AYAT
AL-QUR’AN DAN HADIST TENTANG MOTIVASI KERJA
MAKALAH
Disusun
guna memenugi tugas :
Mata
kuliah : KEWIRAUSAHAAN
Dosen
pengampu : M. Izza, M.Si.
Oleh :
Bagus Amuji 2021 111 319
Nana Nurhidayah 2021 111
Banaina Zulfa 2021 111 344
Kelas
: B
PRODI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN
TARBIYAH
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
PEKALONGAN
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
Dalam
kehidupan sehari-hari, manusia dituntut untuk memenuhi kebutuhannya agar dapat
melangsungkan kehidupannya. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut
adalah dengan bekerja. Namun sebagai orangmukmin, kita juga harus memperhatikan
ajaran dan norma yang telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad kepada kita. Karena
Nabi Muhammad adalah seorang Uswah Hasanah yang telah memberikan banyak contoh
dalam kehidupan kita dan tidak diragukan lagi kebenarannya.
Dalam
konteks ajaran Islam tentang perekonomian (iqtishadiyah), bekerja adalah modal
dasar ajaran Islam itu sendiri. Sehingga disebutkan seorang muslim yang bekerja
adalah orang mulia, sebab bekerja adalah bentuk ibadah yang merupakan kewajiban
setiap orang yang mengaku mukmin.Namun, dalam bekerja juga harus disertai
dengan niat yang benar.Sebab, motivasi kerja merupakan dasar bagi manusia untuk
memperoleh nilai ibadah dari Allah SWT.Karena segala sesuatu tergantung dari
niatnya. Sehingga apabila niat kita salah dalam bekerja, maka kita tidak akan
pahala dari Allah, dan amalan kita menjadi sia-sia di akhirat. Oleh sebab itu,
dalam pembahasan ini, kami akan menjelaskan bagaimana motivasi kerja yang benar
dalam Islam.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Motivasi Kerja
Motif
adalah sebab-sebab yang menjadi dorongan, tindakan seseorang, dasar pikiran
atau pendapat, sesuatu yang menjadi pokok.[1] Kerja merupakan sesuatu yang
dikeluarkan oleh seseorang sebagai profesi, sengaja dilakukan untuk mendapatkan
penghasilan. Kerja dapat juga diartikan sebagai pengeluaran energi untuk
kegiatan yang dibutuhkan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu.[2]
Motivasi berasal dari kata latin “movere” yang berarti “dorongan
atau daya penggerak”. Motivasi ini diberikan kepada manusia, khususnya kepada
para bawahan atau pengikut. Adapun kerja adalah sejumlah aktivitas fisik dan
mental untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan. Terkait dengan hal tersebut, maka yang
dimaksud dengan motivasi adalah mempersoalkan bagaimana caranya mendorong
gairah kerja bawahan, agar mereka mau bekerja keras dengan memberikan semua
kemampuan dan ketrampilannya untuk mewujudkan tujuan organisasi.[3]
Miftah Faridl berpendapat bahwa niat bisa
diartikan dengan motif , karena pengertian niat ada dua pengertian yaitu
getaran batin untuk menentukan jenis perbuatan ibadah seperti sholat subuh,
tahiyatul masjid dan lain-lain. Niat yang kedua dalam arti tujuan adalah maksud
dari sesuatu perbuatan (motif).[4]
Motivasi merupakan proses psikologis yang mendasar, dan merupakan
salah satu unsur yang dapat menjelaskan perilaku seseorang. Motivasi merupakan
salah satu faktor penentu dalam mencapai tujuan. Motivasi berhubungan dengan
dorongan atau kekuatan yang berada dalam diri manusia. Motivasi berada dalam diri
manusia yang tidak terlihat dari luar. Motivasi menggerakkan manusia untuk
menampilkan tingkah laku ke arah pencapaian suatu tujuan tertentu. Menurut Abu
Ahmadi, motivasi merupakan dorongan yang telah terikat pada suatu tujuan.
Motivasi merupakan hubungan sistematik antara suatu respons atau suatu
himpunana respons dan keadaan dorongan tertentu. [5]
Definisi motivasi kerja menurut para penulis sebagai berikut:
·
Ellen
A Benowitz, “motivasi kerja adalah kekuatan yang menyebabkan individu bertindak
dengan cara tertentu. Orang punya motivasi tinggi akan lebih giat bekerja, sementara
yang rendah sebaliknya.”
·
John
R. Schemerhorn, “motivasi kerja yaitu mengacu pada pendorong di dalam
individu yang berpengaruh atas tingkat, arah dan gigihnya upaya seseorang dalam
pekerjaannya.”
·
George
R. Terry, “motivasi kerja adalah suatu keinginan dalam diri seseorang yang
mendorongnya untuk bertindak sesuatu”.
·
Dr.
Sondan P. Siagia, MPA, “motivasi kerja merupakan keseluruhan proses pemberian
motif bekerja para bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan
ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis”.
