370 H / 980 M di Afshana, sebuah kota kecil
dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (bagian dari Persia),[4]
dan wafat pada jum`at pertama Ramadhan tahun 428 H/1037 M dalam usia 57 tahun,
jasad Ibnu Sina dikebumikan di Hamadzan (Tehran).[5]
Nama Ibnu Sina semakin
terkenal ketika Ibnu Sina mampu
menyembuhkan penyakit Raja Bukhara bernama Nuh Ibn Manshur, saat itu umur Ibnu
Sina baru 17 tahun. Sebagai penghargaan, raja meminta Ibnu Sina menetap di istana
selama sang raja dalam proses penyembuhan. Namun Ibnu Sina menolaknya dengan
halus, sebagai imbalannya beliau (Ibnu Sina) hanya meminta izin untuk
menggunakan perpustakaan kerajaan terdapat di dalamnya buku-buku, buku tersebut
sulit didapatkan.
Hal itu dimanfaatkan
Ibnu Sina untuk membaca, mencari berbagai referensi dasar untuk menambah ilmunya
agar lebih luas berkembang.[6]
Kemampuan Ibnu Sina dengan cepat menyerap berbagai cabang ilmu pengetahuan
membuatnya menguasai berbagai materi intelektual dari perpustakaan kerajaan. Karena
kejeniusannya itu, Ibnu Sina mendapatkan gelar ilmiah, diantaranya Syaikh Ra`is serta Galenos Arab. Gelar tersebut diraih oleh Ibnu Sina ketika umurnya masih remaja.[7]
Setelah ayah Ibnu Sina
meninggal saat beliau (Ibnu Sina) berusia 22 tahun, beliau hijrah ke Jurjan,
suatu kota didekat laut kaspia, di sanalah ia (Ibnu Sina) mulai menulis
ensiklopedianya tentang ilmu kedokteran kemudian terkenal dengan nama al-Qanun
fi al-Tibb (the Qanun). Kemudian Ibnu Sina pindah ke Ray, kota di sebelah
Taheran. Selanjutnya, Ibnu Sina bekerja kepada Ratu Sayyedah dan anaknya Majd
al-Dawlah. Kemudian Sultan Syams al-Dawlah penguasa di Hamdan (di bahagian
Barat dari Iran) mengangkat Ibnu Sina menjadi Menterinya. Kemudian Ibnu Sina
hijrah ke Isfahan, Ibnu Sina meninggal dunia sebab sakit yang diderita Ibnu Sina
yaitu penyakit disentri pada pada tahun 428 Hijrah bersamaan dengan tahun 103 M
di Hamazan ( sekarang wilayah Iran).[8]
B.
Pendidikan Ibnu Sina
Ibnu Sina memulai pendidikannya
pada usia 5 tahun di kota kelahirannya, Bukhara.
Pengetahuan yang pertama kali yang dia pelajari adalah membaca al-Qur’an,
setelah itu ia melanjutkan dengan mempelajari ilmu-ilmu agama Islam seperti
Tafsir, Fiqih, Ushuluddin dan lain sebagainya, berkat ketekunan dan
kecerdasannya, beliau berhasil menghafal al-Quran dan menguasai berbagai cabang
ilmu-ilmu agama tersebut pada usia yang belum genap 10 tahun. Dalam bidang
Pendidikan lain, beliau juga mempelajari beberapa disiplin ilmu diantaranya
Matematika, logika, fisika, kedokteran, Astronomi, Hukum dan sebagainya.
Dengan kecerdasan yang beliau miliki, beliau banyak mempelajari filsafat
dan cabang -cabangnya, kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa
ketinggian otodidaknya, namun pada saat ia menyelami ilmu metafisikanya
Arisstoteles, beliau mengalami kesulitan kendati sudah berulang-ulang
membacanya bahkan beliau menghafalnya, tetap saja beliau belum dapat memahami
isinya. setelah ia membaca karya Al-Farabi dalam buku risalahnya, barulah Ibnu
Sina dapat memahami ilmu metafisika dengan baik. Secara tidak langsung Ibnu
Sina telah berguru kepada al-Farabi, bahkan dalam otobiografinya disebutkan
mengenai utang budinya kepada Al-Farabi.