·
Wahjosumadjo,
“motivasi kerja merupakan suatu proses psikologis yang mencerminkan interaksi
antara sikap kebutuhan persepsi dan kepuasan yang terjadi pada diri seseorang
Berdasarkan
beberapa pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan, bahwa motivasi kerja
adalah dorongan yang tumbuh dalam diri seseorang, baik yang berasal dari dalam
dan luar dirinya untuk melakukan suatu pekerjaan dengan semangat tinggi
menggunakan semua kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya.[6]
Sikap
dan motivasi merupakan bagian yang saling berkaitan dalam keseluruhan
organisasi kepribadian individu. Sikap dan motivasi memiliki hubungan yang
timbal balik dan akan menunjukkan kecenderungan berperilaku untuk memenuhi
tercapainya pemuas kebutuhan. Dalam motivasi untuk memenuhi kebutuhan karakter
yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha yaitu:
Pekerja keras (Hard
Worker).
1)
Tidak
pernah menyerah (Never Surrender).
2)
Memiliki
semangat (Spirit).
3)
Memiliki
komitmen (Commited) yang tinggi.[7]
B.
Tujuan dan Fungsi Motivasi
Secara
umum tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar
timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat
memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Menurut Oemar Hamalik fungsi
motivasi yaitu :
1)
Motivasi
mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi tidak akan
timbul perbuatan seperti belajar.
2)
Motivasi
sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang
diinginkan
3)
Sebagai
penggerak, ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan
menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.[8]
C.
Peranan Motivasi dalam
Kehidupan
Allah berfirman dalam Al-Quran:
3... cÎ) ©!$#
w
çÉitóã $tB BQöqs)Î/
4Ó®Lym
(#rçÉitóã
$tB öNÍkŦàÿRr'Î/ 3 ...
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak
mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Ar-Ra’d: 11)
Dari
ayat di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ternyata motivasi yang paling
kuat adalah dari diri seseorang. Motivasi sangat berpengaruh dalam gerak-gerik
seseorang dalam setiap tindak-tanduknya. Dalam kaitannya dengan tingkah laku
keagamaan motivasi tersebut penting untuk dibicarakan dalam rangka mengetahui
apa sebenarnya latar belakang suatu tingkah laku keagaman yang dikerjakan
seseorang. Disini peranan motivasi itu sangat besar artinya dalam
bimbingan dan mengarahkan seseorang terhadap tingkah laku keagamaan. Namun
demikian ada motivasi tertentu yang sebenarnya timbul dalam diri manusia
karena terbukanya hati manusia terhadap hidayah Allah. Sehingga orang tersebut
menjadi orang yang beriman dan kemudian dengan iman itulah ia lahirkan tingkah
laku keagamaan.[9]
Ada
beberapa peran motivasi dalam kehidupan manusia sangat banyak, diantaranya:
1)
Motivasi
sebagai pendorong manusia dalam melakukan sesuatu, sehingga menjadi unsur
penting dan tingkah laku atau tindakan manusia
2)
Motivasi
bertujuan untuk menentukan arah dan tujuan
3)
Motivasi
berpungsi sebagai penguji sikap manusia dalam beramal benar atau salah sehingga
bisa dilihat kebenarannya dan kesalahanya
4)
Motivasi
berfungsi sebagai penyeleksi atas perbuatan yang akan dilakukan oleh manusia
baik atau buruk. Jadi motivasi itu berfungsi sebagai pendorong, penentu,
penyeleksi dan penguji sikap manusia dalam kehidupanya.
Dan
diantara 4 diatas yang paling dominan adalah peran motivasi yang pertama.
D.
Pentingnya Motivasi Kerja
Adanya motivasi kerja ternyata berpengaruh besar terhadap
kesuksesan seseorang. Motivasi kerja merupakan dorongan dari dalam diri
seseorang yang membuatnya tergerak untuk mau melakukan berbagai kegiatan
produktif, sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri
maupun orang lain. Adanya motivasi kerja yang timbul dari dalam diri ternyata
berpengaruh besar terhadap kesuksesan seseorang. Seseorang tidak akan berhasil
meraih kesuksesan, tanpa adanya dorongan motivasi yang diikuti dengan kemauan
serta tekad yang kuat untuk bekerja keras. Karena untuk memperoleh hasil yang
memuaskan dibutuhkan adanya proses dan perjuangan yang cukup panjang.
Orang-orang yang sukses dalam karir adalah mereka yang
memiliki motivasi kerja. Jika seseorang yang memiliki keterampilan begitu
memukau, artinya dia memiliki motivasi tinggi untuk menguasai keterampilan itu.
Jika seseorang yang mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan cepat,
artinya dia memiliki motivasi kerja yang tinggi. Termasuk mereka yang selalu disiplin
bekerja, karena motivasi kerjanya yang luar biasa.
Motivasi
kerja bisa naik turun bahkan tak jarang hilang sama sekali. Kehilangan
motivasi kerja bisa disebabkan karena kita kekurangan alasan mengapa harus
bekerja misalnya karena kita tidak ada lagi motivasi untuk hidup.
Hidup tentu mampunyai arti yang luas, bukan sekedar bernafas saja. Hidup
menjadi lebih hidup ketika seseorang hidup seleranya, cita-citanya,
semangatnya, tenaganya, visinya, bisnisnya, amalannya, kontribusinya pada
sesama dan banyak lagi. Kehilangan motivasi kerja dalam arti luas berarti
seperti kehilangan motivasi hidup dalam arti luas pula, jika kehilangan
motivasi kerja dalam waktu yang lama maka resikonya dalam jangka panjang adalah
mati. Kalau sekali waktu kehilangan motivasi hidup dalam waktu pendek misalnya
sejam dua jam atau sehari dua hari itu normal saja, namun kehilangan motivasi
kerja tersebut tetaplah penyakit yang perlu disembuhkan.
E.
Ayat-ayat Al Qur’an dan Hadis yang Berkaitan dengan Motivasi Kerja
Perintah bekerja telah Allah wajibkan semenjak
nabi yang pertama, Adam Alaihi Salam sampai nabi yang terakhir, Muhammmad SAW .
Perintah ini tetap berlaku kepada semua orang tanpa membeda-bedakan pangkat,
status dan jabatan seseorang. Berikut ini akan di nukilkan beberapa dalil dari
Al-Qur’an dan Sunnah tentang kewajiban bekerja.
1.
Al-Qashash ayat 77
Æ÷tGö/$#ur !$yJÏù 9t?#uä ª!$# u#¤$!$# notÅzFy$# ( wur [Ys? y7t7ÅÁtR ÆÏB $u÷R9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJ2 z`|¡ômr& ª!$# øs9Î) ( wur Æ÷ö7s? y$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# ( ¨bÎ) ©!$# w =Ïtä tûïÏÅ¡øÿßJø9$# ÇÐÐÈ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan)
duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat
baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Pada ayat
ini Allah SWT menerangkan empat macam nasihat dan petunjuk yang ditujukan
kepada Qarun oleh kaumnya. Barangsiapa mengamalkan nasihat dan petunjuk
itu akan memperoleh kesejahteraan di dunia dan di akhirat kelak.[10]
a) Orang yang
dianugerahi oleh Allah SWT kekayaan yang berlimpah-limpah, perbendaharaan harta
yang bertumpuk-tumpuk serta nikmat yang banyak, hendaklah ia memanfaatkan di
jalan Allah, patuh dan taat pada perintah-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya
untuk memperoleh pahala sebanyak-banyaknya di dunia dan di akhirat. Sabda Nabi
saw :
Artinya: “Manfaatkan
yang lima sebelum datang (lawannya) yang lima; mudamu sebelum tuanmu, sehatmu
sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu senggangmu sebelum kesibukanmu
dan hidupmu sebelum matimu. (H.R. Baihaki dari Ibnu Abbas)
b) Janganlah
seseorang itu meninggalkan sama sekali kesenangan dunia baik berupa makanan,
minuman dan pakaian serta kesenangan-kesenangan yang lain sepanjang tidak
bertentangan dengan ajaran yang telah digariskan oleh Allah SWT, karena baik
untuk Tuhan, untuk diri sendiri maupun keluarga, semuanya itu mempunyai hak
atas seseorang yang harus dilaksanakan. Sabda Nabi Muhammad saw :
Artinya: “Kerjakanlah (urusan) duniamu
seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya. Don laksanakanlah amalan akhiratmu
seakan-akan kamu akan mati besok.” (H.R. Ibnu Asakir)
c) Seseorang
harus berbuat baik sebagaimana Allah SWT berbuat baik kepadanya, membantu
orang-orang yang berkeperluan, pembangunan mesjid, madrasah,
pembinaan rumah yatim piatu di panti asuhan dengan harta yang dianugerahkan
Allah kepadanya dan dengan kewibawaan yang ada padanya, memberikan senyuman
yang ramah tamah di dalam perjumpaannya dan lain sebagainya.
d) Janganlah
seseorang itu berbuat kerusakan di atas bumi, berbuat jahat kepada sesama
makhluk Allah, karena Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan. Allah SWT tidak akan menghormati mereka, bahkan Allah tidak
akan memberikan rida dan rahmat-Nya.
2.
Al-Jumu’ah ayat 9-10
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) ÏqçR Ío4qn=¢Á=Ï9 `ÏB ÏQöqt ÏpyèßJàfø9$# (#öqyèó$$sù 4n<Î) Ìø.Ï «!$# (#râsur yìøt7ø9$# 4 öNä3Ï9ºs ×öyz öNä3©9 bÎ) óOçGYä. tbqßJn=÷ès? ÇÒÈ
#sÎ*sù ÏMuÅÒè% äo4qn=¢Á9$# (#rãϱtFR$$sù Îû ÇÚöF{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.ø$#ur ©!$# #ZÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÉÈ
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk
menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan
tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui (9). Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di
muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya
kamu beruntung.(10)
Maksudnya,
apabila imam naik maimbar dan muazzin telah azan di hari jumu’at, maka kaum
muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muazzin itu dan meninggalkan semua
pekerjaannya.