Pada usia 16 tahun
beliau mulai dikenal sebagai ahli pengobatan, dan sudah benar-benar dikenal
pada saat beliau berumur 17 tahun dengan pembuktian bahwa beliau telah berhasil
menyembuhkan penyakit yang diderita Sultan Samani Nuh Ibn Mansur. Untuk
menambah ilmunya, beliau juga banyak menghabiskan sebahagian waktunya dengan
membaca serta membahas buku-buku yang beliau anggap penting di perpustakaan
kerajaan Nuh Ibnu Manshur yang bernama kutub Khana, di sinilah beliau
melepaskan dahaga belajarnya siang malam sehingga semua ilmu pengetahuan dapat
dikuasainya dengan baik.
C. Guru-Guru Ibnu Sina
Di samping belajar secara otodidak,
Ibnu Sina juga menyerap berbagai ilmu dari beberapa orang Guru, antara lain Abu
Bakar Ahmad bin Muhammad al-Barqi al-Khawarizmi untuk ilmu bahasa, Ismail
al-Zahid untuk ilmu fiqih, Abu Sahl al-Masihi serta Abu Manshur al-Hasan bin
Nuh untuk ilmu kedokteran. Beliau (Ibnu Sina) juga belajar Aritmatika dari `Ali
Natili seorang sufi ismaili berkebangsaaan India.
Ibnu Sina merupakan Filosof besar
Islam yang berhasil membangun sistem filsafat lengkap dan terperinci, suatu
sistem telah mendominasi tradisi filsafat Muslim beberapa abad. Pengaruh ini
terwujud bukan hanya karena Ibnu Sina memiliki sistem, tetapi karena sistem
yang dimilikinya menampakan keaslian juga menunjukkan jiwa yang jenius dalam
menentukan metode–metode serta diperlukan untuk merumuskan kembali pemikiran
rasional murni dan tradisi intelektual Ibnu Sina atau untuk mewarisi dan
dalam sistem keagamaan Islam.[9]
E. Pengaruh
Ibnu Sina
Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti karya pemikiran dan
telaahnya dibidang kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia Islam tetapi juga
merambah ke Eropa. Kontribusi Ibnu Sina terhadap pemikiran dan ilmu pengetahuan
amatlah besar, diakui berpengaruh signifikan kepada para ilmuwan, pemikir dan
filusuf generasi-generasi sesudahnya. Berkat prestasinya dalam ilmu medis, Ibnu
Sina memperoleh julukan “Father of DDi dalam bukunya octors” (Bapak Para
Dokter). Natsir Arsyad menyebutkan bahwa dokter kawakan Ibnu Sina pernah
dijuluki sebagai Medicorum Principal atau “Raja Diraja Dokter”, oleh kaum Latin
Skolastik. Julukan lain pernah diberikan kepada Ibnu Sina, misalnya, adalah
“Raja Obat”. Dalam dunia Islam sendiri, ia (Ibnu Sina) dianggap sebagai zenith,
puncak tertinggi dalam ilmu kedokteran.[10]
George Sarton, menyatakan bahwa
prestasi medis Ibnu Sina
sedemikian lengkap sehingga mengecilkan sumbangan lainnya dari seluruh dunia,
seolah-olah mereka hanya membuat penemuan lebih kecil, dan sementara itu
penyelidikan orisinal menyusut beberapa abad setelah masa Ibnu Sina. Sarton
juga menguraikan pengaruh Ibnu Sina
sangat besar terhadap ruang lingkup juga perkembangan ilmu kedokteran Barat.