Tafsirnya,
seruan Allah terhadap orang-orang beriman atau umat Islam yang telah memenuhi
syarat-syarat sebagai mukallaf untuk untuk melaksanakan sholat jumu’at umat
Islam diwajibkan untuk meninggalkan segala pekerjaannya, seperti menuntut ilmu
dan jual beli. Umat islam yang memenuhi sruan Allah tersebut tentu akan
memperoleh banyak hikmah.
Umat
Islam yang telah selesai menunaikan sholat diperintahkan Allah untuk berusaha
atau bekerja agar memperoleh karunia-Nya, seperti ilmu pengetahuan, harta
benda, kesehatan dan lain-lain. Dimana pun dan kapanpun kaum muslimin berada
serta apapun yang mereka kerjakan, mereka dituntut oleh agamanya agar selalu
mengingat Allah. Mengacu kepada QS al-Jumuah 9-10 umat Islam diperintahkan oleh
agamanya agar senantiasa berdisiplin dalam menunaikan ibadah wajib seperti
sholat, dan selalu giat berusaha atau bekerja sesuai dengan nilai-nilai Islam
seperti bekerja keras dan belajar secara sungguh-sungguh. [11]
Selain
berisikan perintah melaksanakan sholat jumu’at juga memerintahkan setiap umat
Islam untuk berusaha atau bekerja mencari rezeki sebagai karunia Allah SWT.
Ayat ini memerintahkan manusia untuk melakukan keseimbangan antara kehidupan di
dunia dan mempersiapakan untuk kehidupan di akhirat kelak. Caranya, selain
selalu melaksanakan ibadah ritual, juga giat bekerja memenuhi kebutuhan hidup.[12]
3.
An-Nisaa ayat 32
wur (#öq¨YyJtGs? $tB @Òsù ª!$# ¾ÏmÎ/ öNä3Ò÷èt/ 4n?tã <Ù÷èt/ 4 ÉA%y`Ìh=Ïj9 Ò=ÅÁtR $£JÏiB (#qç6|¡oKò2$# ( Ïä!$|¡ÏiY=Ï9ur Ò=ÅÁtR $®ÿÊeE tû÷ù|¡tGø.$# 4 (#qè=t«óur ©!$# `ÏB ÿ¾Ï&Î#ôÒsù 3 ¨bÎ) ©!$# c%2 Èe@ä3Î/ >äó_x« $VJÎ=tã ÇÌËÈ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang
dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang
lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka
usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka
usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya
Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
Allah
telah membebani kaum lelaki dan wanita dengan berbagai pekerjaan. Masing-
masing keduanya tidak boleh iri terhadap apa yang telah dikhususkan bagi yang
lainnya. Allah telah mengkhususkan pekerjaan- pekerjaan rumah bagi kaum wanita
dan pekerjaan- pekerjaan berat di luar rumah bagi kaum lelaki, agar masing-
masing dapat menekuni pekerjaannya sendiri dan mengerjakan kewajibannya dengan
ikhlas.
Hendaknya
masing-masing memohon pertolongan dan kekuatan kepada Rabb-nya dalam
melaksanakan pekerjaan yang dibebankan kepadanya, dan jangan iri hati terhadap
apa yang dibebankan kepada pihak lain. Termasuk kedalam larangan ini adalah iri
hati terhadap segala perkara yang sifatnya khilqiyyah (ciptaan),
separti akal, keindahan, karena tidak ada gunanya iri hati terhadapnya bagi
orang yang tidak diberi hal itu. Tidak termasuk kedalam larangan ini adalah
perkara-perkara yang menyangkut mata pencarian, karena seseorang diuji untuk
melihat apa yang telah diperoleh orang lain, lalu berangan-angan seperti dia,
atau lebih baik dari padanya.dengan berusah dan bersungguh-sungguh.
Ringkasnya
Allah Ta’ala meminta kita agar mengalihkan pandangan kepada apa yang ada dalam
kemampuan kita, bukan ada pada apa yang berada diluar kemampuan kita.
Sesungguhnya keutamaan terletak pada usaha dan kerja. Oleh karena itu,
janganlah kalian berangan-angan sesuatu tanpa usaha dan kerja kalian. Demikian
dikatakan oleh Muhammad Abduh.
Dalam
memenuhi segala tuntutannya, hendaknya seorang muslim bersandar kepada potensi-
potensi dan kekuatan-kekuatannya dengan bersungguh- sungguh sambil mengharap
karunia Allah dalam perkara- perkara yang tidak dapat dicapai dengan usahanya.
Dengan
demikian, Allah melebihkan sebagian manusia atas sebagian yang lain sesuai
dengan tingkatan kesiapan mereka dan perbedaan kesanggupan mereka didalam
mengetahui kesanggupan mereka dalam menggeluti kehidupan. Selagi orang-
orang yang bekerja memohon tambahan kepada-Nya, maka dia akan tetap
menurunkan kemurahan dan karunia-Nya kepada mereka, yang dengan mereka menjadi
lebih dibanding dengan orang-orang yang malas. Demikianlah, hingga perbedaan
karunia di antara manusia benar-benar sangat jauh. Hampir-hampir perbedaan
antar bangsa-bangsa lebih jauh dibanding perbedaan antar sebagian hewan dan
sebagian manusia.
4.
Al-Baqarah ayat 152
þÎTrãä.ø$$sù öNä.öä.ør& (#rãà6ô©$#ur Í< wur Èbrãàÿõ3s? ÇÊÎËÈ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya
aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu
mengingkari (nikmat)-Ku.”
“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat (pula) kepadamu”, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk mengingat-Nya, dan menjanjikan
kepadanya sebaik-baik balasan yaitu bahwa Allah SWT akan mengingatnya pula bagi
orang-orang yang ingat kepada-Nya, sebagaimana yang disabdakan dari lisan Rasul-Nya
SAW:
“Barangsiapa yang menyebut (mengingat)Ku pada dirinya niscaya Aku akan
mengingatnya pada diriKu, dan barangsiapa yang menyebut (mengingat)Ku pada
khalayak ramai, niscaya Aku akan mengingatnya pula pada khalayak ramai yang
lebih mulia dari mereka”. (HR. Al-Bukhari No.
7405 dan Muslim No. 2675, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)
Dzikir kepada Allah SWT yang paling istimewa adalah dzikir yang
dilakukan dengan hati dan lisan, yaitu dzikir yang menumbuhkan ma’rifat kepada
Allah SWT, kecintaan kepada-Nya dan menghasilkan ganjaran yang banyak dariNya.
Dzikir adalah puncaknya rasa syukur, oleh karena itu Allah SWT memerintahkan
hal itu secara khusus, kemudian memerintahkan untuk bersyukur secara umum
“Dan bersyukurlah kepadaKu”, maksudnya terhadap
apa yang telah Aku nikmatkan kepada kalian dengan nikmat-nikmat tersebut dan
Aku jauhkan dari kalian berbagai macam kesulitan. Syukur itu dilakukan dengan
hati berupa pengakuan atas nikmat yang didapatkan, dengan lisan berupa dzikir
dan pujian, dan dengan anggota tubuh berupa ketaatan kepada Allah SWT serta
kepatuhan terhadap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Syukur itu
menyebabkan kelanggengan nikmat yang telah didapatkan dan menambah kenikmatan
yang belum didapatkan.
Dengan adanya perintah untuk bersyukur setelah kenikmatan agama seperti
ilmu dan penyucian akhlak serta taufik kepada pengamalan merupakan penjelasan
bahwa hal itu adalah sebesar-besarnya kenikmatan, bahkan dia adalah kenikmatan
yang sebesarnya yang akan selalu eksis bila yang lainnya lenyap. Dan seyogyanya
bagi orang yang diberikan taufik kepada ilmu dan amal agar bersyukur kepada
Allah atas semua itu, agar Allah SWT menambahkan nikmat-Nya dan menghindarkan
dirinya dari rasa bangga diri hingga akhirnya dia hanya sibuk dengan bersyukur.
Dan ketika kebalikan dari rasa syukur adalah pengingkaran maka, Allah SWT
melarang pengingkaran tersebut seraya berfirman (yang artinya), “Dan
janganlah kamu mengingkari nikmatKu”, maksud dari pengingkaran disini
adalah suatu hal yang bertolak dengan bersyukur yaitu ingkar terhadap
kenikmatan yang diberikan dan menampiknya serta tidak bersyukur kepadaNya.
5.
Saba ayat 39
ö@è% ¨bÎ) În1u äÝÝ¡ö6t s-øÎh9$# `yJÏ9 âä!$t±o ô`ÏB ¾ÍnÏ$t7Ïã âÏø)tur ¼çms9 4 !$tBur OçFø)xÿRr& `ÏiB &äóÓx« uqßgsù ¼çmàÿÎ=øä ( uqèdur çöyz úüÏ%κ§9$# ÇÌÒÈ
“Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku
melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan
menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". dan barang apa saja yang
kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang
sebaik-baiknya.”
Pada
ayat ini Allah menegaskan sekali lagi bahwa Dia melapangkan rezeki bagi siapa
yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya bagi yang dikehendaki-Nya, dengan
hikmah kebijaksanaa-Nya. barang siapa yang disempitkan Allah rezekinya
janganlah terlalu bersedih hati, hendaklah ia menghadapinya dengan tabah dan
sabar tetap berusaha serta tawakal siapa tahu dalam waktu yang tidak begitu
lama Allah akan. memberinya kelapangan, dengan demikian akan hilanglah
kesulitan dan kepahitan yang dideritanya.
Sebaliknya
bagi seseorang diberi Allah kelapangan dan harta kekayaan yang banyak janganlah
takabur dan sombong dengan kekayaan itu. Hendaklah dia mempergunakan harta itu
untuk hal-hal yang diridai Allah dan janganlah ia sekali-kali bersifat kikir
dengan harta itu sampai tidak mau menafkahkannya ke jalan yang bermanfaat untuk
masyarakatnya, dan menghardik orang miskin yang meminta pertolongan kepadanya
karena hal seperti itu sangat dibenci Allah bahkan dianggapnya sebagai tindakan
mendustakan agama-Nya
Janganlah
seseorang menyangka bahwa harta yang dinafkahkannya itu akan hilang sia-sia.