Karya ilmiah (textbook) Ibnu Sina merupakan referensi dasar utama ilmu medis di
Eropa dalam periode waktu lebih panjang dari buku-buku lainnya .[11]Sepertinya
kontribusi terpenting dari Ibnu Sina dan diwariskan ibnu sina kepada dunia kedokteran adalah dalam ilmu medisnya,
yaitu Qanun fi al-Thibb (Canon of Medicine, Konstitusi Ilmu Kedokteran).
Seyyed Hossein Nasr menyebutkan bahwa karya besar Qanun itu adalah karya paling
banyak dibaca juga besar pengaruhnya pada ilmu medis Islam dan Eropa.[12]
Karya besar ini merupakan satu dari buku yang paling sering dicetak di Eropa
pada masa Renaisans dalam terjemahan Latinnya oleh Gerard dari Cremona. Buku
teks standar ini terdiri dari lima bagian pokok: prinsip-prinsip umum,
obat-obatan, penyakit organ-organ tertentu, penyakit lokal bertendensi menjalar
ke seluruh tubuh, seumpama demam, dan obat-obatan majemuk. Arsyad juga
menyebutkan bahwa buku Qanun Ibnu Sina sejak zaman dinasti Han di Cina telah
menjadi buku standar karya-karya medis Cina. Pada Abad Pertengahan, sejumlah
besar karya Ibnu Sina telah diterjemahkan dalam bahasa Latin dan Hebrew, karya
Ibnu Sina dalam bidang bahasa tersebut merupakan bahasa-bahasa pengantar ilmu
pengetahuan masa itu.
Di bidang filsafat, pendahuluan Ibnu
Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan
sesudahnya. Ibnu Sina otodidak, genius orisinil bukan hanya dunia Islam
menyanjungnya, ia (Ibnu Sina) memang merupakan satu bintang gemerlapan
memancarkan cahaya sendiri, bukan pinjaman sehingga Roger Bacon, filosof
kenamaan dari Eropa Barat pada Abad Pertengahan menyatakan dalam Regacy of
Islam-nya Alfred Gullaume; “Sebagian besar filsafat Aristoteles sedikitpun tak
dapat memberi pengaruh di Barat, karena kitabnya tersembunyi entah dimana,
kendatipun ada, sangat sukar sekali didapatnya dan sangat susah dipahami dan
digemari orang karena peperangan-peperangan yang merajalela di sebelah Timur,
sampai saatnya Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd dan juga pujangga Timur lain
membuktikan kembali falsafah Aristoteles disertai dengan penerangan dan
keterangan yang luas.[13]
Selain kepandaiannya sebagai flosof
dan dokter, Ibnu Sina pun penyair. Ilmu-ilmu pengetahuan seperti ilmu jiwa,
kedokteran dan kimia ada ditulisnya dalam bentuk syair, dapat ditemukan melalui
buku-buku dikarangnya untuk ilmu logika dengan syair. Kebanyakan buku-bukunya
telah disalin ke dalam bahasa Latin. Ketika orang-orang Eropa di abad tengah,
mulai mempergunakan buku-buku itu sebagai textbook, diberbagai universitas.
Oleh karena itu nama Ibnu Sina dalam abad pertengahan di Eropa sangat
berpengaruh.[14]
Dalam dunia Islam kitab-kitab Ibnu Sina terkenal, bukan saja karena kepadatan
ilmunya, akan tetapi karena bahasanya baik diiringi caranya menulis sangat
terang. Selain menulis dalam bahasa Arab, Ibnu Sina juga menulis dalam bahasa
Persia. Buku -bukunya dalam bahasa Persia, telah diterbitkan di Teheran dalam tahun
1954.
G.