Allah pasti akan menggantinya dengan pahala berlipat ganda kalau tidak di dunia
ini di akhirat pasti ia akan menerima ganjaran sampai beratus-ratus kali lipat.
Bagi Allah menggantikan harta orang yang suka beramal dan berbuat baik adalah
mudah, karena Dia sebaik-baiknya pemberi rezeki.
Rasulullah bersabda:
Rasulullah bersabda:
Artinya:
“Pada setiap pagi ada dua malaikat yang turun kepada hamba Allah, yang
seorang berdoa. Ya Allah berikanlah kepada orang yang suka menafkahkan
hartanya, ganti dari harta yang dinafkahkannya. Dan seorang lagi berdoa pula:
Ya Allah timpakanlah kepada orang yang kikir dan tidak mau menafkahkannya
kemusnahan harta itu.” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)”
6.
Ar.Ra’d ayat 26
ª!$# äÝÝ¡ö6t s-øÎh9$# `yJÏ9 âä!$t±o âÏø)tur 4 (#qãmÌsùur Ío4quysø9$$Î/ $u÷R9$# $tBur äo4quysø9$# $u÷R9$# Îû ÍotÅzFy$# wÎ) Óì»tFtB ÇËÏÈ
“Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia
kehendaki. mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, Padahal kehidupan dunia
itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).”
Allah
melapangkan dan memperbanyakkan rezeki bagi sebagian hamba-Nya yang
dikehendaki-Nya, sehingga mereka ini memperoleh rezeki yang lebih dari
keperluan mereka sehari-hari. Mereka ini biasanya adalah orang-orang yang rajin
dan terampil dalam mencari harta, dan melakukan bermacam-macam usaha.Selain
itu, mereka ini hemat dan cermat serta pandai mengelola dan mempergunakan harta
bendanya itu.
Sebaliknya,
Allah swt. juga menyempitkan rezeki dan membatasinya bagi sebagian hamba-Nya
sehingga rezeki yang mereka peroleh tidak lebih dari apa yang diperlukan
sehari-hari. Mereka ini biasanya adalah orang-orang yang pemalas dan tidak
terampil dalam mencari harta atau tidak pandai mengelola dan mempergunakan
harta tersebut.
Allah
melapangkan dan menyempitkan rezeki hamba-Nya itu adalah berdasarkan hikmah-Nya
serta pengetahuan-Nya tentang masing-masing hamba-Nya itu. Dan kedua hal
tersebut tidak ada hubungannya dengan kadar keimanan dan kekafiran hamba-Nya.
Sebab itu, ada kalanya Allah swt. menganugerahkan rezeki yang banyak kepada
hamba-Nya yang kafir kepada-Nya. Dan sebaliknya kadang-kadang Allah
menyempitkan rezeki bagi hamba yang beriman kepada-Nya untuk menambah pahala
yang kelak akan mereka peroleh di akhirat. Maka kekayaan dan kemiskinan itu
adalah dua hal yang dapat terjadi pada orang-orang beriman maupun yang kafir,
yang saleh atau pun yang fasik.
Dalam ayat selanjutnya Allah menceritakan bahwa kaum musyrik Mekah yang suka memungkiri janji Allah, sangat bergembira dengan banyaknya harta benda yang mereka miliki, dan kehidupan duniawi yang berlimpah-limpah, dan mengira bahwa harta benda tersebut merupakan nikmat dan keberuntungan terbesar.
Oleh sebab itu, pada akhir ayat ini Allah menunjukkan kekeliruan mereka, dan Dia menegaskan bahwa kenikmatan hidup duniawi ini hanyalah merupakan kenikmatan yang kecil artinya. Pendek waktunya dan cepat hilangnya, dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat yang besar nilainya dan lama masanya. Oleh karenanya tidaklah pada tempatnya bila mereka bangga dengan kenikmatan di dunia yang mereka rasakan itu.
Dalam ayat selanjutnya Allah menceritakan bahwa kaum musyrik Mekah yang suka memungkiri janji Allah, sangat bergembira dengan banyaknya harta benda yang mereka miliki, dan kehidupan duniawi yang berlimpah-limpah, dan mengira bahwa harta benda tersebut merupakan nikmat dan keberuntungan terbesar.
Oleh sebab itu, pada akhir ayat ini Allah menunjukkan kekeliruan mereka, dan Dia menegaskan bahwa kenikmatan hidup duniawi ini hanyalah merupakan kenikmatan yang kecil artinya. Pendek waktunya dan cepat hilangnya, dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat yang besar nilainya dan lama masanya. Oleh karenanya tidaklah pada tempatnya bila mereka bangga dengan kenikmatan di dunia yang mereka rasakan itu.
7.