Pelajaran
dari karakter personal Ibnu Sina
Pelajaran penting bisa diambil dari
kisah Ibnu Sina di atas dari
mulai masa kecil, masa remaja hingga masa tuanya adalah bahwa hidup ini memang
penuh perjuangan serta kerja keras dalam hal menuntut ilmu agar ilmu itu bisa
berguna untuk diri sendiri dan orang lain. Keseimbangan iman juga takwa ibnu sina, dibuktikan dengan belajar alquran dari kecil
membuktikan bahwa jiwanya dari kecil sudah diisi dengan ruh yang suci sehingga
dalam perjalanan hidupnya selalu mengharap ridho dan tawakkal kepada Allah
untuk mencapai cita-cita, disamping berusaha dengan mempelajari ilmu dengan
gurunya dan belajar secara otodidak
Dengan membaca Al-Qur’an sedari dini
manusia bisa menggali ilmu pengetahuan di dalamnya, karena sesungguhnya Alquran
adalah ilmunya dan kehidupan di alam ini adalah prakteknya. Ibnu Sina dengan seksama menggabungkan
itu semua yaitu antara Alquran dan praktek di alam raya ini, sehingga muncullah
ide-ide atau pemikiran belum ada di Barat pada saat itu. Dengan hasil karya
pada waktu itu bisa mengubah dunia dalam bidang kedokteran sangat mengagumkan
juga luar biasa, pantaslah Ibnu Sina menjadi inspirasi banyak orang, baik
muslim maupun non muslim kemudian ingin belajar tentang ilmu pengetahuan
khususnya kedokteran, filsafat dan ilmu alam.
Sebagai orang tua dan selalu ingin
anak keturunanya menjadi anak cerdas dalam segala bidang, tentunya dianjurkan
mengikuti kisah hidup Ibnu Sina di atas. Yaitu menyeimbangkan pelajaran antara
ilmu agama dan ilmu umum atau ilmu pengetahuan sebagai prakteknya. Sehingga
jika dalam perjalanan menuju cita-cita yang ingin dicapai, di tengah jalan
mengalami kendala atau kerikil-kerikil, maka anak tersebut tidak mudah putus
asa. Tetapi bisa berhenti sejenak dari hiruk pikuk kesibukan duniawi, kemudian
mendekatkan diri kepada Sang Pencipta kehidupan, maka insya Allah segala
kesulitan, rintangan akan secepatnya terselesaikan karena kita selalu mengingat
kepada Sang Pencipta. Walaupun sebenarnya tidak pada saat menghadapi kesulitan
saja meminta pertolongan, tetapi setiap waktu menginggat kita harus ingat
kepada Allah SWT, sehingga segala pekerjaan untuk dikerjakan selalu diberi
Ridho oleh-Nya, semoga diberi kemudahan walaupun segala kendala pasti ada, tapi
kalau dari awal sudah diniatkan untuk kepentingan baik dan untuk orang banyak,
pasti selalu dibimbing oleh-Nya.
H. Karir Ibnu Sina sebagai Ilmuan
Mengawali karirnya pertama Ibnu Sina
mengikuti kiprah orang tuanya, yaitu membantu tugas-tugas amir Nuh bin Mansur.