Ath- Thalaaq ayat 7
÷,ÏÿYãÏ9 rè 7pyèy `ÏiB ¾ÏmÏFyèy ( `tBur uÏè% Ïmøn=tã ¼çmè%øÍ ÷,ÏÿYãù=sù !$£JÏB çm9s?#uä ª!$# 4 w ß#Ïk=s3ã ª!$# $²¡øÿtR wÎ) !$tB $yg8s?#uä 4 ã@yèôfuy ª!$# y÷èt/ 9ô£ãã #Zô£ç ÇÐÈ
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah
menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi
nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban
kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah
kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”
Dengan
panggalan ayat ini jelaslah bahwa seorang suami wajib memberi nafkah atau
perbelanjaan untuk isterinya, menurut kemampuannya. Jika ia orang yang mampu
berikanlah menurut kemampuan. Dan orang yang terbatas rezekinya, yaitu orang
yang terhitung tidak mampu. Mereka yang berkemampuan terbatas itu pun juga
wajib memebrikan nafkah menurut keterbatasannya. Dan Allah menunjukkan kasih
sayang dan pengahrapan yang tidak putus-putusnya bagi orang yang beriman.
Itulah sebabnya pada tiap ayatdiperingatkan supaya kehidupan berumahtangga
dipatrikan dengan takwa kepada Allah.
Terdapat
beberapa hadits shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menerangkan
keutamaan berdagang dan bekerja dengan jalan yang halal. Diantaranya:
Dari
Al-Miqdam radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ
عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ
يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِه
“Tidaklah
seseorang mengkonsumsi makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan
dari jerih payah tangannya sendiri. Dan sesungguhnya nabi Daud ‘alaihissalam
dahulu senantiasa makan dari jerih payahnya sendiri.” (HR. Bukhari, Kitab al-Buyu’, Bab Kasbir Rojuli wa ‘Amalihi
Biyadihi II/730 no.2072).
Dan
di dalam riwayat lain, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
ما كسب الرجل كسباً أطيب من عمل يده، وما أنفق الرجل على نفسه وأهله
وولده وخادمه فهو صدقة
“Tidaklah
seseorang memperoleh suatu penghasilan yang lebih baik dari jerih payah
tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahi dirinya, istrinya, anaknya
dan pembantunya melainkan ia dihitung sebagai shodaqoh.” (HR. Ibnu Majah di dalam As-Sunan, Kitab At-Tijaroot Bab
Al-Hatstsu ‘Ala Al-Makasibi, no.2129. al-Kanani berkata, ‘Sanadnya Hasan’,
Lihat Mishbah Az-Zujajah III/5).
Dari
Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam
bersabda:
التاجر الصدوق الأمين مع النبيين والصديقين والشهداء
“Pedagang
yang senantiasa jujur lagi amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang
selalu jujur dan orang-orang yang mati syahid.” (HR. Tirmidzi, Kitab Al-Buyu’ Bab Ma Ja-a Fit Tijaroti no.
1130)
Dari
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda:
إن أطيب الكسب كسب التجار الذي إذا حدثوا لم يكذبوا و إذا ائتمنوا لم
يخونوا و إذا وعدوا لم يخلفوا و إذا اشتروا لم يذموا و إذا باعوا لم يطروا و إذا
كان عليهم لم يمطلوا و إذا كان لهم لم يعسروا.
“Sesungguhnya
sebaik-baik penghasilan ialah penghasilan para pedagang yang mana apabila
berbicara tidak bohong, apabila diberi amanah tidak khianat, apabila berjanji
tidak mengingkarinya, apabila membeli tidak mencela, apabila menjual tidak
berlebihan (dalam menaikkan harga), apabila berhutang tidak menunda-nunda
pelunasan dan apabila menagih hutang tidak memperberat orang yang sedang
kesulitan.” (Diriwayatkan
oleh Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, Bab Hifzhu Al-Lisan IV/221).
Dari
Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ada seseorang bertanya,
“Penghasilan apakah yang paling baik, Wahai Rasulullah?” Beliau jawab:
عمل الرجل بيده
وكل بيع مبرور
“Penghasilan
seseorang dari jerih payah tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad di dalam Al-Musnad no.16628)
Dan
sejarah kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun menunjukkan bahwa
beliau dan sebagian para sahabatnya adalah para pedagang professional.
Beberapa
pelajaran penting dan faedah ilmiyah yang terkandung di dalam hadits-hadits di
atas:
1.
Agama Islam agama yang paling sempurna dalam segala hal. Diantara bukti
kesempurnaan agama Islam dan rahmatnya bagi alam semesta, syariatnya
menganjurkan kepada umatnya agar bekerja dan berbisnis dengan jalan yang benar
dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya. Karena tiada
suatu perkara pun yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya melainkan perkara
tersebut akan mendatangkan bencana dan mudharat bagi para pelakunya.
2.
Berdagang merupakan salah satu profesi yang sangat mulia dan utama selagi
dijalankan dengan jujur dan sesuai dengan aturan serta tidak melanggar
batas-batas syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya di dalam
Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah.
3.
Hendaknya seorang pengusaha membekali dirinya dengan bekal keimanan dan ilmu
syar’i, khususnya yg berkaitan dengan fikih muamalah dan bisnis agar bisa
menjadi pengusaha yang baik dan benar serta tidak terjerumus dalam hal-hal yang
haram.
4.