Ibnu Sina misalnya diminta menyusun kumpulan pemikiran filsafat oleh Abu
al-Husain al-Arudi. Untuk ini Ibnu Sina menyusun buku al-Majmu’. Setelah itu
Ibnu Sina menulis buku al-Hashil wa al-Mashul dan al-Birr wa al-Ism atas
permintaan Abu Bakar al-Barqy al-Hawarizmy.[15]
Setelah usia Ibnu Sina atau
memasuki 22 tahun, ayahnya meninggal dunia, kemudian terjadi kemelut
politik di tubuh pemerintahan Nuh bin Mansur. Kedua orang putera kerajaan,
yaitu Mansur, Abd Malik saling berebut kekuasaan, kemudian dimenangkan oleh
Abdul Malik. Selanjutnya dalam pemerintahan yang belum stabil saat itu terjadi
serbuam dilakukan oleh kesultanan Mahmud al-Ghaznawi, sehingga seluruh wilayah
kerajaan Samani berpusat di Bukhara jatuh ke tangan Mahmud al-Ghaznawi
tersebut.[16]
Dalam keadaan situasi politik yang
bagitu ricuh, Ibnu Sina
memutuskan untuk meninggalkan daerah asalnya. Ibnu Sina pergi ke Karkang
ibukota al-Khawarizm, di daerah tersebut Ibnu Sina mendapat penghormatan juga
perlakuan baik. Di kota ini pula Ibnu Sina banyak berkenalan dengan sejumlah
pakar para ilmuwan seperti, Abu al-Khir al-Khamar, Abu Sahl ‘Isa bin Yahya
al-Masity al-Jurjani, Abu Rayhan al-Biruni serta Abu Nash al-Iraqi. Setelah
itu, Ibnu Sina melanjutkan perjalanan ke Nasa, Abiwarud, Syaqan, Jajarin
selanjutnya ke Jurjan. Setelah kota yang disinggahi Ibnu Sina terakhir ini juga
kurang aman, Ibnu Sina memutuskan pindah ke Rayi, bekerja pada As-Sayyidah dan
putranya Madjid al-Daulah, waktu itu terserang penyakit, dan membantu
menyembuhkannya. Sejarah serta perjalanan hidupnya dari segi keilmuannya dapat
dibahagi kepada dua fasa. pertama adalah fasa pembentukan (al-tahsil) dan fasa
produktif (al-intaj al-ilmi).
Fase pertama yaitu fase
belajar Ibnu Sina
mengawali dari usia 5 tahun sehingga 10 tahun dalam mempelajari ilmu juga dasar
Alquran serta ilmu-ilmu agama. Ibnu Sina mengalami masa yang lebih didominasi
oleh masa belajarnya, Ibnu Sina lebih banyak melakukan penyerapan; di mana
aktivitas Ibnu Sina lebih banyak kepada reseptif dan retentif. Fase keduanya,
yaitu fase produktif, semasa Ibnu Sina berumur 21 tahun.Waktu ini Ibnu
Sina mulai melakukan aktivitas bersifat produktif. Ibnu Sina melakukan
aktivitas lebih produktif yaitu menghasilkan karya-karya secara produktif dan
sintesis. Ibnu Sina mulai mengarang kitab-kitab tentang metafisika, logika,
kedoktoran, psikologi, fisika.
Dalam sejarah kehidupannya, Ibnu
Sina juga dikenal sebagai seorang ilmuwan yang sangat produktif dalam menghasilkan
berbagai karya buku. Buku-buku karangannya hampir meliputi seluruh cabang ilmu
pengetahuan, diantarannya ilmu kedokteran, filsafat, ilmu jiwa, fisika, logika,
politik dan sastra arab. Adapun karya-karyanya sebagai berikut :
·
Kitab Qanun fi al-Thib,
merupakan karya Ibnu Sina dalam
bidang ilmu kedokteran. Buku ini pernah menjadi satu-satunya rujukan dalam
bidang kedokteran di Eropa selama lebih kurang 5 abad. Buku ini merupakan
iktisar pengobatan Islam juga diajarkan hingga kini di Timur.
·
Kitab As-Syifa,
merupakan karya Ibnu Sina dalam bidang filsafat. Kitab ini antara lain
berisikan tentang uraian filsafat dengan segala aspeknya
·
Kitab An-Najah,
merupakan kitab tentang ringkasan dari kitab As-Syifa, kitab ini ditulis oleh
Ibnu Sina untuk para pelajar yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu hikmah,
selain itu buku ini juga secara lengkap membahas tentang pemikiran Ibnu Sina
tentang ilmu Jiwa.
·
Kitab Fi Aqsam al-Ulum
al-Aqliyah, merupakan karya Ibnu Sina dalam bidang ilmu fisika. Buku ini
ditulis dalam bahasa Arab juga masih tersimpan dalam berbagai perpustakaan di
Istanbul, penerbitannya pertama kali dilakukan di Kairo pada tahun 1910 M,
sedangkan terjemahannya dalam bahasa Yahudi dan Latin masih terdapat hingga
sekarang.
Selain kitab-kitab tersebut masih
banyak karya Ibnu Sina berjumlah cukup besar, namun untuk mengetahui berapa
jumlah buku karya-karya Ibnu Sina tersebut secara pasti sangatlah sulit,
mengingat perbedaan tentang sedikit banyaknya data yang digunakan. Namun untuk
menjawab hal ini, setidaknya ada dua pendapat. Pertama, dari penyelidikan yang
dilakukan oleh Father dari Domician di Kairo terhadap karya-karya Ibnu Sina, ia
mencatat sebanyak 276 buah. Kedua, Phillip K.Hitti dengan menggunakan daftar
dan dibuat al-Qifti mengatakan bahwa karya-karya tulis Ibnu Sina sekitar 99
(sembilan puluh sembilan) buah.[18]
Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti karya pemikiran juga
telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia Islam tetapi juga
merambah ke Eropa. Kontribusi Ibnu Sina terhadap pemikiran serta ilmu
pengetahuan amatlah besar dan diakui berpengaruh signifikan kepada para
ilmuwan, pemikir, filusuf generasi-generasi sesudahnya. Berkat
prestasinya dalam ilmu medis, Ibnu Sina memperoleh julukan “Father of
Doctors” (Bapak Para Dokter). Natsir Arsyad menyebutkan bahwa dokter
kawakan Ibnu Sina pernah dijuluki sebagai Medicorum Principal atau “Raja Diraja
Dokter”, oleh kaum Latin Skolastik. Julukan lain juga diberikan kepada Ibnu
Sina, seperti, “Raja Obat”. Dalam dunia Islam sendiri, Ibnu Sina dianggap
sebagai zenith, puncak tertinggi dalam ilmu kedokteran.
George Sarton, menyatakan bahwa
prestasi medis Ibnu Sina
sedemikian lengkap sehingga mengecilkan sumbangan lainnya dari seluruh dunia,
seolah-olah mereka hanya membuat penemuan kecil, sementara itu penyelidikan
orisinal menyusut beberapa abad setelah masa Ibnu Sina. Sarton juga menguraikan
pengaruh Ibnu Sina sangat besar
terhadap ruang lingkup juga perkembangan ilmu kedokteran Barat. Karya ilmiah
(textbook) Ibnu Sina merupakan referensi dasar utama ilmu medis di Eropa dalam
periode waktu yang lebih panjang dari buku-buku lainnya yang pernah ditulis.
Sepertinya kontribusi terpenting
Ibnu Sina diwariskan untuk dunia kedokteran adalah dalam ilmu medisnya, yaitu
Qanun fi al-Thibb (Canon of Medicine, Konstitusi Ilmu Kedokteran). Seyyed
Hossein Nasr, menyebutkan bahwa karya besar Qanun itu adalah karya paling
banyak dibaca, hal ini besar pengaruhnya pada ilmu medis Islam dan Eropa. Karya
besar ini merupakan satu dari buku yang paling sering dicetak di Eropa pada
masa Renaisans dalam terjemahan Latin-nya oleh Gerard dari Cremona. Buku teks
standar ini terdiri dari lima bagian pokok: prinsip-prinsip umum, obat-obatan,
penyakit organ-organ tertentu, penyakit lokal bertendensi menjalar ke seluruh
tubuh, seumpama demam,juga obat-obatan majemuk. Arsyad juga menyebutkan bahwa
buku Qanun Ibnu Sina sejak zaman dinasti Han di Cina telah menjadi buku standar
karya-karya medis Cina. Pada Abad Pertengahan, sejumlah besar karya Ibnu Sina telah
diterjemahkan dalam bahasa Latin juga Hebrew, yang merupakan bahasa-bahasa
pengantar ilmu pengetahuan masa itu.
Di bidang filsafat, Ibnu Sina
dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya.