Hendaknya seorang pengusaha menghiasi dirinya dengan akhlak islami yang mulia
seperti jujur, pemurah, amanah, kasih sayang, dsb, sebagaimana yg diajarkan dan
dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
5.
Seorang pengusaha hendaknya melandasi bisnis dan perniagaannya dengan niat yg
baik dan ikhlas karena Allah, agar profesi yg dijalankannya mendatangkan pahala
dan keridhoan dari Allah karena bernilai ibadah yg agung.
6.
Penghasilan yg diperoleh dari perniagaan dan pekerjaan lainnya akan mengandung
berkah dan manfaat yg banyak jika diperoleh dengan jalan yg baik dan benar
serta diinfaqkan dan dikeluarkan zakatnya (jika tlh terpenuhi syarat wajib
zakat) dan diinfaqkan di jalan yg Allah ridhoi.
7.
Bisnis dan profesi apapun beserta keuntungannya akan menjadi musibah dan petaka
bagi pelakunya di dalam kehidupan dunia dan akhirat jika dilakukan dengan
cara-cara yg diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Apalagi di sana terdapat
beberapa hadits dari nabi shallallahu alaihi wasallam yang menunjukkan celaan
bagi sebagian para pedagang atau pelaku bisnis. Di dalam hadits yg shohih, Nabi
shallallahu alaihi wasallam bersabda:
)إن التجار
يبعثون يوم القيامة فجارا إلا من اتقى الله وبر وصدق(
“Sesungguhnya
para pedagang (pengusaha) akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai para
penjahat kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur.” (HR. Tirmidzi, Kitab Al-Buyu’ Bab Ma Ja-a Fi At-Tujjar no.1131)
BAB III
PENUTUP
Motivasi kerja adalah dorongan
yang tumbuh dalam diri seseorang, baik yang berasal dari dalam dan luar dirinya
untuk melakukan suatu pekerjaan dengan semangat tinggi menggunakan semua
kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya.
Kaitan motivasi kerja dengan unjuk kerja dapat diungkapkan sebagai berikut:
unjuk kerja (performance)adalah hasil interaksi antara motivasi
kerja, kemampuan (abilities),dan peluang (opportunities),
dengan kata lain unjuk kerja adalah fungsi dari motivasi kerja kali kemampuan
kali peluang.
Tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang
agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat
memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu
Peranan motivasi dalam kehidupan dan bekerja begitu sangat penting
bagi manusia untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Allah menyuruh hambanya
untuk bekerja secara halal seperti firmannya di dalam al-Qur’an, serta sabda
Rasulullah saw yang berkaitan mengenai mencari rejeki.
DAFTAR PUSATAKA
Hamalik,
Oemar. 1992. Psikologi Belajar
Mengajar. Bandung, Sinar Baru.
Ilmy, Bachrul.
2006. Pendidikan
Agama Islam. Bandung. Grafindo.
Indonesia, Kamus Besar Bahasa. 1997. Jakarta: Tim Pustaka Phoenix.
James,
Fremot. E. kast dan E. Rosenzweig. 1990. Organisasi dan Manajemen.
Jakarta: Bumi Aksara.
Ramayulis.
2000. Psikolgi Agama. Jakarta:
Kalam Mulia.
Suryana,
Yuyus & Kartib Bayu. 2010. Kewirausahaan: Pendekatan Karakteristi
Wirausaha Sukses. Jakarta: Kencana
Syamsuri. 2004. Pendidikan Agama Islam untuk SMA
XII. Jakarta: Erlangga.
http://resthoe.blogspot.com/2012/12/pengertian-kerja.html
http://jeffy-louis.blogspot.com/2012/04/makalah-motivasi-kerja.html
http://abufathirabbani.blogspot.com/2012/05/pendidikan-akhlakmoral-dalam.html
[1] Kamus Besar
Bahasa Indonesia, (Jakarta: Tim Pustaka Phoenix, 1997), hlm. 103.
[2] http://resthoe.blogspot.com/2012/12/pengertian-kerja.html
[3]
http://jeffy-louis.blogspot.com/2012/04/makalah-motivasi-kerja.html
[5] Yuyus
Suryana & Kartib Bayu, Kewirausahaan:
Pendekatan Karakteristi Wirausaha Sukses (Jakarta: Kencana, 2010), hlm.
86-87
[6] Fremot. E.
kast James dan E. Rosenzweig, Organisasi dan Manajemen (Jakarta: Bumi
Aksara, 1990)
[7] Yuyus
Suryana & Kartib Bayu, Op.cit, Hlm.
89-90.
[8] Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar (Bandung,
Sinar Baru. 1992) hlm. 55
[9] Ramayulis, Psikolgi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2000),
hlm. 100
[10]
http://abufathirabbani.blogspot.com/2012/05/pendidikan-akhlakmoral-dalam.html
[11] Syamsuri, Pendidikan
Agama Islam untuk SMA XII (Jakarta: Erlangga, 2004), hlm. 25
[12] Bachrul Ilmy, Pendidikan
Agama Islam (Bandung. Grafindo, 2006) hlm 15.


0 comments:
Posting Komentar
Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.