Ibnu Sina otodidak juga genius orisinil, bukan hanya dunia Islam menyanjung
(ibnu sina) sebagai satu bintang gemerlapan memancarkan cahaya sendiri, juga
bukan pinjaman, sehingga Roger Bacon, filosof kenamaan dari Eropa Barat pada
Abad Pertengahan nbsp; filusuf generasi-generasi sesudahnya. Berkat prestasinya
dalam ilmu medis, Ibnu Sina memperoleh julukan menyatakan dalam Regacy of
Islam-nya Alfred Gullaume; “Sebagian besar filsafat Aristoteles sedikitpun
tidak dapat memberi pengaruh di Barat, karena kitabnya tersembunyi entah
dimana, kendatipun ada, sangat sukar sekali didapatnya serta sangat susah
dipahami kemudian digemari orang karena peperangan - peperangan yang merajalela
di sebeleah Timur, sampai saatnya Ibnu Sina, Ibnu Rusyd juga pujangga Timur
lain membuktikan kembali falsafah Aristoteles disertai dengan penerangan dan
keterangan yang luas.
Selain kepandaiannya sebagai flosof
dan dokter, Ibnu Sina pun penyair. Ilmu – ilmu pengetahuan seperti ilmu jiwa,
kedokteran dan kimia ditulisnya dalam bentuk syair, dapat ditemukan melalui
buku-buku karya Ibnu Sina untuk ilmu logika dengan syair. banyak buku-buku Ibnu
Sina telah disalin ke dalam bahasa Latin. Ketika orang–orang Eropa di abad
tengah, mulai mempergunakan buku - buku itu sebagai textbook, di berbagai
universitas. Oleh karena itu nama Ibnu Sina dalam abad pertengahan di Eropa
sangat berpengaruh.
Dalam dunia Islam kitab-kitab Ibnu
Sina terkenal, bukan saja karena kepadatan ilmunya, akan tetapi karena
bahasanya yang baik dan caranya menulis sangat terang. Selain menulis dalam
bahasa Arab, Ibnu Sina juga menulis dalam bahasa Persia. Buku -bukunya dalam
bahasa Persia, telah diterbitkan di Teheran dalam tahun 1954.
Dapat disimpulkan bahwa begitu
besarnya pengaruh dari sosok Ibnu Sina mengenai pemikiran yang beliau tuangkan
kepada kita. Ide-ide cemerlang dari ibnu sina memberikan dampak signifikan
dalam ilmu pengetahuan, untuk itulah mari kita memperbanyak syukur karena kita
dapat mengetahui ilmu-ilmu dari karya-karya Ibnu Sina.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Husein ibn Abdillah ibn Hasan ibn
Sina. Ia diberi gelar Syaikh ar-Ra’is. Dilahirkan dalam keluarga bermazhab
Syi’ah tahun 370 H/ 980 M, di desa Efyanah (Kawasan Bukhara). Ia meninggal
dunia pada hari Jum’at bulan Ramadhan dalam usia 58 tahun, dan dikuburkan di
Hamazan.
Karangan-karangan Ibnu Sina yang terkenal diantaranya ialah: Asy-Syifa, An-Najat, Al-Isyarat wat-Tanbikat dan Al-Qanun.
Karangan-karangan Ibnu Sina yang terkenal diantaranya ialah: Asy-Syifa, An-Najat, Al-Isyarat wat-Tanbikat dan Al-Qanun.
Pemkikiran Filsafat Ibnu Sina: Al-Tawfiq (Rekonsiliasi) antara
Agama dan Filsafat, Filsafat Wujud (Wajib Al-Wujud, Mumkin Al-Wujud, Mumtani’
Al-Wujud), Filsafat Emanansi atau pancaran, Filsafat Jiwa.
B.
SARAN
Orang bijak mengatakan
bahwa “tak ada gading yang tak retak”. Tidak ada sesuatupun dijagad raya ini
yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata. Begitu pula dengan
penyajian makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh
karena itu kami mengharapkan masukan-masukan yang berupa kritik maupun saran
yang bersifat membangun guna pembuatan makalah selanjutnya. Sehingga kami dapat
membenahi sedikit demi sedikit kesalahan maupun kekurangan tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Athif al- `Iraqy, Muhammad. 1978. al-Falsafat al-Islamiyyat. (Kairo: Dar al-Ma`arif).
Arsyad, Natsir. 1989. Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah.
(Bandung: Mizan).
Haque, M. Atiqul. 1998. Wajah
Peradaban: Menelusuri Jejak Pribadi-Pribadi Besar Islam, Terj. Budi Rahmat
et.al. (Bandung: Zaman).
Hoesin, Oemar Amin. 1975. Filsafat Islam. (Jakarta : Bulan Bintang).
Madjid , Nurcholis. 1997. Kaki
Langit Peradaban Islam.
(Jakarta:Paramadina).
Munawir, Imam. 1985. Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari
masa ke masa. (Surabaya : PT. Bina Ilmu).
Nasution, Harun.1996. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya. (Jakarta:
Universitas Indonesia).
Nasution , Harun. 1992. Falsafat
dan Mistisme dalam Islam. (Jakarta : Bulan Bintang)
Nata, Abuddin. 2000. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. (Jakarta
: PT Raja Grafindo Persada).
Nasr, Seyyed Hossein. 1968. Science and Civilization in Islam
(Cambridge).
o’Leary, De Lacy, Al-Fikr al-‘Arabi wa Makanuhu fi al-Tarikh.(Mesir : al- Muassasah al-‘Ammah. 1401 H).
o’Leary, De Lacy, Al-Fikr al-‘Arabi wa Makanuhu fi al-Tarikh.(Mesir : al- Muassasah al-‘Ammah. 1401 H).
Rahman, fazlur. 1959. ’s Psychology. (London :
Oxford University Press).
Riswanto, Arif Munandar. 2010. Buku Pintar Islam.
(Bandung: PT Mizan Pustaka)
Rizal, Syamsul.
2010. Pengantar Filsafat Islam.
( Bandung: Cita Pustaka Media Perintis)
Sarton, George. 1952. A History of Science.
(New York: Harvard University Press)
Zaenal Abidin, Ahmad, Ibnu Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia, (Bulan
Bintang, 1949)
Zar, Sirajuddin. 2009. Filsafat Islam Filosof of Filsafatnya. (
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada).
[2]:Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya,
(Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia), 1996, hal.50
[3] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam Filosof of Filsafatnya,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009), hal. 91. Lihat juga : Nurcholis
Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam,
(Jakarta: Paramadina, 1997), hal. 94
[4] Muhammad Athif al- `Iraqy, al-Falsafat al-Islamiyyat, (Kairo: Dar
al-Ma`arif, 1978), hal. 43
[5] Arif Munandar Riswanto, Buku Pintar Islam, (Bandung: PT Mizan
Pustaka, 2010), hal. 446
[6] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam,
(Jakarta : Bulan Bintang), 1992, hal. 34
[7] Arif Munandar, Op Cit, hal. 445
[9] Syamsul Rizal, Op
Cit, hal. 144
[12]
Seyyed
Hossein Nasr, Science and Civilization in
Islam (Cambridge: The Islamic Texts Society 1987), hal 51
[13]
Imam
Munawir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan
Pemikir Islam dari masa ke masa , (Surabaya : PT. Bina Ilmu1985), hal. 332
- 333
[15]Athif al- `Iraqy, Muhammad, al-Falsafat al-Islamiyyat, (Kairo: Dar al-Ma`arif, 1978). Hal. 34
[16]
De Lacy
o’Leary, Al-Fikr al-‘Arabi wa Makanuhu fi
al-Tarikh, ( Mesir : al-Muassasah a‘Ammah,1401 H), h. 181
[17] fazlur Rahman, Avicenna’s Psychology, (London : Oxford
University Press,1959), h. 64.
[18] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh
Pendidikan Islam, ( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2000), h. 65.

